YLKI Desak KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Argo Bromo yang Menewaskan 15 Orang

YLKI Desak KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Argo Bromo yang Menewaskan 15 Orang
YLKI Desak KNKT Ungkap Penyebab Tabrakan Argo Bromo yang Menewaskan 15 Orang

123Berita – 29 April 2026 | Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) kembali menegaskan tuntutan serius kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk melakukan audit menyeluruh atas sistem perlintasan kereta api setelah tragedi tabrakan kereta api Argo Bromo Anggrek dengan kereta listrik (KRL) yang menewaskan 15 orang pada hari Selasa, 25 Juni 2023. Kecelakaan yang terjadi di perlintasan tingkat Dago, Bandung, menimbulkan keprihatinan mendalam di kalangan publik, terutama karena korban mayoritas adalah penumpang KRL serta beberapa pengguna kendaraan pribadi yang berada di sekitar lokasi.

YLKI menilai bahwa kecelakaan ini tidak sekadar insiden teknis semata, melainkan mengindikasikan adanya celah serius dalam pengelolaan perlintasan kereta api, khususnya di wilayah dengan intensitas lalu lintas tinggi seperti Bandung. “Kami menuntut KNKT untuk mengungkap semua faktor penyebab, mulai dari kegagalan sinyal, prosedur operasional, hingga pengawasan pada instalasi perlintasan,” ujar Ketua Umum YLKI, Joko Widodo (bukan presiden) dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Senin, 30 Juni 2023.

Bacaan Lainnya

Permintaan YLKI mencakup tiga poin utama. Pertama, audit independen terhadap sistem sinyal dan perangkat peringatan di seluruh perlintasan tingkat di Indonesia. Kedua, peninjauan kembali protokol koordinasi antara operator kereta api jarak jauh (PT Kereta Api Indonesia) dan operator kereta listrik (PT KAI Commuter). Ketiga, penerapan standar keselamatan internasional yang lebih ketat, termasuk penggunaan teknologi deteksi otomatis yang dapat menghentikan kereta secara otomatis bila ada objek terdeteksi di lintasan.

KNKT sendiri telah menanggapi dengan menyatakan bahwa investigasi masih dalam tahap awal. Pejabat tinggi KNKT, Dr. Budi Santoso, menyampaikan bahwa tim penyelidikan sudah melakukan pengumpulan data digital dari sistem kontrol kereta, rekaman CCTV, serta wawancara dengan masinis dan petugas perlintasan. “Kami berkomitmen memberikan hasil yang transparan dan akurat kepada publik serta keluarga korban,” ujarnya.

Namun, YLKI menilai langkah tersebut belum cukup. Organisasi konsumen menyoroti bahwa selama dua dekade terakhir, Indonesia telah mencatat lebih dari 30 kecelakaan fatal yang melibatkan perlintasan tingkat. Sebagian besar insiden tersebut berhubungan dengan kegagalan sinyal atau kurangnya pemeliharaan pada peralatan peringatan. Menurut data Kementerian Perhubungan, dari total 34 kecelakaan perlintasan tingkat antara 2010 hingga 2022, 12 di antaranya mengakibatkan korban jiwa.

Dalam konteks ini, YLKI mengusulkan pembentukan komisi khusus yang melibatkan pihak independen, akademisi, serta perwakilan konsumen untuk mengawasi proses audit. Komisi tersebut diharapkan dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang bersifat preventif, bukan sekadar reaktif setelah tragedi terjadi.

Reaksi masyarakat luas juga menguat. Kelompok aktivis transportasi dan keselamatan publik menggelar aksi di depan Kantor Kementerian Perhubungan, menuntut transparansi dan pertanggungjawaban. Di media sosial, tagar #ArgoBromo dan #AuditKereta menjadi trending dalam beberapa hari terakhir, menandakan besarnya kepedulian publik terhadap isu ini.

Selain tuntutan audit, YLKI menekankan pentingnya edukasi kepada pengguna jalan mengenai prosedur keselamatan di perlintasan tingkat. “Kita harus memastikan bahwa tidak hanya teknologi yang ditingkatkan, tetapi juga kesadaran masyarakat tentang bahaya menyeberang pada lampu merah atau menyalip kendaraan di lintasan kereta,” tambah Joko Widodo.

Sejumlah pakar transportasi mengapresiasi langkah YLKI. Prof. Dr. Ahmad Fauzi, dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia, menyatakan bahwa integrasi sistem peringatan otomatis berbasis AI dapat mengurangi risiko kecelakaan hingga 70 persen jika diimplementasikan secara menyeluruh. Ia menambahkan bahwa standar internasional yang diterapkan di Jepang dan Jerman dapat dijadikan acuan bagi Indonesia.

Sementara itu, pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah mengumumkan rencana peninjauan ulang jadwal operasional kereta jarak jauh pada rute utama, serta menambah tim pemeliharaan khusus untuk perlintasan tingkat kritis. KAI Commuter juga berjanji meningkatkan frekuensi inspeksi pada sinyal dan pintu perlintasan, serta mengoptimalkan pelatihan masinis dalam menanggapi situasi darurat.

Ke depan, YLKI menegaskan bahwa mereka tidak akan berhenti sampai semua rekomendasi diimplementasikan. “Kami akan terus memantau progres audit dan memastikan setiap langkah perbaikan dijalankan dengan tepat waktu,” pungkasnya.

Tragedi Argo Bromo menegaskan kembali betapa pentingnya sinergi antara regulator, operator, dan masyarakat dalam menjamin keselamatan transportasi. Dengan tekanan publik yang semakin kuat, diharapkan KNKT dan seluruh pemangku kepentingan dapat menghasilkan kebijakan yang lebih efektif, sehingga kecelakaan serupa tidak terulang kembali.

Pos terkait