123Berita – 10 April 2026 | Seorang bocah berusia tujuh tahun asal Bojonegoro, Jawa Timur, berhasil mengukir prestasi yang jarang dicapai oleh anak seusianya. Parama Hansa Abhipraya, yang akrab dipanggil Rama, baru-baru ini dinobatkan sebagai pemegang rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) berkat kemampuan luar biasanya dalam bidang piano wayang, sekaligus menorehkan prestasi gemilang di bidang matematika, seni, olahraga, dan budaya.
Penghargaan MURI yang diterima Rama bukan sekadar pengakuan atas satu kemampuan, melainkan penghargaan komprehensif yang menilai kehebatan seorang anak dalam menguasai beragam disiplin ilmu. Menurut panitia MURI, Rama menorehkan rekor sebagai “Anak Terpintar Berusia 7 Tahun dengan Prestasi Multi‑Disiplin Terbaik”. Rekor ini mencakup empat pilar utama: kemampuan musik tradisional melalui piano wayang, kecakapan matematika tingkat lanjutan, prestasi seni rupa, serta keberhasilan dalam olahraga dan kegiatan kebudayaan lokal.
Di bidang musik, Rama menampilkan pertunjukan piano wayang yang memadukan melodi piano klasik dengan karakter wayang kulit. Ia mampu menirukan suara gamelan, menambahkan efek suara wayang, serta menyajikan komposisi yang memukau penonton. Penampilannya tidak hanya memikat kalangan pecinta seni tradisional, tetapi juga menarik perhatian para musisi modern yang melihat potensi inovatif dalam menggabungkan dua warisan budaya tersebut.
Dalam matematika, Rama berhasil menyelesaikan soal‑soal setara ujian tingkat SMA, termasuk persamaan diferensial sederhana dan pemecahan masalah logika tingkat lanjutan. Ia juga memenangkan kompetisi matematika tingkat provinsi, mengalahkan peserta senior berusia lebih dari dua dekade lebih. Keberhasilan ini menegaskan bahwa bakatnya tidak terbatas pada seni, melainkan meluas ke ranah akademik.
Prestasi seni rupa Rama tercermin melalui serangkaian lukisan yang menampilkan tema wayang dan alam Jawa. Karyanya pernah dipamerkan dalam pameran seni anak-anak di Surabaya, mendapatkan pujian atas penggunaan warna yang tajam serta teknik detail yang biasanya hanya dikuasai oleh pelukis dewasa. Karya tersebut kini menjadi bagian dari koleksi tetap sebuah galeri seni di Jawa Timur.
Di arena olahraga, Rama menonjol dalam cabang renang dan senam. Pada kejuaraan renang daerah, ia meraih medali emas dalam kategori 50 meter gaya bebas untuk usianya. Selain itu, ia juga aktif dalam senam ritmik, menampilkan gerakan yang sinkron dengan alunan musik tradisional, menunjukkan keseimbangan antara ketangkasan fisik dan estetika.
Keterlibatan Rama dalam kegiatan kebudayaan tak kalah penting. Ia sering berpartisipasi dalam lomba-lomba tradisional seperti lomba baca puisi Bahasa Jawa, serta menjadi duta kecil dalam program pelestarian budaya lokal yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Jawa Timur. Peran aktifnya ini menegaskan komitmen pribadi terhadap warisan budaya daerahnya.
Penghargaan MURI yang diraih Rama tidak lepas dari dukungan kuat keluarga, khususnya orang tua yang menanamkan nilai disiplin dan cinta belajar sejak dini. Ayahnya, seorang guru matematika, mengajarkan dasar‑dasar logika dan pemecahan masalah, sementara ibunya, seorang penari tradisional, memperkenalkan dunia seni sejak kecil. Kombinasi lingkungan yang menyeimbangkan ilmu pengetahuan dan seni inilah yang menjadi fondasi kuat bagi perkembangan bakat Rama.
Selain dukungan keluarga, sekolah tempat Rama belajar juga berperan signifikan. Sekolah menengah pertama di Bojonegoro menyediakan program ekstrakurikuler yang mengintegrasikan mata pelajaran seni tradisional dengan teknologi modern. Guru musik sekolah tersebut mengarahkan Rama dalam menguasai teknik piano wayang, sementara guru matematika memberikan tantangan soal‑soal kompetisi yang memacu kemampuan analitisnya.
Keberhasilan Rama telah menarik perhatian media nasional dan menimbulkan inspirasi bagi banyak orang tua serta pendidik. Para ahli pendidikan menilai bahwa kasus Rama menjadi contoh konkret betapa pentingnya pendekatan pembelajaran holistik, di mana anak tidak dipaksa memilih antara ilmu pengetahuan atau seni, melainkan diberikan ruang untuk mengembangkan keduanya secara bersamaan.
Dalam sebuah wawancara singkat, Rama mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan yang diberikan. “Saya suka belajar hal baru, terutama yang melibatkan musik dan angka. Saya ingin terus belajar dan membantu teman-teman saya belajar juga,” ungkapnya dengan semangat. Ia menambahkan harapannya dapat menginspirasi anak‑anak lain di seluruh Indonesia untuk tidak takut mengejar impian, meski tampak menantang.
Ke depan, Rama berencana melanjutkan pelatihan piano wayang secara intensif, serta mengikuti kompetisi matematika tingkat nasional. Ia juga berkeinginan untuk menulis buku tentang pengalamannya menggabungkan musik tradisional dengan teknologi modern, yang diharapkan dapat menjadi panduan bagi generasi muda.
Penghargaan ini menegaskan bahwa bakat luar biasa dapat muncul dari daerah manapun, asalkan ada dukungan yang tepat dan lingkungan yang mendukung eksplorasi kreatif. Cerita Rama Abhipraya tidak hanya menjadi catatan prestasi pribadi, melainkan simbol kebanggaan daerah Bojonegoro dan inspirasi nasional untuk memupuk generasi muda yang cerdas, kreatif, dan berbudaya.
Dengan pencapaian yang telah diraih, Rama menjadi contoh nyata bahwa usia bukanlah penghalang bagi inovasi dan keberhasilan. Ia membuktikan bahwa kombinasi antara dedikasi, dukungan keluarga, dan fasilitas pendidikan yang memadai dapat melahirkan prestasi yang melampaui batas usia. Ke depan, harapan besar menanti bagi bocah berbakat ini untuk terus menorehkan jejak sejarah di panggung nasional maupun internasional.





