123Berita – 29 April 2026 | Bekasi Timur menjadi sorotan nasional setelah terjadinya kecelakaan kereta listrik komuter (KRL) pada pekan lalu. Insiden yang menewaskan beberapa penumpang dan melukai puluhan lainnya memicu perdebatan hangat tentang keamanan infrastruktur perkeretaapian di wilayah Jabodetabek. Salah satu suara paling kritis datang dari Djoko Setijowarno, akademisi Prodi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus anggota Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Ia menegaskan bahwa pemisahan jalur KRL dari lintasan kereta api barang serta perbaikan sistem sinyal menjadi langkah penting yang tak dapat ditunda.
Djoko Setijowarno menilai bahwa faktor utama kecelakaan adalah kurangnya pemisahan fisik antara jalur penumpang dan jalur barang. “Saat ini, sistem operasi masih mengandalkan koordinasi jadwal yang rapuh. Tanpa pemisahan jalur yang jelas, risiko tabrakan akan terus meningkat,” ujarnya dalam sebuah konferensi pers yang diadakan tiga hari setelah kecelakaan.
Ia menambahkan bahwa standar internasional menekankan pentingnya pemisahan jalur atau setidaknya penggunaan teknologi deteksi otomatis untuk mencegah konflik lintas jalur. “Negara-negara maju telah mengadopsi sistem double‑track dengan pemisahan fisik, serta mengimplementasikan sistem Positive Train Control (PTC) yang mampu menghentikan kereta secara otomatis bila terdeteksi potensi tabrakan,” kata Djoko.
Selain pemisahan jalur, Pakar tersebut menyoroti perlunya pembaruan sinyal dan peningkatan kapasitas pengawasan jaringan. Ia mengusulkan pembentukan tim lintas sektor yang melibatkan KAI, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), serta otoritas transportasi daerah untuk meninjau ulang tata letak jalur, mengoptimalkan jadwal, dan menambah sarana keselamatan seperti peredam kecepatan di titik-titik rawan.
Reaksi pemerintah daerah tidak kalah signifikan. Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, menyatakan akan melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh jalur KRL yang berbagi lintasan dengan kereta barang. “Keselamatan penumpang adalah prioritas utama. Kami akan menyiapkan anggaran khusus untuk mempercepat proyek pemisahan jalur di area kritis,” tegasnya.
Sementara itu, perwakilan serikat pekerja KRL menekankan pentingnya pelatihan ulang bagi masinis dan petugas kontrol lalu lintas. “Tidak hanya infrastruktur yang harus diperbaiki, tapi juga kompetensi SDM harus ditingkatkan. Kami mendukung usulan pemisahan jalur asalkan diikuti dengan program edukasi yang memadai,” ujar Ketua Serikat Pekerja KAI, Budi Santoso.
Para analis transportasi menilai bahwa kecelakaan ini dapat menjadi titik balik bagi kebijakan transportasi di Indonesia. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa kecelakaan kereta api menurun dalam dekade terakhir, namun insiden yang melibatkan KRL masih relatif tinggi karena tingginya kepadatan penumpang dan keterbatasan infrastruktur.
Berikut beberapa rekomendasi utama yang diusulkan oleh Djoko Setijowarno dan timnya:
- Pemisahan fisik antara jalur KRL dan jalur kereta barang di wilayah Jabodetabek, terutama pada segmen yang rawan tabrakan.
- Implementasi sistem deteksi otomatis berbasis GPS dan sensor lintasan untuk mengaktifkan peringatan dini.
- Peningkatan frekuensi inspeksi jalur dan perawatan rel, khususnya di daerah rawan korosi.
- Pengembangan sistem sinyal berbasis komunikasi digital (CBTC) yang dapat mengatur jarak antar kereta secara real‑time.
- Pelatihan intensif bagi masinis dan petugas kontrol lalu lintas mengenai prosedur darurat dan manajemen konflik lintas jalur.
Jika rekomendasi ini diterapkan secara konsisten, para pakar percaya kecelakaan serupa dapat diminimalisir secara signifikan. Mereka juga menekankan pentingnya partisipasi publik dalam mengawasi pelaksanaan proyek, termasuk transparansi anggaran dan pelaporan berkala.
Kasus Bekasi Timur mengingatkan bahwa pertumbuhan transportasi publik tidak dapat dipisahkan dari upaya peningkatan keselamatan. Dengan pemisahan jalur yang tepat, penerapan teknologi modern, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia, jaringan KRL dapat beroperasi lebih aman, efisien, dan dapat dipercaya oleh jutaan penumpang setiap harinya.
Ke depan, pengawasan yang lebih ketat dan investasi infrastruktur yang berkelanjutan diharapkan menjadi standar baru bagi transportasi rel di Indonesia, menjadikan pengalaman bepergian dengan KRL tidak lagi berisiko namun menjadi pilihan utama bagi mobilitas urban.





