123Berita – 05 April 2026 | NASA bersiap mengirimkan kru pertama yang akan mengorbit Bulan sejak era Apollo. Pada misi Artemis II, empat astronot — Reid Wiseman (komandan), Victor Glover (pilot), Christina Koch, dan Jeremy Hansen (misi spesialis) — akan mengarungi ruang angkasa selama kira-kira 10 hari, menelusuri lintasan yang membawa mereka melintasi sisi jauh Bulan yang selama ini tersembunyi dari pandangan Bumi. Fokus utama mereka bukan sekadar pencapaian teknis, melainkan rangkaian investigasi ilmiah yang dapat membuka lembaran baru dalam pemahaman tentang bulan dan lingkungan antariksa.
Sisi jauh Bulan, yang selalu menghadap menjauhi Bumi, memiliki karakteristik geologis yang berbeda signifikan dibandingkan sisi yang selalu terlihat. Selama bertahun‑tahun, satelit pengamat mengirimkan data visual dan spektral, namun belum ada manusia yang mengamati secara langsung. Artemis II memberikan kesempatan unik bagi kru untuk melakukan pengamatan visual, mengumpulkan data radio, dan menilai kondisi lingkungan secara real‑time.
Berikut beberapa tujuan utama yang direncanakan oleh tim ilmuwan NASA untuk kru Artemis II:
- Memetakan struktur geologi sisi jauh: Astronot akan menggunakan kamera beresolusi tinggi pada modul Orion untuk merekam formasi kawah besar, dataran tinggi, dan zona‑zona lava kuno yang belum terjamah. Data ini diharapkan melengkapi peta tiga‑dimensi yang telah dibuat oleh Lunar Reconnaissance Orbiter, membantu ilmuwan menilai sejarah vulkanisme bulan.
- Mencari jejak air beku: Meskipun air beku lebih banyak terdeteksi di kutub bulan, beberapa studi mengindikasikan adanya deposit es di kedalaman regolit sisi jauh. Dengan instrumen spektrometer, kru akan mengukur kandungan hidrogen pada area‑area tertentu, memberikan petunjuk penting bagi misi eksplorasi berkelanjutan yang membutuhkan sumber daya in‑situ.
- Meneliti anomali magnetik: Sisi jauh mengandung medan magnetik lemah yang tidak terdeteksi di sisi yang menghadap Bumi. Pengukuran magnetometer pada Orion akan membantu memetakan variasi medan, memberikan wawasan tentang sejarah inti bulan dan dampaknya terhadap radiasi kosmik.
- Uji komunikasi radio: Karena sinyal radio tidak dapat menembus massa bulan, sisi jauh menjadi zona “dead zone” bagi jaringan komunikasi konvensional. Kru akan menguji sistem komunikasi melalui satelit relay yang berada di orbit Lagrange L2, menilai keandalan transmisi data dan suara antara Orion, satelit, serta Bumi.
- Pengukuran radiasi dan mikrogravitasi: Mengorbit sisi jauh menempatkan Orion di lingkungan radiasi yang sedikit berbeda dari sisi yang menghadap Bumi. Sensor radiasi akan merekam fluks partikel tinggi, sementara akselerometer memantau variasi mikrogravitasi, data penting untuk merancang perlindungan kesehatan astronaut pada misi berjangka panjang ke Mars.
Selain tujuan ilmiah, kru Artemis II juga akan melakukan demonstrasi manual piloting pada hari keempat penerbangan, menguji kemampuan pilot untuk mengendalikan modul tanpa bantuan otomatisasi penuh. Demonstrasi ini penting untuk mengasah keterampilan pendaratan presisi pada misi Artemis III yang direncanakan akan mendaratkan manusia di kutub selatan bulan.
Keberhasilan misi ini sangat bergantung pada koordinasi lintas‑sistem, termasuk dukungan dari stasiun luar angkasa Gateway yang akan berfungsi sebagai titik pertemuan antara Bumi dan orbit Bulan. Gateway diharapkan menjadi “jembatan” komunikasi, memperkuat sinyal ke sisi jauh sekaligus menyediakan fasilitas logistik bagi astronot.
Secara historis, Artemis II menandai kembali manusia ke luar orbit Bumi setelah lebih dari lima dekade. Jika berhasil, misi ini tidak hanya menambah pengetahuan ilmiah, tetapi juga menegaskan kemampuan Amerika Serikat dalam misi antar‑planet berawak. Keberhasilan observasi sisi jauh dapat mempercepat rencana pembangunan pangkalan permanen di Bulan, dimana sumber daya lokal seperti air beku akan menjadi bahan bakar dan oksigen bagi misi ke Mars.
Dengan kombinasi teknologi canggih, tim ilmuwan terampil, dan empat astronot berpengalaman, Artemis II siap membuka babak baru dalam eksplorasi bulan. Pengamatan pertama manusia di sisi jauh diharapkan menghasilkan gambar spektakuler, data geologi yang belum pernah terungkap, serta wawasan kritis mengenai lingkungan radiasi yang akan menjadi landasan bagi generasi penjelajah selanjutnya.





