Waspada! Kandungan Tersembunyi pada Susu Formula yang Bisa Merusak Gigi Anak

Waspada! Kandungan Tersembunyi pada Susu Formula yang Bisa Merusak Gigi Anak
Waspada! Kandungan Tersembunyi pada Susu Formula yang Bisa Merusak Gigi Anak

123Berita – 09 April 2026 | Masalah kesehatan gigi pada anak semakin mengkhawatirkan di Indonesia. Sementara banyak orang tua memilih susu formula hanya karena iklan yang menjanjikan manfaat tumbuh kembang, para ahli kini menyoroti risiko tersembunyi yang dapat memperburuk kondisi gigi si kecil. Dokter gigi dan nutrisi memperingatkan pentingnya memeriksa label secara teliti, terutama keberadaan gula tambahan, asam fosfat, dan bahan kimia lain yang sering tidak disebutkan secara jelas pada kemasan.

Dokter gigi anak, dr. Andi Pratama, menjelaskan bahwa gula tidak hanya berkontribusi pada pembentukan plak, tetapi juga menurunkan pH mulut, menciptakan lingkungan asam yang mempercepat demineralisasi enamel. “Bahkan bila gula hanya 2-3 persen, jika dikonsumsi secara rutin setiap hari, risiko karies meningkat secara signifikan,” ungkapnya.

Bacaan Lainnya

Selain gula, beberapa merek susu formula mengandung asam fosfat sebagai penstabil atau pengatur pH. Asam ini bersifat korosif jika terakumulasi di mulut, terutama pada anak yang belum memiliki kebiasaan menyikat gigi secara optimal. “Asam fosfat dapat melarutkan mineral pada email gigi, yang pada gilirannya memudahkan bakteri penyebab gigi berlubang untuk berkembang,” tambah dr. Andi.

Para peneliti juga menemukan adanya bahan pengawet dan pewarna buatan yang berpotensi menimbulkan alergi atau sensitivitas pada sebagian anak. Meskipun tidak secara langsung menyebabkan kerusakan gigi, reaksi alergi dapat mengganggu kebiasaan makan dan menyulitkan proses pembersihan gigi, sehingga menambah beban pada kesehatan mulut.

Berikut adalah poin-poin penting yang harus diperiksa orang tua sebelum membeli susu formula:

  • Kandungan gula tambahan: Periksa istilah “sugar”, “sucrose”, “fructose”, “glucose”, atau “high fructose corn syrup” pada daftar bahan.
  • Asam fosfat atau bahan pengatur pH: Cari kata “phosphoric acid” atau “acidulant”.
  • Pewarna dan pengawet buatan: Hindari produk dengan “artificial color” atau “preservative” yang tidak diperlukan.
  • Kadar kalsium dan vitamin D: Pastikan tidak mengorbankan nutrisi penting demi menurunkan biaya produksi.
  • Informasi label yang jelas: Pilih merek yang mencantumkan semua bahan secara lengkap, termasuk sumber protein dan jenis lemak.

Selain memeriksa label, dokter menyarankan beberapa langkah praktis untuk melindungi gigi anak:

  1. Berikan air putih setelah anak mengonsumsi susu formula, untuk membantu mengurangi sisa gula di mulut.
  2. Ajarkan kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari dengan pasta gigi berfluoride sejak usia pertama kali gigi muncul.
  3. Lakukan pemeriksaan gigi rutin setiap enam bulan ke dokter gigi.
  4. Jika memungkinkan, pilih susu formula yang tidak mengandung gula tambahan atau berlabel “no added sugar”.

Para ahli menegaskan bahwa tidak semua susu formula berbahaya. Banyak produsen yang telah meningkatkan standar kualitas dengan mengurangi gula dan meniadakan bahan kimia berpotensi berbahaya. Namun, tantangan utama terletak pada kurangnya edukasi konsumen mengenai pentingnya membaca label secara kritis.

“Kebijakan pelabelan yang lebih transparan sangat dibutuhkan,” kata dr. Andi. “Jika produsen diwajibkan menampilkan kandungan gula per sajian secara jelas, orang tua dapat membuat keputusan yang lebih tepat untuk kesehatan anak mereka.”

Selain itu, Kementerian Kesehatan Indonesia tengah merumuskan regulasi baru yang mewajibkan semua produk susu formula mencantumkan informasi nutrisi lengkap, termasuk total gula tambahan. Diharapkan kebijakan ini akan mengurangi kebingungan konsumen dan menurunkan prevalensi karies gigi pada anak balita.

Dalam konteks yang lebih luas, masalah ini mencerminkan pentingnya sinergi antara industri makanan, regulator, dan tenaga kesehatan. Sementara produsen berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan nutrisi dan rasa, peran dokter dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tetap krusial.

Kesimpulannya, susu formula dapat menjadi pilihan nutrisi yang baik bila dipilih dengan bijak. Orang tua harus teliti memeriksa label, menghindari produk dengan gula tambahan dan asam fosfat, serta menerapkan kebiasaan kebersihan mulut yang konsisten. Dengan langkah-langkah tersebut, risiko kerusakan gigi pada anak dapat ditekan secara signifikan, sehingga pertumbuhan dan perkembangan mereka tetap optimal.

Pos terkait