123Berita – 08 April 2026 | Suasana tenang menunggu azan Maghrib berubah menjadi tragedi mengerikan di sebuah kampung di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKU Timur), Sumatera Selatan, pada sore hari kemarin. Seorang laki-laki berusia lebih dari 70 tahun yang sedang duduk santai di pinggir jalan tiba-tiba menjadi korban serangan brutal yang dilakukan oleh sekelompok pemuda setempat. Menurut keterangan saksi mata, korban tampak sedang menikmati waktu luang sambil menunggu panggilan adzan ketika tiga orang remaja yang tidak dikenal mendekat, mengeluarkan pisau, dan secara tiba-tiba menyerangnya. Luka-luka yang diderita korban sangat parah, sehingga ia tidak sempat mendapatkan pertolongan medis yang memadai dan akhirnya dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Polisi setempat langsung melakukan respons cepat setelah menerima laporan. Tim gabungan Polri dan Satpol PP tiba di lokasi dalam hitungan menit, mengamankan area, dan melakukan olah TKP (tempat kejadian perkara). Selanjutnya, aparat berhasil menangkap dua pelaku yang merupakan warga setempat berusia 19 dan 20 tahun. Kedua tersangka ditahan di kantor kepolisian Kabupaten OKU Timur untuk proses penyelidikan lebih lanjut. Satu orang lagi yang diduga menjadi saksi utama masih dalam proses penelusuran.
Kapolsek OKU Timur, Kombes Pol. Andi Pratama, menyatakan bahwa motivasi serangan belum dapat dipastikan secara pasti. “Kami masih mengumpulkan bukti, termasuk rekaman CCTV dari beberapa kedai di sekitar lokasi dan keterangan saksi. Hingga saat ini, kami belum menemukan motif yang jelas, apakah terkait perselisihan pribadi, geng, atau faktor lainnya,” ujarnya dalam konferensi pers singkat. Ia menambahkan bahwa pihak kepolisian akan menuntut pelaku sesuai dengan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang mengatur tentang pembunuhan dan penganiayaan.
Kasus ini memicu keprihatinan luas di kalangan masyarakat OKU Timur. Warga kampung yang biasanya dikenal ramah dan damai kini menyuarakan kecemasan akan meningkatnya aksi kekerasan di antara pemuda. “Kami dulu selalu merasa aman di sini. Namun, kejadian ini membuat kami takut keluar rumah, apalagi ketika masih gelap,” keluh seorang warga yang menolak disebutkan namanya. Para tokoh agama dan tokoh masyarakat setempat pun menggelar pertemuan darurat untuk membahas langkah-langkah preventif, termasuk peningkatan patroli keamanan malam hari dan program penyuluhan anti‑kekerasan bagi generasi muda.
Di samping upaya aparat, sejumlah organisasi non‑pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang perlindungan anak dan remaja menawarkan bantuan konseling bagi keluarga korban serta pelaku. Mereka menekankan pentingnya pendekatan holistik, yaitu tidak hanya menghukum pelaku, tetapi juga mengidentifikasi akar permasalahan sosial yang melahirkan perilaku agresif pada pemuda. “Kita harus melihat faktor-faktor seperti pengangguran, kurangnya fasilitas rekreasi, dan pendidikan nilai-nilai moral yang kuat,” ujar salah satu aktivis dari LSM Setempat.
Kasus pembunuhan ini menambah daftar panjang insiden kekerasan yang terjadi di daerah pedalaman Sumatera Selatan dalam beberapa bulan terakhir. Menurut data kepolisian, angka kejahatan dengan motif pribadi meningkat sebesar 12% pada kuartal pertama 2024 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah mengumumkan rencana penambahan pos keamanan di wilayah rawan serta program pelatihan kerja bagi pemuda usia 16‑24 tahun sebagai upaya jangka panjang untuk meredam potensi konflik serupa di masa depan.
Dalam kesimpulannya, tragedi yang menimpa seorang kakek di OKU Timur menjadi pengingat keras akan pentingnya keamanan publik, peran aktif kepolisian, dan kebutuhan akan intervensi sosial yang menyeluruh. Penangkapan pelaku merupakan langkah awal yang tepat, namun penegakan hukum saja tidak cukup. Diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga keamanan, organisasi masyarakat, dan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang aman dan damai, terutama bagi generasi lanjut usia yang rentan menjadi korban kekerasan. Hanya dengan pendekatan yang komprehensif, diharapkan kasus serupa tidak terulang kembali di wilayah ini.





