123Berita – 06 April 2026 | Sabtu malam, Masjid Jami Umar Bin Khattab di Sindangbarang, Kabupaten Ciamis, menjadi saksi terselenggaranya istigasah Kubro yang melibatkan sejumlah ulama, tokoh masyarakat, serta warga setempat. Acara yang digelar pada Minggu, 5 April 2026, tidak hanya berfokus pada doa bersama untuk keselamatan umat, bangsa, dan negara, tetapi juga menyoroti tragedi kecelakaan pesawat KM 50 yang menewaskan puluhan orang beberapa minggu sebelumnya.
Istigasah, yang merupakan istilah dalam tradisi keagamaan untuk mengajukan permohonan atau harapan khusus, diinisiasi oleh Majelis Ulama Ciamis (MUC) dengan tujuan menggalang solidaritas spiritual di tengah duka yang melanda. Kegiatan dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan dengan tausiyah singkat dari beberapa ustadz terkemuka di wilayah tersebut. Tausiyah tersebut menekankan pentingnya ketabahan, persaudaraan, dan kepedulian sosial dalam menghadapi cobaan.
Ketua Majelis Ulama Ciamis, KH. Ahmad Fauzi, membuka pertemuan dengan mengingatkan hadirin akan nilai-nilai keislaman yang menuntut umat untuk tidak berdiam diri ketika terjadi musibah. “Kita wajib bersatu, mendoakan korban, dan berupaya memberikan bantuan kepada keluarga yang terdampak. Tragedi KM 50 mengajarkan kita bahwa hidup ini rapuh, dan hanya Allah yang menentukan takdir akhir,” ujarnya.
Sesi selanjutnya menampilkan laporan singkat mengenai perkembangan penanganan korban kecelakaan KM 50. Tim relawan dari Palang Merah Indonesia (PMI) setempat melaporkan bahwa proses identifikasi jenazah masih berjalan, sementara keluarga korban telah mendapatkan bantuan sementara berupa paket sembako, pakaian, dan dukungan psikologis. Kepala PMI Kabupaten Ciamis, Dr. Siti Nurhadi, menekankan pentingnya sinergi antara lembaga pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat dalam menanggapi bencana semacam ini.
Setelah penyampaian laporan, para ulama bersama warga melaksanakan doa bersama. Doa tersebut dipimpin oleh KH. Abdullah Rahman, seorang mubaligh yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial. Doa mengangkat harapan agar korban yang masih dalam proses identifikasi diberikan tempat yang layak, serta agar para penyelamat dan keluarga korban diberikan kekuatan iman. Seluruh hadirin menutup doa dengan membaca doa bersama, menandakan persatuan dalam keikhlasan.
Selain doa, istigasah Kubro kali ini juga mengusulkan beberapa langkah konkret untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana di Ciamis. Salah satunya adalah pembentukan unit respons cepat yang melibatkan tokoh agama, aparat keamanan, serta relawan. Unit ini diharapkan dapat berkoordinasi secara efektif ketika terjadi bencana alam atau kecelakaan serupa di masa depan.
Dalam sesi tanya jawab, warga menanyakan mengenai prosedur penanganan trauma pasca kecelakaan. Seorang psikolog klinis, Dr. Rina Suryani, menjelaskan pentingnya konseling bagi keluarga korban serta penyediaan layanan kesehatan mental di puskesmas setempat. Ia menambahkan bahwa komunitas keagamaan dapat menjadi tempat perlindungan emosional bagi mereka yang membutuhkan.
Acara berakhir dengan penyerahan simbolis berupa selimut merah kepada perwakilan keluarga korban, sebagai bentuk empati dan solidaritas dari masyarakat Ciamis. Selimut tersebut kemudian dibawa pulang oleh perwakilan keluarga, menandai harapan bahwa rasa kebersamaan akan terus menguat di tengah kepedihan.
Tragedi KM 50, yang menewaskan lebih dari 70 penumpang, masih menjadi topik hangat di media nasional. Namun, melalui istigasah Kubro ini, Ciamis menegaskan komitmennya untuk tidak melupakan korban serta menguatkan jaringan sosial yang dapat membantu proses pemulihan. Keterlibatan aktif para ulama dan tokoh masyarakat menambah dimensi spiritual pada upaya penanggulangan, memperlihatkan bahwa respon terhadap bencana tidak hanya bersifat material, tetapi juga melibatkan aspek keagamaan dan moral.
Dengan semangat persatuan, istigasah Kubro di Masjid Jami Umar Bin Khattab menjadi contoh konkret bagaimana komunitas lokal dapat bersatu menghadapi tragedi, menggabungkan doa, aksi sosial, serta rencana strategis untuk masa depan. Diharapkan langkah-langkah yang dirumuskan dalam pertemuan ini dapat menjadi dasar kebijakan daerah dalam penanganan bencana, serta menjadi inspirasi bagi wilayah lain yang tengah berhadapan dengan situasi serupa.
Kesimpulannya, pertemuan istigasah Kubro di Ciamis tidak sekadar ritual keagamaan, melainkan wadah kolaboratif yang menghubungkan dimensi rohani, sosial, dan kebijakan publik. Upaya bersama ini menegaskan bahwa dalam setiap cobaan, solidaritas dan keimanan menjadi landasan utama untuk bangkit kembali.





