123Berita – 27 April 2026 | PT Pertamina (Persero) kembali menegaskan komitmen pada pengembangan energi panas bumi di luar sektor kelistrikan. Dalam upaya memperluas manfaat geotermal, perusahaan energi milik negara ini menyiapkan serangkaian proyek langsung (direct-use) yang menargetkan sektor pertanian, pariwisata, industri, serta kebutuhan rumah tangga. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lokal, menurunkan biaya energi, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi rakyat.
Sejak awal dekade ini, Pertamina telah mengidentifikasi lebih dari 70 titik panas bumi potensial di seluruh kepulauan Indonesia. Namun, tidak semua titik tersebut cocok untuk pembangkit listrik. Beberapa memiliki suhu yang lebih rendah atau kondisi geologi yang lebih cocok untuk aplikasi pemanasan langsung. Dengan memanfaatkan potensi tersebut, Pertamina berencana mengalihkan fokusnya ke pemanfaatan panas bumi untuk keperluan non‑listrik, sebuah strategi yang disebut “geothermal direct‑use”.
Proyek Pilihan di Jawa Barat dan Jawa Tengah
Di Jawa Barat, Pertamina mengembangkan fasilitas pemanas air tanah (ground‑source heat pump) di kawasan pertanian Cianjur. Sistem ini memanfaatkan suhu stabil tanah sekitar 30‑35°C untuk menyediakan air irigasi hangat, meningkatkan laju pertumbuhan padi dan sayuran tropis. Petani setempat melaporkan peningkatan hasil panen hingga 20 % serta penghematan energi listrik sebesar 40 %.
Di Jawa Tengah, proyek serupa diterapkan pada industri pengolahan makanan, khususnya pabrik pengeringan cabai. Dengan mengganti boiler berbahan bakar batu bara dengan heat exchanger berbasis panas bumi, pabrik berhasil menurunkan emisi CO₂ sebesar 30 % dan mengurangi biaya operasional tahunan sebesar Rp 15 miliar.
Aplikasi di Sektor Pariwisata
Pantai-pantai berbayang di kawasan wisata geothermal seperti Dieng dan Pahing kini menjadi magnet baru bagi wisatawan yang menginginkan pengalaman spa alami. Pertamina bekerja sama dengan pengelola hotel untuk membangun kolam renang panas bumi yang dipanaskan secara alami, tanpa memerlukan tambahan energi listrik. Selain menambah nilai jual, fasilitas ini juga menciptakan lapangan kerja bagi komunitas setempat.
Manfaat Ekonomi dan Sosial
- Peningkatan Pendapatan Petani: Akses ke air panas terkontrol meningkatkan produktivitas lahan, khususnya pada musim hujan yang biasanya memperlambat pertumbuhan tanaman.
- Pengurangan Beban Energi Rumah Tangga: Sistem pemanas air domestik berbasis geotermal mengurangi ketergantungan pada listrik atau gas LPG, menurunkan tagihan bulanan rata‑rata sebesar 25 %.
- Stimulus Investasi Lokal: Proyek langsung memicu kebutuhan akan kontraktor, teknisi, dan penyedia bahan baku, memperluas jaringan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
- Konservasi Lingkungan: Penggunaan energi terbarukan mengurangi emisi karbon, selaras dengan target Indonesia untuk menurunkan intensitas karbon pada sektor energi sebesar 29 % pada 2030.
Strategi Pendanaan dan Kebijakan Pemerintah
Pertamina mengandalkan kombinasi pembiayaan internal, dana hijau (green financing), serta skema kemitraan publik‑privat (PPP). Pemerintah Indonesia mendukung melalui insentif pajak untuk proyek energi terbarukan, serta penyediaan lahan dan perizinan yang dipercepat. Pada tahun 2025, target investasi langsung pada aplikasi panas bumi diperkirakan mencapai USD 500 juta, mencakup 12 proyek skala menengah di seluruh Nusantara.
Tantangan dan Prospek Kedepan
Walaupun potensi panas bumi di Indonesia sangat besar, tantangan teknis masih menjadi hambatan. Ketersediaan data geologi yang akurat, infrastruktur transportasi ke lokasi terpencil, serta kebutuhan akan tenaga ahli khusus masih menjadi prioritas. Pertamina menanggapi hal ini dengan memperkuat kerja sama dengan lembaga riset nasional serta universitas, serta meluncurkan program pelatihan teknisi geotermal bersertifikat.
Ke depan, perusahaan berencana memperluas aplikasi ke sektor kesehatan, seperti penyediaan air panas steril untuk rumah sakit di daerah pedalaman, serta mengintegrasikan sistem penyimpanan panas (thermal storage) untuk memastikan ketersediaan energi pada malam hari atau musim hujan.
Dengan menempatkan pemanfaatan panas bumi sebagai tulang punggung diversifikasi energi, Pertamina tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi jutaan rakyat Indonesia.
Secara keseluruhan, strategi ini mencerminkan langkah progresif dalam mengoptimalkan sumber daya alam Indonesia secara berkelanjutan, sekaligus memberikan kontribusi nyata pada pertumbuhan ekonomi inklusif.




