123Berita – 08 April 2026 | Indonesia kembali menjadi panggung sastra internasional lewat antologi puisi berjudul Meja Keabadian. Karya ini disusun oleh penyair asal Korea Selatan, Sagong Kyung, yang menelusuri lanskap, budaya, dan jiwa Nusantara melalui lensa perempuan penyair Asia Timur. Buku ini tidak sekadar mengumpulkan rangkaian bait, melainkan menjadi jembatan dialog lintas budaya, memperkenalkan keunikan Indonesia kepada pembaca global.
Sagong Kyung, yang telah menorehkan reputasi kuat dalam dunia puisi kontemporer Korea, mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi sumber inspirasi utama setelah ia melakukan serangkaian kunjungan ke berbagai provinsi. Dari sabana Padang Padang, hutan tropis Kalimantan, hingga riuh pasar tradisional di Yogyakarta, setiap sudut negara kepulauan ini menorehkan jejak emosional yang kemudian dituangkan dalam barisan kata. Dalam Meja Keabadian, ia menempatkan diri sebagai pengamat sekaligus partisipan, menulis dengan sensitivitas khas perempuan yang menyoroti detail-detail halus namun bermakna.
Antologi tersebut memuat lebih dari tiga puluh puisi, dibagi menjadi tiga bagian tematik: “Alam dan Kehidupan”, “Sejarah dan Identitas”, serta “Harapan dan Kedamaian”. Bagian pertama menampilkan deskripsi pemandangan alam Indonesia yang megah, seperti gunung berapi yang berasap, terumbu karang yang berwarna-warni, serta lautan yang menyimpan misteri. Dalam salah satu puisi, Sagong menulis, “Bumi berbisik melalui ombak, menuturkan legenda yang terpendam di antara pasir putih”—sebuah metafora yang mengaitkan suara alam dengan narasi budaya.
Bagian kedua menyelami warisan sejarah, mengangkat tokoh-tokoh pahlawan lokal, serta tradisi yang telah melintasi generasi. Ia menyoroti peran perempuan dalam menjaga kebudayaan, menulis, “Di balik anyaman batik, terdapat tangan perempuan yang menenun cerita perjuangan”. Puisi-puisi ini tidak sekadar memuji keindahan visual, melainkan mengangkat isu-isu sosial, seperti perjuangan perempuan di daerah pedesaan, keberagaman agama, serta tantangan modernisasi.
Bagian ketiga berfokus pada aspirasi masa depan, mengekspresikan harapan akan perdamaian, keberlanjutan, dan persatuan. Sagong menutup antologi dengan puisi berjudul “Meja Keabadian”, di mana ia membayangkan sebuah meja metaforis yang menghubungkan masa lalu dan masa depan, menampung semua kisah manusia dari Sabang sampai Merauke. “Di atas meja ini, tiap jejak kaki menorehkan tinta tak pernah pudar,” tulisnya, menegaskan bahwa cerita Indonesia akan terus hidup selamanya.
Peluncuran Meja Keabadian digelar di Jakarta pada awal pekan ini, dihadiri oleh kalangan akademisi, penulis, serta pecinta sastra. Acara tersebut menampilkan diskusi panel yang membahas pentingnya sastra lintas budaya dalam memperkuat pemahaman antarbangsa. Sagong Kyung menekankan bahwa melalui puisi, jarak geografis dapat terhapus, dan empati dapat tumbuh lebih kuat. “Puisi adalah bahasa universal yang melampaui kata-kata, menyentuh hati tanpa memerlukan terjemahan,” ujarnya.
Para kritikus sastra lokal memberikan tanggapan positif terhadap karya ini. Menurut seorang kritikus senior, antologi ini berhasil menampilkan perspektif luar yang segar tanpa mengurangi kedalaman budaya Indonesia. Ia menilai bahwa Sagong mampu menyeimbangkan antara keaslian pengalaman pribadi dengan keakuratan representasi budaya, menjadikan buku ini sebagai contoh penting bagi penulis lain yang ingin menulis tentang budaya asing.
Di samping nilai estetika, Meja Keabadian juga memiliki nilai edukatif. Buku ini dijadikan referensi dalam beberapa program pertukaran budaya antara universitas di Korea Selatan dan Indonesia. Mahasiswa sastra dan antropologi dapat mempelajari bagaimana seorang penyair luar negeri menginterpretasikan simbol-simbol lokal, sekaligus mengevaluasi bagaimana narasi tersebut berkontribusi pada dialog budaya yang lebih luas.
Keberadaan antologi ini diharapkan dapat memperluas cakupan pasar literatur Indonesia di luar negeri. Dengan terjemahan yang tersedia dalam bahasa Korea, Inggris, dan Indonesia, buku ini menjadi jembatan penting bagi pembaca internasional yang ingin memahami Indonesia melalui sudut pandang yang berbeda. Penjualan awal menunjukkan respons positif, dengan permintaan yang meningkat di toko buku daring maupun konvensional di Seoul, Busan, dan Jakarta.
Secara keseluruhan, Meja Keabadian bukan hanya sekadar kumpulan puisi, melainkan sebuah manifestasi seni yang menegaskan pentingnya kolaborasi budaya. Melalui lensa seorang perempuan penyair Korea, Indonesia dipresentasikan sebagai negeri yang kaya akan keindahan alam, warisan sejarah, dan harapan masa depan. Karya ini mengajak pembaca untuk merenungkan kembali cara kita melihat dan menghargai perbedaan, serta menginspirasi generasi penulis muda untuk mengeksplorasi cerita lintas batas.
Dengan antologi ini, Sagong Kyung menegaskan posisi Indonesia dalam percakapan global sastra, sekaligus menambahkan babak baru dalam sejarah hubungan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan. Keberhasilan Meja Keabadian menjadi bukti bahwa seni dapat menjadi jembatan abadi, menghubungkan beragam bangsa di atas sebuah meja yang tak pernah usang.





