123Berita – 29 April 2026 | Gaza Utara kini berada di ambang krisis kemanusiaan yang mengerikan. Satu-satunya fasilitas produksi oksigen yang masih beroperasi di wilayah tersebut mengalami kerusakan mesin kritis, menempatkan ribuan pasien yang memerlukan perawatan intensif dalam bahaya kehilangan napas. Tanpa pasokan oksigen yang stabil, rumah sakit dan klinik di Gaza tidak dapat mempertahankan layanan perawatan intensif, memperparah penderitaan warga sipil yang sudah lama hidup dalam blokade dan serangan berulang.
Kondisi ini menjadi sorotan internasional setelah World Health Organization (WHO) mengeluarkan peringatan bahwa Gaza berisiko mengalami “kekurangan oksigen medis” yang dapat menimbulkan kematian massal di antara pasien kritis, termasuk anak-anak, lansia, serta korban luka bakar dan trauma akibat konflik yang berlangsung. WHO menambahkan bahwa penyediaan oksigen adalah elemen vital dalam penanganan COVID-19, komplikasi pernapasan, serta berbagai penyakit kronis yang umum di wilayah tersebut.
Rumah sakit terbesar di Gaza, Rumah Sakit Al-Shifa, melaporkan bahwa stok oksigen mereka telah berkurang menjadi kurang dari 48 jam. Dokter di sana, Dr. Amal Khalil, menyatakan, “Kami berada di ambang kehabisan oksigen. Tanpa pasokan yang berkelanjutan, kami tidak dapat menyelamatkan pasien yang berada dalam kondisi kritis. Setiap menit penundaan berarti nyawa yang terenggut.”
Selain kerusakan mesin, pabrik oksigen Gaza juga menghadapi tantangan logistik yang berat. Blokade darat yang diberlakukan sejak 2007 membatasi masuknya barang-barang penting, termasuk peralatan medis dan bahan baku. Upaya internasional untuk mengirim bantuan medis sering kali terhambat oleh prosedur pemeriksaan yang panjang dan persetujuan yang tidak menentu.
Berbagai organisasi kemanusiaan, termasuk Médecins Sans Frontières (MSF) dan International Committee of the Red Cross (ICRC), telah menyerukan tindakan segera. Mereka menuntut pembukaan jalur khusus bagi pengiriman suku cadang dan bahan bakar ke pabrik, serta perlindungan hukum bagi teknisi yang berusaha memperbaiki fasilitas tersebut. “Tanpa oksigen, sistem perawatan kesehatan Gaza akan runtuh total,” tegas pernyataan juru bicara MSF, Lina Hassan.
Pemerintah Palestina bersama dengan otoritas kesehatan Gaza telah mengajukan permohonan bantuan teknis kepada negara donor, termasuk Uni Emirat Arab, Turki, dan negara-negara Eropa. Namun, proses pengiriman bantuan masih terhambat oleh persetujuan yang berlapis dan kekhawatiran keamanan di wilayah konflik.
Di tengah krisis ini, warga Gaza berusaha mencari alternatif. Beberapa rumah tangga beralih ke tabung oksigen portabel yang dibeli dengan biaya tinggi, sementara komunitas lokal mencoba mengatur distribusi oksigen secara bergilir. Namun, kapasitas ini tidak dapat menutupi kebutuhan medis skala besar.
Para ahli kesehatan menilai bahwa jika pabrik oksigen Gaza tidak kembali beroperasi dalam waktu singkat, konsekuensi kemanusiaan akan meluas. Diperkirakan lebih dari 5.000 pasien yang saat ini berada di unit perawatan intensif akan kehilangan akses ke oksigen, meningkatkan risiko kematian hingga 70 persen. Dampak ini juga akan memperburuk beban psikologis bagi tenaga medis yang harus membuat keputusan sulit tentang prioritas perawatan.
Komunitas internasional terus mendesak semua pihak untuk menghentikan tindakan yang menghambat bantuan kemanusiaan. PBB secara resmi meminta agar semua pihak memfasilitasi pengiriman peralatan medis dan suku cadang ke pabrik oksigen Gaza, serta menjamin keamanan bagi tim teknis yang bekerja di lapangan.
Kesimpulannya, situasi pabrik oksigen Gaza yang terancam tutup mencerminkan krisis kesehatan yang lebih luas di wilayah tersebut. Tanpa intervensi cepat dan koordinasi global, ribuan nyawa pasien kritis akan berada di ujung tanduk, menambah beban tragedi kemanusiaan yang telah berlangsung lama.





