Harsono haji di Usia 90: Dari Ladang Kara hingga Tanah Suci

Harsono haji di Usia 90: Dari Ladang Kara hingga Tanah Suci
Harsono haji di Usia 90: Dari Ladang Kara hingga Tanah Suci

123Berita – 20 April 2026 | Harsono, seorang petani berusia sembilan puluh tahun asal Kara, Kabupaten Klaten, akhirnya menggapai impian seumur hidupnya: menunaikan ibadah haji. Perjalanan spiritualnya yang berawal dari ladang sawah kini berakhir di Tanah Suci, menorehkan contoh ketabahan dan keikhlasan bagi generasi muda.

Sejak muda, Harsono mengabdikan diri pada pertanian. Tanah yang subur di Kara menjadi saksi kerja kerasnya menyiapkan padi, jagung, dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Meskipun pendapatan petani tidak selalu stabil, ia selalu menabung sedikit demi sedikit, mengingat satu tujuan utama: menunaikan haji.

Bacaan Lainnya

Keinginan itu bukan sekadar tradisi, melainkan panggilan hati. “Saya selalu bermimpi menjejakkan kaki di Masjidil Haram,” ujar Harsono dalam sebuah wawancara. Namun, keterbatasan finansial kerap menjadi penghalang. Selama puluhan tahun, ia menunda rencana tersebut demi memastikan kebutuhan sehari-hari keluarga terjaga.

Pada usia 80-an, dukungan keluarga mulai menguat. Anak‑anaknya yang telah meniti karier di kota kembali membantu mengelola lahan, sehingga beban finansial berkurang. Mereka juga menyisihkan sebagian tabungan untuk persiapan haji ayah mereka. Harsono pun tidak lagi harus menanggung semua beban sendiri.

Berikut adalah langkah‑langkah yang ditempuh Harsono dalam persiapan haji:

  • Menabung secara rutin selama lebih dari tiga dekade, meski dengan jumlah kecil.
  • Mengikuti pelatihan haji yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama untuk memahami prosedur ibadah.
  • Berkoordinasi dengan biro perjalanan haji resmi, memastikan dokumen dan vaksinasi lengkap.
  • Menguatkan kondisi fisik lewat olahraga ringan dan pola makan seimbang, mengingat usianya yang sudah 90 tahun.

Ketika paket haji resmi dibuka pada tahun 2025, Harsono bersama tiga anggota keluarganya berhasil mendaftar. Perjalanan ke Mekah memakan waktu lebih dari tiga puluh jam, termasuk transit di Timur Tengah. Sesampainya di Tanah Suci, air mata haru mengalir ketika ia menginjak tanah yang selama ini hanya ia impikan.

Selama berada di Mekah, Harsono melaksanakan rangkaian ritual dengan penuh khidmat: thawaf, sa’i, wuquf di Arafah, serta melontar jumrah. Ia menyatakan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT atas kesempatan yang diberikan pada usia senja. “Tidak ada rasa lelah yang lebih besar daripada kebahagiaan hati yang terpuaskan,” katanya sambil menatap Ka’bah.

Setelah menyelesaikan ibadah, Harsono kembali ke Kara dengan semangat baru. Ia menjadi inspirasi bagi warga desa yang kini lebih termotivasi untuk mengejar impian, meski dalam keterbatasan. Pemerintah daerah pun mencatat kisahnya dalam program penghargaan warga berprestasi.

Secara keseluruhan, perjalanan Harsono menunjukkan bahwa tekad, kesabaran, dan dukungan keluarga dapat mengatasi rintangan usia dan ekonomi. Kisahnya tidak hanya menegaskan nilai spiritual haji, tetapi juga menyoroti pentingnya solidaritas sosial dalam mewujudkan impian warga.

Dengan menapaki setiap langkah di Tanah Suci, Harsono menutup satu bab penting dalam hidupnya, sekaligus membuka lembaran baru yang menginspirasi banyak orang untuk tidak pernah menyerah pada impian, berapapun usianya.

Pos terkait