123Berita – 05 April 2026 | Jakarta, 2 April 2026 – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) menampung audiensi gabungan dari Pengusaha Jamu Indonesia (GP Jamu), Acaraki, serta pelaku industri kreatif di kantor Kementerian Ekonomi Kreatif. Pertemuan tersebut difokuskan pada penguatan pelaksanaan Festival Jamu Nusantara 2026 sebagai wadah strategis untuk mengangkat jamu tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai produk kreatif yang relevan dengan tren masa kini.
Festival Jamu Nusantara 2026 dirancang menjadi ajang berskala nasional yang menggabungkan elemen budaya dengan subsektor-sektor kreatif, mulai dari kuliner, seni, fesyen, pengalaman interaktif, hingga wellness. Berbeda dengan edisi sebelumnya, festival tahun ini akan terpusat dalam satu momentum dua hari, yakni 6 hingga 7 Juni 2026 di Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Jamu Nasional.
Wamen Ekraf menegaskan pentingnya memperkuat narasi jamu sebagai bagian dari gaya hidup modern. “Festival Jamu Nusantara harus mampu menghadirkan pengalaman autentik yang juga relevan dengan generasi muda. Kami ingin jamu tidak hanya dikenal sebagai tradisi, tetapi menjadi bagian dari lifestyle yang membanggakan,” ujarnya pada Kamis, 2 April 2026.
Selain menekankan aspek budaya, Menteri menyoroti peran festival sebagai platform kolaboratif yang inklusif antara pebisnis, kreator, dan komunitas. “Kementerian Ekraf siap mendukung inisiatif yang mampu menghubungkan warisan budaya dengan inovasi,” tambahnya, menegaskan komitmen pemerintah dalam membuka akses pasar lebih luas bagi produk jamu tradisional.
Ketua Umum GP Jamu, Jony Yuwono, menilai Festival Jamu Nusantara 2026 berpotensi menjadi gerakan budaya nasional berkelanjutan. “Kami ingin menjadikan festival ini sebagai perayaan tahunan berskala nasional yang mampu mengangkat jamu ke level yang lebih tinggi, baik dari sisi budaya maupun nilai ekonominya. Kolaborasi dengan pemerintah menjadi kunci untuk memperluas dampaknya,” ujarnya.
Dalam audiensi tersebut, dibahas pula upaya penguatan nilai kekayaan intelektual melalui digitalisasi budaya. Salah satu contoh konkret adalah platform Alih Aksara Nusantara, hasil kolaborasi antara Acaraki dan GP Jamu, yang bertujuan memfasilitasi desain, branding, dan kampanye berbasis identitas lokal yang otentik.
Festival Jamu Nusantara 2026 diharapkan tidak hanya menjadi pameran produk, melainkan arena edukasi yang menampilkan proses pembuatan jamu, manfaat kesehatan, serta inovasi rasa dan kemasan yang selaras dengan tren konsumen masa kini. Beberapa sesi interaktif yang direncanakan meliputi workshop pembuatan jamu, talkshow bersama ahli gizi, serta showcase fashion yang mengangkat motif tradisional jamu.
Direktur Kuliner Kementerian Ekraf, Andy Ruswar, turut mendampingi Wamen Ekraf dalam pertemuan tersebut. Ia menambahkan bahwa dukungan pemerintah akan memperkuat ekosistem kreatif, memfasilitasi akses pembiayaan, serta memperluas jaringan distribusi jamu ke pasar internasional.
Dengan dukungan lintas sektor, diharapkan festival ini dapat menjadi bagian dari “The New Engine of Growth” bagi Indonesia, sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa di panggung global. Keberhasilan acara ini akan menguji sinergi antara kebijakan publik, inovasi kreatif, dan semangat wirausaha dalam mentransformasikan jamu dari warisan tradisional menjadi produk lifestyle yang diminati generasi milenial dan Gen Z.
Secara keseluruhan, Festival Jamu Nusantara 2026 menandai langkah penting dalam upaya rebranding jamu, menjadikannya tidak hanya sekadar minuman tradisional, tetapi juga simbol kreativitas dan kebanggaan Indonesia yang dapat bersaing di pasar global.





