123Berita – 06 April 2026 | Dalam laga penutup putaran pertama Liga 1 yang digelar di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Persita Tangerang mengalami kekalahan tipis 0-1 dari Persebaya Surabaya. Kekalahan tersebut menimbulkan kekecewaan yang sangat besar bagi pemain depan asal Spanyol, Carlos Pena, yang secara terbuka mengungkap rasa frustrasinya atas ketidakmampuan tim dalam memanfaatkan peluang emas yang diciptakan selama pertandingan.
Sejak peluit pertama, Persita menunjukkan pola permainan yang agresif, menekan lini pertahanan Persebaya dan menciptakan sejumlah peluang berbahaya. Namun, serangan-serangan itu berujung pada tembakan meleset, tendangan sudut yang tidak tepat sasaran, hingga satu kesempatan hampir menjadi gol yang diselamatkan oleh kiper Andri Ibo secara gemilang. “Kami sudah menciptakan banyak peluang, bahkan ada yang hampir masuk. Tapi kami tidak bisa menyelesaikannya,” ujar Pena dalam konferensi pers pasca pertandingan, dengan nada yang mengindikasikan kekecewaan mendalam.
Selain kegagalan mengeksekusi peluang, taktik yang diterapkan pelatih Persita, Rahmad Darmawan, juga menjadi sorotan. Penggunaan formasi 4-3-3 yang seharusnya memberi kebebasan bagi Carlos Pena dan rekan-rekannya di lini depan tampak kurang optimal pada menit-menit krusial. Pergantian posisi pemain sayap yang terlalu sering mengganggu alur serangan, serta kurangnya penetrasi melalui lini tengah, menjadi faktor yang memperparah ketidakmampuan tim mengubah tekanan menjadi poin.
Reaksi para pendukung Persita di stadion pun tidak kalah keras. Suara sorakan berubah menjadi keluhan ketika tim gagal mencetak gol meski mendominasi penguasaan bola. Beberapa suporter bahkan menyoroti kurangnya keberanian dalam mengambil tembakan jarak jauh, mengingat pertahanan Persebaya yang cukup rapuh pada sisi kiri. “Kami menonton tim kami menguasai lapangan, tetapi tidak ada yang berani menembak ke sudut kecil,” keluh salah satu suporter yang mengidentifikasi dirinya sebagai anggota Persita Mania.
Di sisi lain, pelatih Persebaya, Aji Santoso, memanfaatkan peluang yang terbatas dengan sangat efisien. Gol tunggal yang dicetak oleh striker asal Brazil, Matheus, pada menit ke-78 menjadi hasil dari serangan balik cepat yang melibatkan umpan silang dari bek kiri. Keberhasilan strategi serangan balik tersebut menambah tekanan pada pertahanan Persita yang tampak kelelahan akibat serangan terus-menerus.
Setelah pertandingan, Carlos Pena menekankan pentingnya mentalitas akhir yang kuat. “Kami harus belajar menahan tekanan di menit-menit akhir dan menyelesaikan peluang dengan tepat,” tegasnya. Pena menambahkan bahwa tim harus meningkatkan kerja sama antar lini, terutama antara gelandang dan penyerang, untuk menciptakan kombinasi yang lebih tajam dan tidak mudah dipatahkan oleh lawan.
Kekalahan ini membawa Persita turun ke posisi ke-10 klasemen dengan 16 poin, sementara Persebaya naik ke posisi ke-6 dengan 18 poin, memperkecil jarak mereka dari zona aman. Analisis pasca pertandingan memperkirakan bahwa jika Persita berhasil mengubah setidaknya setengah dari peluang yang diciptakan menjadi gol, hasil akhir bisa berbalik menjadi kemenangan atau setidaknya hasil imbang.
Ke depan, Persita akan menghadapi pertandingan penting melawan PSM Makassar di kandang. Pelatih Rahmad Darmawan dijadwalkan melakukan perubahan taktik, termasuk menambah intensitas pressing di daerah pertahanan lawan dan meningkatkan akurasi tembakan. Sementara itu, Carlos Pena diharapkan menjadi katalisator utama dalam mengubah dinamika serangan tim menjadi gol yang konkret.
Secara keseluruhan, kekecewaan yang diungkapkan oleh Carlos Pena mencerminkan kebutuhan mendesak bagi Persita untuk meningkatkan eksekusi akhir dan menyesuaikan strategi permainan. Tanpa perubahan signifikan, peluang emas yang terus terlewat akan terus menghambat harapan tim untuk bersaing di papan atas klasemen Liga 1.





