123Berita – 06 April 2026 | Tim astronaut NASA yang mengemban misi Artemis II diperkirakan akan melintasi sisi jauh Bulan pada Senin, menandai pencapaian penting dalam program kembali manusia ke satelit alami Bumi. Sebagai misi berawak pertama dalam seri Artemis, Artemis II bertujuan menguji sistem pendaratan, navigasi, serta kemampuan komunikasi pada fase kritis yang belum pernah dijelajahi manusia selama lebih dari setengah abad.
Komandan misi, Reid Wiseman, bersama pilot Victor Glover serta dua spesialis misi, Christina Koch dan Jeremy Hansen, telah memulai perjalanan mereka dari Kennedy Space Center, Florida, pada akhir pekan lalu. Setelah melewati fase peluncuran yang sukses menggunakan roket Space Launch System (SLS) berdaya besar, kapsul Orion memasuki orbit Bumi sebelum melakukan manuver translunar. Pada fase berikutnya, Orion akan melakukan pembakaran propulsi untuk meluncur keluar dari orbit Bumi menuju lintasan lunar yang mengarah ke sisi jauh Bulan.
Sisi jauh Bulan, atau “far side”, merupakan area yang selalu menghadap menjauh dari Bumi dan selama ini sulit dijangkau karena keterbatasan komunikasi langsung. Untuk mengatasi tantangan ini, NASA telah menyiapkan jaringan satelit komunikasi yang mengorbit Bulan, termasuk satelit Lunar Gateway yang sedang dalam tahap pembangunan, serta satelit komunikasi khusus yang akan berperan sebagai jembatan antara Orion dan pusat kontrol di Bumi.
Berikut rangkaian tahapan utama yang akan dilalui Artemis II pada hari Senin:
- Pembakaran Trans-Lunar Injection (TLI): Orion melakukan pembakaran utama dengan mesin RS-25 untuk meninggalkan orbit Bumi dan memasuki lintasan menuju Bulan.
- Pengaturan Trajektori: Selama perjalanan sekitar tiga hari, sistem navigasi canggih Orion akan menyesuaikan trajektori untuk memastikan jarak aman saat melintasi daerah gravitasi Bulan.
- Masuk Ke Lingkaran Orbit Lunar: Sesampainya di sekitar Bulan, Orion akan masuk ke orbit elips rendah yang memungkinkan tim melihat sisi jauh Bulan secara langsung.
- Pengamatan dan Pengujian: Astronot akan melakukan serangkaian eksperimen ilmiah, termasuk pengukuran radiasi, pengujian sistem komunikasi, serta dokumentasi visual permukaan bulan yang belum pernah terlihat manusia.
Selama fase orbit ini, astronaut akan memiliki kesempatan langka untuk melihat dan memotret lanskap sisi jauh Bulan yang dipenuhi kawah raksasa, seperti kawah Tsiolkovsky yang berdiameter lebih dari 200 kilometer. Penelitian visual ini diharapkan dapat memberikan data geologis penting, sekaligus menambah pemahaman publik tentang bagian Bulan yang selama ini tersembunyi.
Komunikasi dengan Bumi pada saat berada di sisi jauh Bulan akan difasilitasi oleh satelit komunikasi yang ditempatkan di titik Lagrange L2, tepat di belakang Bulan. Sistem ini akan memastikan aliran data real‑time, termasuk video, foto, serta telemetri, tetap terjaga tanpa gangguan signifikan. NASA menekankan bahwa keberhasilan jaringan komunikasi ini menjadi salah satu tolok ukur utama untuk misi Artemis III, yang direncanakan akan melibatkan pendaratan manusia di permukaan Bulan.
Pengalaman yang didapatkan dari Artemis II tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada kesiapan psikologis astronaut. Selama perjalanan, para astronaut menjalani sesi monitoring kesehatan, termasuk evaluasi tekanan darah, kadar oksigen, serta tingkat stres. Penelitian ini penting untuk menyiapkan manusia menghadapi misi lebih jauh, seperti perjalanan ke Mars dalam dekade mendatang.
NASA juga menyoroti kolaborasi internasional dalam Artemis II. Agen-agen antariksa seperti European Space Agency (ESA) dan Canadian Space Agency (CSA) turut berkontribusi pada sistem navigasi dan modul komunikasi. Keterlibatan ini mencerminkan semangat kerja sama global dalam eksplorasi luar angkasa, mengingat tantangan teknis yang sangat kompleks.
Jika semua berjalan sesuai rencana, Artemis II akan kembali ke Bumi pada akhir pekan berikutnya, menyelesaikan misi mengelilingi Bulan selama lebih dari dua minggu. Keberhasilan ini akan membuka jalan bagi Artemis III, yang ditargetkan melakukan pendaratan manusia pertama di Kutub Selatan Bulan pada akhir 2025. Keseluruhan program Artemis diharapkan menjadi batu loncatan bagi manusia untuk kembali ke Bulan secara berkelanjutan, serta menyiapkan infrastruktur yang diperlukan untuk misi eksplorasi Mars.
Keberhasilan Artemis II dalam menembus sisi jauh Bulan sekaligus menguji sistem komunikasi dan navigasi menjadi bukti bahwa teknologi modern serta kolaborasi internasional mampu mengatasi tantangan luar angkasa yang paling menantang. Masyarakat dunia kini menantikan momen bersejarah ketika astronaut pertama kali menatap lanskap misterius yang selama ini tersembunyi di balik bayangan Bumi, menandai era baru dalam eksplorasi antariksa manusia.





