123Berita – 21 April 2026 | Ketegangan memuncak pada laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Bhayangkara Presisi Lampung FC dan Dewa United Banten FC setelah seorang pemain Dewa United melancarkan tendangan yang menyerupai gerakan kungfu. Insiden ini tidak hanya mengganggu alur pertandingan, tetapi juga memicu perdebatan sengit di kalangan pelatih, ofisial, dan penggemar sepak bola muda.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora Banten pada Minggu malam itu awalnya berjalan normal. Kedua tim saling menyerang dengan intensitas tinggi, memanfaatkan peluang demi peluang. Namun, pada menit ke-27, ketika pemain sayap kanan Dewa United berusaha menghalau serangan lawan, ia tiba-tiba melakukan tendangan tinggi dengan teknik yang tidak lazim—sebuah tendangan memutar yang menyerupai gerakan seni bela diri.
Wasit langsung menghentikan permainan dan memberi peringatan kepada pemain tersebut. Namun, aksi tersebut sudah cukup untuk menimbulkan kegaduhan di antara pemain lawan, yang menganggap gerakan itu sebagai bentuk ancaman fisik. Bhayangkara Presisi Lampung FC mengajukan protes resmi kepada panitia EPA, menuntut tindakan disiplin yang tegas terhadap pemain Dewa United.
Setelah insiden, Komisi Disiplin EPA melakukan evaluasi. Dalam pernyataannya, komisi menegaskan bahwa aturan pertandingan melarang segala bentuk tindakan yang dapat menimbulkan bahaya bagi pemain lain, termasuk gerakan yang tidak sesuai dengan standar sepak bola. Komisi berjanji akan meninjau video rekaman secara mendetail untuk menentukan sanksi yang tepat.
Pemain Dewa United yang menjadi sorotan ternyata memiliki latar belakang olahraga lain. Sebelum bergabung dengan tim U-20, ia pernah berlatih seni bela diri tradisional di kota asalnya, dan dikenal karena kemampuan fisik yang luar biasa. Meskipun keahliannya tersebut menambah nilai plus dalam hal kebugaran, penggunaan gerakan tersebut di lapangan menimbulkan pertanyaan tentang batas antara kreativitas dan pelanggaran aturan.
Pelatih Dewa United, Budi Santoso, memberikan klarifikasi pasca pertandingan. Ia menyatakan bahwa tendangan tersebut tidak dimaksudkan sebagai tindakan agresif, melainkan sebagai upaya spontan untuk menghindari tekanan lawan. “Kami menghargai semangat kompetitif, namun kami juga menegaskan pentingnya menjaga sportivitas. Kami akan memberikan edukasi tambahan kepada pemain tentang batasan teknik yang diperbolehkan,” ujar Budi.
Sementara itu, pelatih Bhayangkara Presisi Lampung, Andi Prasetyo, menilai insiden tersebut sebagai pelanggaran serius. “Kami menuntut penegakan hukum yang adil. Sepak bola adalah olahraga yang mengedepankan kerjasama dan rasa hormat. Tindakan seperti itu tidak dapat dibiarkan,” ujarnya dengan tegas.
Reaksi publik di media sosial pun beragam. Sebagian mengkritik keras pemain Dewa United, menilai aksi tersebut mengancam keselamatan rekan setim dan lawan. Namun, ada pula yang memuji keberanian pemain dalam menampilkan teknik unik, menganggapnya sebagai bentuk ekspresi kreativitas dalam olahraga.
Insiden ini menimbulkan diskusi lebih luas mengenai regulasi EPA terkait penggunaan gerakan non‑konvensional. Beberapa analis sepak bola menyarankan agar komite menambahkan klarifikasi khusus mengenai tindakan yang terinspirasi dari seni bela diri, guna mencegah interpretasi yang ambigu di masa depan.
Dalam beberapa hari ke depan, hasil keputusan komisi disiplin diharapkan dapat memberikan contoh tegas bagi semua tim EPA U-20. Sanksi yang dijatuhkan, baik berupa peringatan, denda, atau skorsing, akan menjadi patokan bagi pemain muda dalam menyeimbangkan kreativitas teknis dan kepatuhan terhadap peraturan.
Kasus ini juga menjadi pelajaran penting bagi akademi sepak bola dalam mengintegrasikan latar belakang atletik yang beragam. Pelatihan yang menekankan pada pemahaman aturan serta pengendalian emosi di lapangan menjadi kunci untuk menghindari insiden serupa.
Dengan demikian, Insiden EPA U-20 tidak hanya menjadi sorotan karena aksi spektakuler, tetapi juga karena dampaknya terhadap tata kelola kompetisi muda di Indonesia. Penegakan disiplin yang konsisten diharapkan dapat menjaga integritas kompetisi sekaligus mendukung perkembangan bakat muda yang berpotensi menjadi bintang sepak bola nasional.



