123Berita – 22 April 2026 | Harga LPG nonsubsidi di pasar domestik mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir, meniru pola kenaikan harga minyak mentah dunia. Kenaikan ini memicu kekhawatiran publik mengenai beban biaya rumah tangga, terutama bagi konsumen yang tidak mendapatkan subsidi pemerintah. Namun, menurut pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, dampak peningkatan harga LPG nonsubsidi terhadap inflasi nasional diproyeksikan tetap minimal.
Fahmy Radhi menjelaskan bahwa pergerakan harga LPG nonsubsidi sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak mentah di bursa internasional. Sejak awal tahun, harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) terus menguat karena faktor geopolitik, penurunan pasokan, serta kebijakan produksi OPEC+. Kenaikan harga minyak mentah tersebut secara otomatis meningkatkan biaya produksi, transportasi, dan distribusi LPG, yang pada gilirannya menggeser harga jual LPG nonsubsidi di dalam negeri.
Meski demikian, pakar UGM menekankan beberapa alasan mengapa inflasi tidak akan terdorong secara signifikan. Pertama, proporsi konsumsi LPG nonsubsidi dalam total belanja rumah tangga relatif kecil dibandingkan dengan kebutuhan energi lain seperti listrik, bensin, atau makanan. Kedua, pemerintah masih menjaga kebijakan harga energi melalui subsidi pada LPG bersubsidi, sehingga beban utama tetap tertutupi untuk sebagian besar rumah tangga berpenghasilan rendah.
Berikut ini beberapa faktor yang memperkuat pandangan Fahmy Radhi:
- Konsumsi LPG nonsubsidi terbatas: Hanya sebagian kecil rumah tangga, terutama kelas menengah ke atas, yang beralih ke LPG nonsubsidi. Mayoritas masyarakat tetap mengandalkan LPG bersubsidi yang harganya dikendalikan pemerintah.
- Pengaruh harga minyak mentah bersifat sementara: Fluktuasi harga minyak mentah dapat berbalik arah dalam waktu singkat, tergantung pada situasi geopolitik dan kebijakan produksi OPEC+. Oleh karena itu, dampak jangka panjang terhadap inflasi dapat diminimalisir.
- Kebijakan penyerapan biaya oleh distributor: Distributor LPG dapat menyesuaikan margin keuntungan untuk menyerap sebagian kenaikan biaya, menjaga harga akhir agar tidak melambung terlalu tinggi.
Selain faktor-faktor di atas, ada pula upaya pemerintah untuk menstabilkan pasar energi melalui intervensi strategis. Pemerintah menyiapkan cadangan LPG di gudang nasional dan dapat menurunkan tarif pajak energi bila diperlukan. Kebijakan semacam ini memberikan ruang manuver untuk menahan laju kenaikan harga konsumen.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa meskipun indeks harga konsumen (IHK) mencatat kenaikan pada komponen energi, kontribusi LPG nonsubsidi terhadap total inflasi masih berada di bawah satu persen. Hal ini sejalan dengan data BPS yang mencatat bahwa komponen energi secara keseluruhan menyumbang kurang lebih 8% terhadap inflasi, dengan LPG bersubsidi memiliki bobot yang lebih besar dibanding LPG nonsubsidi.
Pakar energi juga menyoroti pentingnya diversifikasi sumber energi sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada minyak bumi. Pengembangan energi terbarukan, seperti tenaga surya dan biomassa, dapat menjadi alternatif bagi rumah tangga dalam mengurangi beban energi. Namun, transisi tersebut memerlukan investasi infrastruktur dan kebijakan insentif yang konsisten.
Secara umum, konsumen yang merasa terbebani oleh kenaikan harga LPG nonsubsidi disarankan untuk mengevaluasi penggunaan energi di rumah, termasuk memanfaatkan program efisiensi energi dan mempertimbangkan alternatif pemanas yang lebih hemat. Pemerintah, di sisi lain, diharapkan terus memantau fluktuasi harga global dan menyesuaikan kebijakan subsidi serta regulasi pasar guna melindungi daya beli masyarakat.
Kesimpulannya, meski harga LPG nonsubsidi kini berada pada level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, dampaknya terhadap inflasi Indonesia diproyeksikan tetap terbatas. Faktor struktural seperti proporsi konsumsi, kebijakan subsidi, serta intervensi pasar menjadi penyangga utama yang menahan laju inflasi. Pengawasan terus-menerus dan kebijakan energi yang adaptif tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan konsumen.
