123Berita – 08 April 2026 | Jakarta, 8 April 2026 – Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya menandai tonggak penting dalam sejarah akademiknya dengan mengukuhkan dua profesor menjadi Guru Besar tetap. Upacara yang bersifat terbuka itu dipimpin oleh Rektor Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S(K), dan dihadiri oleh pejabat pendidikan tinggi serta perwakilan Kementerian Riset dan Teknologi. Kedua akademisi yang memperoleh gelar guru besar tersebut adalah Prof. Christine Manara, Ph.D., yang ditunjuk sebagai Guru Besar Ilmu Linguistik, serta Prof. Dr. Dra. Yasintha Soelasih, M.Si., yang mengemban tugas sebagai Guru Besar Ilmu Bisnis dan Manajemen.
Sidang terbuka berlangsung di Gedung Yustinus, Unika Atma Jaya, dan menjadi arena bagi para pemangku kepentingan pendidikan untuk menegaskan komitmen universitas terhadap nilai‑nilai dasar KUPP (Kristiani, Unggul, Profesional, Peduli). Dalam sambutan pembukaan, Rektor Yuda menegaskan bahwa gelar profesor bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih luas. Ia menekankan bahwa keunggulan akademik harus selaras dengan kepedulian sosial, sehingga ilmu yang dihasilkan tidak hanya tinggi secara teoritis, tetapi juga relevan bagi kehidupan nyata.
Prof. Christine Manara, yang kini resmi menjadi Guru Besar Linguistik, menyampaikan orasi ilmiah yang menyoroti isu diskriminasi linguistik dalam pendidikan bahasa Inggris di Indonesia. Ia mengkritik stereotip yang menempatkan penutur asli sebagai satu‑satunya model bahasa ideal, serta menolak praktik evaluasi yang berfokus semata pada skor tes standar. Menurut Manara, kebijakan yang mengedepankan keadilan linguistik akan membuka ruang bagi guru‑guru bahasa Inggris lokal untuk menunjukkan kompetensi profesionalnya, sekaligus mengurangi ketergantungan pada industri tes yang sering kali tidak mencerminkan kemampuan mengajar secara menyeluruh.
Sementara itu, Prof. Dr. Dra. Yasintha Soelasih mengangkat tema manajemen berkelanjutan dalam konteks dinamika ekonomi global. Penelitiannya menekankan pentingnya model manajerial yang adaptif, mampu mengintegrasikan pertimbangan lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam keputusan bisnis. Yasintha mencontohkan bagaimana digitalisasi, khususnya penggunaan teknologi biometrik wajah pada layanan penerbangan, dapat menurunkan biaya operasional dan pada gilirannya menurunkan tarif tiket bagi konsumen. “Jika proses digitalisasi dapat meningkatkan efisiensi, maka secara otomatis akan menurunkan biaya yang harus ditanggung oleh penumpang,” ujarnya.
Kehadiran Kepala LLDIKTI Wilayah III, Dr. Henri Togas Hasiholan Tambunan, menambah dimensi kebijakan publik pada acara tersebut. Ia menutup sidang dengan menekankan pentingnya menghilirisasi hasil riset para guru besar demi manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas. “Kami menantikan karya‑karya nyata yang tidak hanya meningkatkan indikator kinerja institusi, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan bangsa,” tegasnya.
Pengukuhan dua guru besar ini tidak terlepas dari konteks strategis Unika Atma Jaya dalam memperkuat profil internasionalnya. Dengan menambahkan figur-figur akademik yang memiliki rekam jejak penelitian berdampak, universitas berharap dapat menarik lebih banyak kolaborasi lintas batas, baik dengan institusi asing maupun industri domestik. Langkah ini sejalan dengan agenda nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi melalui peningkatan jumlah profesor bersertifikat dan pengembangan riset terapan.
Secara praktis, kehadiran Prof. Manara dan Prof. Yasintha diharapkan dapat memperkaya kurikulum dan program penelitian di Unika Atma Jaya. Di bidang linguistik, mahasiswa akan memperoleh perspektif kritis mengenai kebijakan bahasa dan metodologi pengajaran yang lebih inklusif. Di bidang manajemen, pendekatan berkelanjutan akan diintegrasikan ke dalam mata kuliah strategi bisnis, inovasi, serta manajemen operasional, memberikan landasan kuat bagi lulusan untuk berkontribusi pada industri yang semakin menuntut tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Acara penutupan menegaskan kembali visi universitas: menjadi pusat ilmu pengetahuan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga peduli pada realitas sosial. Dengan mengukuhkan dua guru besar di bidang yang sangat berbeda namun saling melengkapi, Unika Atma Jaya mengirimkan sinyal bahwa integrasi antara ilmu humaniora dan ilmu terapan merupakan kunci untuk menjawab tantangan masa depan.
Ke depan, harapan besar ditujukan pada kolaborasi antara para guru besar dengan pemerintah, industri, dan lembaga riset lain. Jika sinergi ini dapat terwujud, maka dampak positifnya tidak hanya akan dirasakan di lingkungan kampus, tetapi juga pada kebijakan pendidikan bahasa, strategi manajemen perusahaan, serta kualitas layanan publik seperti transportasi udara. Dengan demikian, pengukuhan ini menjadi titik tolak bagi Unika Atma Jaya untuk berperan lebih aktif dalam pembangunan berkelanjutan Indonesia.





