123Berita – 22 April 2026 | Pelatih tim Serie B, Como, Cesc Fabregas, menyatakan rasa kebanggaan yang tetap menyertai dirinya meski timnya harus menelan kekalahan dramatis 2-3 dari Inter Milan dalam laga semifinal Coppa Italia. Pertandingan yang berlangsung pada tanggal 17 April 2024 itu menjadi sorotan utama sepak bola Italia, tidak hanya karena aksi balik menyerang Inter yang mengubah alur permainan, tetapi juga karena komentar terbuka Fabri yang menegaskan semangat juang Como.
Setelah menelan keunggulan 2-0 di babak pertama, Como sempat terlihat berada di jalur kemenangan. Namun, Inter Milan yang dipimpin oleh Simone Inzaghi berhasil meraih tiga gol balasan dalam tempo singkat, mengubah skor menjadi 3-2. Kekalahan tersebut menutup harapan Como untuk melaju ke final Coppa Italia, sebuah prestasi yang belum pernah diraih klub Lombardy tersebut dalam sejarah kompetisi domestik.
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Cesc Fabregas menjawab pertanyaan media dengan nada tenang namun penuh keyakinan. Berikut rangkaian pernyataan yang diungkapkannya:
- “Saya tetap bangga dengan apa yang telah ditunjukkan oleh pemain-pemain saya. Kami bermain dengan semangat yang tinggi dan tak pernah menyerah, meskipun hasil akhirnya tidak sesuai harapan.”
- “Tidak ada kemarahan dalam hati saya. Sebaliknya, saya melihat ini sebagai pelajaran berharga yang akan memperkuat mental tim untuk kompetisi selanjutnya.”
- “Inter memang tim yang kuat dan pengalaman mereka di level Eropa sangat mengesankan. Kami belajar banyak dari pertemuan ini.”
Fabregas menambahkan bahwa dukungan suporter tetap menjadi bahan bakar utama bagi timnya. “Suporter Como selalu memberikan energi positif, baik di stadion maupun di luar lapangan. Kami berterima kasih atas dukungan mereka dan berjanji akan kembali lebih kuat,” tuturnya.
Statistik pertandingan mencatat bahwa Como mencatat 8 tembakan, dengan 3 di antaranya mengarah ke gawang, sementara Inter mencatat 12 tembakan dengan 5 tepat sasaran. Kendati demikian, kualitas eksekusi gol Inter pada menit-menit akhir menjadi penentu utama.
Selain menyoroti performa tim lawan, Fabregas juga memuji beberapa pemain muda Como yang tampil menonjol. Salah satunya adalah gelandang muda bernama Lorenzo Gallo, yang berhasil mencetak satu gol dan memberikan assist pada gol kedua tim. “Lorenzo menunjukkan kedewasaan luar biasa untuk usianya. Saya berharap dia terus berkembang dan menjadi tulang punggung tim kami ke depannya,” ujar Fabregas.
Pertandingan ini juga menjadi momen penting bagi Fabregas secara pribadi, mengingat ia pernah menjadi pemain bintang di level tertinggi Eropa, termasuk menjuarai Liga Champions bersama Barcelona. Sekarang, sebagai pelatih, ia berusaha mentransfer pengalaman tersebut ke dalam taktik dan mentalitas timnya.
Pengamat sepak bola menilai bahwa pendekatan taktis Fabregas cukup progresif, terutama dalam menyeimbangkan serangan dan pertahanan. Namun, mereka menekankan bahwa menghadapi tim sekelas Inter membutuhkan konsistensi defensif yang lebih ketat, terutama dalam mengantisipasi serangan balik cepat.
Keberhasilan Inter dalam mengubah hasil menjadi kemenangan 3-2 menegaskan kualitas skuad yang dipimpin Inzaghi. Tim Nerazzurri kini melaju ke final Coppa Italia, di mana mereka akan berhadapan dengan pemenang semifinal lainnya. Sementara itu, Como harus segera mengalihkan fokus ke kompetisi liga, berusaha mempertahankan posisinya di papan klasemen Serie B.
Dalam penutupnya, Fabregas menegaskan komitmen untuk terus membangun tim yang kompetitif. “Kami akan kembali ke latihan, menganalisis setiap detail, dan memperbaiki kekurangan. Tujuan kami adalah kembali bersaing di level tertinggi, tidak hanya di Coppa Italia tetapi juga di liga,” pungkasnya.
Dengan semangat yang masih membara, Como bertekad menjadikan kegagalan ini sebagai batu loncatan. Sementara Cesc Fabregas, yang kini menapaki fase baru dalam kariernya sebagai pelatih, menunjukkan bahwa rasa bangga tidak selalu bergantung pada hasil akhir, melainkan pada proses, kerja keras, dan dedikasi yang diberikan oleh setiap anggota tim.



