123Berita – 04 April 2026 | Demak, Jawa Tengah – Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah hulu pada akhir pekan lalu memicu naiknya debit sungai hingga melampaui kapasitas normal. Akibatnya, beberapa tanggul di daerah Dukuh Solowere dan Selodoko mengalami kerusakan berat dan akhirnya jebol, menimbulkan banjir redam yang meluas ke beberapa kecamatan di Kabupaten Demak. Hingga kini, sebanyak 583 warga terpaksa mengungsi ke posko pengungsian yang telah disiapkan Pemerintah Kabupaten dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Satu orang dilaporkan hilang dan masih dalam pencarian intensif.
Petugas BPBD mengonfirmasi bahwa seluruh proses evakuasi berlangsung secara terkoordinasi dengan aparat keamanan, TNI, Polri, serta relawan masyarakat. Sebanyak 15 tim relawan dibentuk untuk membantu pendistribusian bantuan makanan, air bersih, serta perlengkapan sanitasi. Hingga saat ini, lebih dari 2.500 paket sembako dan 1.200 liter air mineral telah didistribusikan kepada para pengungsi. Selain itu, fasilitas kesehatan sementara telah dibuka di posko utama untuk menangani kasus-kasus darurat, terutama bagi lansia dan anak-anak.
Kasus orang yang hilang masih menjadi fokus utama tim SAR. Identitas korban belum diumumkan secara resmi, namun pihak berwenang menyatakan bahwa pencarian sedang dilakukan secara intensif baik melalui tim darat maupun penggunaan drone pemantau. Pemerintah Kabupaten Demak telah menyiapkan tim khusus yang berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk memperluas area pencarian, termasuk daerah rawa-rawa yang rawan terselipnya korban.
Kerusakan infrastruktur akibat banjir ini cukup signifikan. Beberapa jembatan penyeberangan di jalur utama, termasuk Jembatan Selodoko, mengalami kerusakan struktural yang mengakibatkan penutupan total. Jalan raya demak‑Kendal dan jalur akses ke desa-desa terdampak terpaksa dialihkan, menyebabkan keterlambatan distribusi bantuan dan menghambat mobilitas penduduk. Pemerintah Kabupaten telah mengirimkan tim teknis untuk melakukan inspeksi dan memperkirakan biaya perbaikan, yang diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah.
Mayoritas pengungsi berasal dari keluarga petani yang kehilangan lahan tanam dan fasilitas penyimpanan hasil pertanian. Tanaman padi dan sayuran yang sedang dalam fase pertumbuhan rusak parah, mengancam ketahanan pangan lokal. BPBD bersama Dinas Pertanian setempat berkomitmen menyediakan bibit pengganti serta bantuan pupuk untuk memulihkan produksi pertanian setelah banjir surut. Program rehabilitasi pertanian diproyeksikan akan dimulai dalam dua minggu ke depan, sejalan dengan upaya pemulihan infrastruktur.
Dalam menanggapi kejadian ini, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menyampaikan dukungan penuh kepada Demak. Ia menegaskan bahwa bantuan dari pemerintah provinsi, termasuk alokasi dana darurat, akan segera disalurkan. Gubernur juga mengingatkan pentingnya perbaikan dan penguatan sistem tanggul serta peningkatan sistem peringatan dini agar kejadian serupa dapat diminimalisir di masa depan.
Sementara itu, para ahli hidrologi mengingatkan bahwa perubahan iklim berpotensi meningkatkan frekuensi dan intensitas curah hujan ekstrem di wilayah Indonesia. Mereka menekankan perlunya penataan ruang yang lebih baik, termasuk penanaman kembali hutan di daerah hulu untuk menahan aliran air, serta pengembangan sistem drainase yang memadai di daerah rawan banjir.
Pengungsi yang telah menempati posko diharapkan dapat kembali ke rumah masing-masing setelah kondisi aman. Pemerintah Kabupaten Demak berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan bencana kali ini, termasuk meninjau kembali kebijakan pembangunan tanggul dan prosedur evakuasi. Diharapkan, dengan pembelajaran dari peristiwa ini, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah dapat ditingkatkan untuk menghadapi potensi bencana alam yang semakin kompleks.





