123Berita – 20 April 2026 | Presiden klub Dewa United Banten FC, Ardian Setya Negara, mengeluarkan pernyataan keras menyusul insiden yang melibatkan pemain EPA U-20 Bhayangkara Presisi Lampung, Fadly Alberto. Dalam konferensi pers yang digelar di kantor klub, Ardian menegaskan bahwa tindakan tendangan yang ia sebut “tendangan Kungfu” tidak dapat ditoleransi dalam dunia sepak bola profesional.
Ardian Setya Negara menilai insiden tersebut bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan tindakan kekerasan yang mengancam integritas kompetisi. “Kami tidak dapat membiarkan perilaku seperti ini berkembang tanpa konsekuensi. Sepak bola harus menjadi arena yang aman, sportif, dan menghormati sesama pemain,” ujarnya dengan nada tegas. Ardian menambahkan, Dewa United siap menempuh jalur hukum untuk menuntut pertanggungjawaban atas tindakan Fadly Alberto, baik melalui proses disiplin federasi maupun gugatan perdata bila diperlukan.
Dalam pernyataannya, Ardian menekankan bahwa klub akan mengajukan laporan resmi kepada PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) serta Komite Disiplin Nasional. Selain itu, Dewa United berencana mengirimkan surat pernyataan kepada pihak kepolisian setempat, mengingat adanya potensi pelanggaran hukum pidana terkait kekerasan dalam pertandingan. “Kami tidak hanya mengandalkan sanksi administratif, melainkan juga memastikan ada dasar hukum yang kuat untuk melindungi pemain kami,” kata Ardian.
Pihak Bhayangkara Presisi Lampung belum memberikan komentar resmi terkait insiden ini. Namun, beberapa pemain tim lawan yang menjadi saksi mengaku merasa terkejut dan takut akan tindakan serupa di masa depan. “Kami berharap ada penegakan aturan yang tegas, sehingga tidak ada lagi pemain yang merasa bebas melakukan aksi berbahaya,” ujar salah satu pemain Dewa United U-20 yang diminta tidak disebutkan namanya.
Insiden ini menambah daftar kasus kekerasan dalam sepak bola Indonesia yang kerap menjadi sorotan publik. Beberapa kasus sebelumnya, seperti sundulan keras pada laga Liga 1 dan perkelahian antar pemain, telah memicu perdebatan mengenai efektivitas regulasi disiplin yang ada. PSSI sendiri sejak awal tahun ini telah memperketat aturan tentang tindakan kekerasan, termasuk penerapan sanksi denda, skorsing, dan bahkan larangan bermain bagi pelaku yang terbukti bersalah.
- Ardian Setya Negara – Presiden Dewa United Banten FC
- Fadly Alberto – Pemain EPA U-20 Bhayangkara Presisi Lampung
- PSSI – Badan pengelola sepak bola nasional
- Komite Disiplin Nasional – Lembaga penegak aturan PSSI
Para pengamat sepak bola menilai bahwa respons hukum yang tegas dari Dewa United dapat menjadi contoh bagi klub lain dalam menangani kasus serupa. “Jika klub tidak mengambil langkah hukum, maka perilaku agresif akan terus berkembang dan merusak citra sepak bola Indonesia,” kata seorang analis olahraga yang menolak disebutkan namanya.
Meski demikian, Ardian menegaskan bahwa tujuan utama bukan sekadar menghukum, melainkan menciptakan edukasi bagi seluruh pemain muda. “Kita harus menanamkan nilai sportivitas sejak dini. Tendangan Kungfu seperti ini tidak boleh menjadi norma,” tutupnya sambil menambahkan bahwa klub akan meningkatkan pelatihan disiplin mental bagi semua akademi usia muda yang berada di bawah naungan Dewa United.
Dengan langkah hukum yang akan diambil, Dewa United berharap dapat menegakkan keadilan dan memberikan sinyal kuat kepada semua pihak bahwa tindakan kekerasan di lapangan tidak akan dibiarkan begitu saja. Keputusan ini diharapkan tidak hanya melindungi pemain, tetapi juga meningkatkan kepercayaan publik terhadap integritas kompetisi sepak bola di tanah air.
