123Berita – 06 April 2026 | Setelah lebih dari lima dekade terhenti, Amerika Serikat kembali mengirimkan manusia ke orbit Bulan melalui misi bersejarah Artemis II. Program Artemis, yang diumumkan pada tahun 2019, menandai kebangkitan ambisi luar angkasa Amerika setelah era Apollo yang berakhir pada 1972. Misi ini dijadwalkan meluncur pada akhir tahun 2024 dengan tujuan utama menguji sistem pendaratan dan menyiapkan fondasi bagi pendaratan berawak selanjutnya, Artemis III, yang direncanakan menurunkan astronot di permukaan Bulan.
Artemis II menjadi misi berawak pertama dalam program baru ini, mengusung tiga astronot perempuan dan satu laki-laki. Kru yang terpilih terdiri atas Reid Wiseman (komandan), Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen. Keempatnya akan mengorbit Bulan selama sekitar 10 hari, melakukan serangkaian prosedur kritis, termasuk pemeriksaan sistem propulsi, navigasi, serta komunikasi jarak jauh. Selama penerbangan, mereka akan melakukan demonstrasi kemampuan Orion – kapsul ruang angkasa yang dirancang khusus untuk menampung manusia dalam perjalanan lintas‑bulan.
Berikut rangkaian utama yang direncanakan dalam Artemis II:
- Peluncuran: Roket SLS (Space Launch System) berkapasitas berat akan mengangkat Orion dari kompleks peluncuran 39B di Kennedy Space Center, Florida.
- Trans‑Lunar Injection (TLI): Setelah mencapai orbit Bumi, mesin utama SLS akan menyalakan kembali untuk mengirim Orion ke lintasan yang mengarah ke Bulan.
- Fly‑by Bulan: Orion akan melakukan fly‑by pada jarak sekitar 3800 km dari permukaan Bulan, memberikan kesempatan bagi kru untuk mengamati medan gravitasi dan menguji sistem navigasi.
- Orbit Bulan: Selama masa mengorbit, kru akan menjalankan eksperimen mikrogravitasi, menguji prosedur evakuasi darurat, serta melakukan komunikasi dengan jaringan Deep Space Network.
- Re‑entry dan Pendaratan: Setelah menyelesaikan misi orbit, Orion akan kembali ke Bumi dengan re‑entry ke atmosfer pada kecepatan lebih dari 25.000 km/jam, berakhir dengan pendaratan di Samudra Pasifik.
Keberhasilan Artemis II tidak hanya menjadi tolak ukur teknologi, tetapi juga simbol politik dan ekonomi. Pemerintah Amerika Serikat menekankan bahwa program ini akan membuka peluang kerjasama internasional, memperluas pasar bagi industri antariksa komersial, dan menginspirasi generasi muda untuk mengejar karier di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Pada konferensi pers, Administrator NASA Bill Nelson menegaskan, “Artemis adalah langkah pertama menuju kehadiran manusia yang berkelanjutan di luar Bumi, termasuk rencana ambisius ke Mars pada dekade berikutnya.”
Teknologi yang dihadirkan dalam Artemis II juga menandai evolusi signifikan dibandingkan era Apollo. Kapal Orion dilengkapi dengan sistem pelindung termal canggih, layar solar berdaya tinggi, serta modul layanan yang dapat dipakai kembali. Roket SLS, yang memiliki daya dorong lebih besar dari Saturn V, memungkinkan pengangkutan muatan yang lebih berat, termasuk modul lunar Gateway yang akan menjadi stasiun luar angkasa di orbit Bulan.
Selain aspek teknis, Artemis II mengukir sejarah sosial dengan menempatkan dua astronot perempuan di dalam kru pertama setelah Apollo. Christina Koch, yang sebelumnya memegang rekor misi terlama di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), dan Victor Glover, astronaut pertama Afrika‑Amerika yang terbang ke ISS, memperkuat komitmen NASA terhadap keragaman dan inklusivitas.
Namun, program Artemis tidak lepas dari tantangan. Anggaran federal yang besar, keterlambatan dalam pengembangan roket SLS, serta persaingan dengan perusahaan swasta seperti SpaceX menimbulkan tekanan pada jadwal peluncuran. Kritik dari beberapa anggota Kongres menyoroti kebutuhan transparansi biaya dan efisiensi proyek. NASA menanggapi dengan menegaskan bahwa investasi pada Artemis merupakan langkah strategis untuk menjaga kepemimpinan Amerika dalam eksplorasi luar angkasa.
Jika Artemis II berhasil, langkah selanjutnya akan menjadi Artemis III, yang direncanakan menurunkan astronot – termasuk wanita pertama – di wilayah selatan Kutub Bulan, daerah yang kaya akan es air. Penemuan sumber daya es dapat membuka peluang produksi oksigen dan hidrogen di masa depan, memperkuat kemampuan manusia untuk tinggal lebih lama di Bulan dan menjadikan Bumi sebagai titik peluncuran ke planet lain.
Kesimpulannya, Artemis II bukan sekadar misi penerbangan kembali ke Bulan, melainkan batu loncatan penting dalam visi jangka panjang NASA untuk menjelajahi tata surya. Keberhasilan peluncuran, penerbangan, dan kembali ke Bumi akan menegaskan kemampuan manusia untuk kembali ke lingkungan ekstraterestrial setelah setengah abad. Dengan dukungan politik, industri, dan publik, Artemis II berpotensi menjadi titik balik yang membuka era baru eksplorasi luar angkasa yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan kolaboratif.





