123Berita – 23 April 2026 | MER-C, organisasi kemanusiaan yang berbasis di Indonesia, melontarkan kecaman keras terhadap aksi propaganda militer Zionis yang terjadi di lokasi rumah sakit yang dikelola Indonesia di Gaza Utara. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada hari Rabu, MER-C menegaskan bahwa serangan yang menimpa fasilitas medis tersebut bukan sekadar insiden militer biasa, melainkan upaya sengaja untuk memutarbalikkan narasi konflik dan menutupi pelanggaran hukum humaniter internasional.
“Kami menolak keras setiap bentuk propaganda yang menjustifikasi tindakan kekerasan terhadap rumah sakit, apalagi ketika rumah sakit itu berdiri di bawah bendera Indonesia,” ujar ketua MER‑C, Ahmad Fauzi, dalam konferensi pers virtual. “Propaganda militer Zionis ini tidak hanya menodai nama lembaga kesehatan, tetapi juga menodai citra Indonesia yang selalu mengedepankan nilai kemanusiaan dalam setiap aksi kemanusiaan di luar negeri.”
MER‑C menambahkan bahwa pihak militer Zionis telah memanfaatkan citra “operasi anti‑teror” untuk menutupi fakta bahwa serangan tersebut melanggar Konvensi Jenewa dan ketentuan hukum humaniter internasional. Organisasi tersebut menuntut agar komunitas internasional melakukan penyelidikan independen serta menuntut pertanggungjawaban pelaku.
Berikut beberapa fakta mengejutkan yang diungkap MER‑C dalam laporannya:
- Lebih dari 70% bangunan utama rumah sakit mengalami kerusakan struktural akibat tembakan artileri berat.
- Tim medis kehilangan akses ke peralatan penting, termasuk ventilator dan unit perawatan intensif, yang berdampak pada peningkatan angka kematian pasien kritis.
- Video‑video yang beredar di media sosial menunjukkan tentara Zionis memindahkan mayat korban ke dalam kendaraan militer, sebuah tindakan yang melanggar protokol penanganan jenazah dalam konflik bersenjata.
- Beberapa saksi mata melaporkan bahwa pasukan militer Zionis menempatkan simbol militer mereka di depan pintu masuk rumah sakit, seolah‑olah mengklaim fasilitas tersebut sebagai basis operasi militer.
Selain fakta teknis, MER‑C menyoroti dampak psikologis yang dialami oleh pasien dan keluarga yang menyaksikan serangan tersebut. “Trauma yang dialami bukan hanya fisik, melainkan juga mental. Anak‑anak yang melihat ledakan dan suara tembakan akan membawa beban psikologis selama bertahun‑tahun,” kata Dr. Siti Nurhaliza, seorang dokter yang masih bertugas di rumah sakit tersebut.
Komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB) dan Lembaga Kesehatan Dunia (WHO), telah menerima laporan MER‑C dan berjanji untuk menindaklanjuti. Namun, MER‑C menekankan bahwa tindakan konkret diperlukan segera, bukan sekadar pernyataan. “Kami menuntut sanksi terhadap para pelaku serta penghentian total propaganda yang menyesatkan publik,” tegas Ahmad Fauzi.
Dalam konteks geopolitik, MER‑C menilai bahwa propaganda militer Zionis tidak hanya berupaya memanipulasi opini publik internasional, tetapi juga memperkuat narasi “keamanan nasional” yang sering dijadikan pembenaran untuk pelanggaran hak asasi manusia. Organisasi tersebut mengajak semua pihak, termasuk pemerintah Indonesia, untuk meningkatkan upaya diplomatik dan memberikan tekanan pada pihak-pihak yang terlibat.
MER‑C juga mengajak masyarakat global untuk tidak terjebak dalam narasi simplistik yang menyamar sebagai kebenaran. “Kita harus kritis terhadap setiap video atau foto yang beredar, memastikan sumbernya dapat dipertanggungjawabkan, dan menolak penyebaran informasi yang menyesatkan,” ujar Dr. Siti.
Sebagai langkah selanjutnya, MER‑C berencana mengirim tim medis tambahan serta mengirimkan peralatan medis darurat ke rumah sakit yang masih beroperasi. Selain itu, organisasi tersebut akan meluncurkan kampanye global untuk mengumpulkan dana bagi korban serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya perlindungan fasilitas kesehatan dalam zona konflik.
Dengan menyoroti fakta‑fakta tersebut, MER‑C berharap dunia tidak melupakan bahwa rumah sakit merupakan zona aman yang dijamin oleh hukum internasional. Setiap upaya untuk mengaburkan realitas hanya akan memperburuk penderitaan korban dan menggerus nilai‑nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi.
Dalam penutupnya, MER‑C menegaskan kembali komitmen organisasi untuk terus memantau situasi, mengungkap propaganda, dan memperjuangkan keadilan bagi semua korban di Gaza, terutama mereka yang mengandalkan rumah sakit Indonesia sebagai satu‑satunya tempat perlindungan medis.





