123Berita – 08 April 2026 | Penelitian internasional terbaru mengidentifikasi bahan kimia phthalates yang terdapat dalam produk plastik sebagai salah satu penyebab utama kelahiran prematur. Berdasarkan analisis data kesehatan global, diperkirakan sebanyak dua juta bayi lahir prematur akibat paparan phthalates, sementara lebih dari 74.000 anak meninggal sebelum usia satu tahun.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Amelia Hartanto, seorang epidemiolog dari Universitas Global Health, memanfaatkan data survei kesehatan ibu hamil yang melibatkan lebih dari 150.000 peserta di lima benua. Metode statistik canggih menghubungkan tingkat konsentrasi phthalates dalam urin ibu dengan risiko kelahiran prematur, bahkan setelah mengendalikan faktor-faktor risiko tradisional seperti merokok, usia ibu, dan kondisi medis pre‑existing.
Hasil utama menunjukkan bahwa wanita hamil dengan kadar phthalates di atas ambang batas tertentu memiliki peluang hampir tiga kali lebih tinggi untuk melahirkan bayi sebelum usia kehamilan 37 minggu dibandingkan dengan mereka yang memiliki kadar rendah. Jika digeneralisasikan ke populasi global, temuan tersebut menambah perkiraan dua juta kasus kelahiran prematur yang dapat dikaitkan langsung dengan paparan bahan kimia tersebut.
Selain meningkatkan risiko prematuritas, studi tersebut juga menyoroti konsekuensi fatal pada neonatus. Analisis mortalitas neonatal mengungkapkan bahwa bayi yang lahir prematur akibat paparan phthalates memiliki tingkat kematian neonatal yang signifikan lebih tinggi, menambah angka kematian sekitar 74.000 anak setiap tahunnya. Peneliti menekankan bahwa angka-angka ini masih dapat meningkat mengingat keterbatasan data pada negara‑negara berpendapatan rendah.
Phthalates merupakan kelompok senyawa kimia yang ditambahkan ke dalam plastik untuk meningkatkan fleksibilitas, keawetan, dan daya tahan produk. Bahan ini ditemukan secara luas dalam botol minuman, kemasan makanan, mainan anak, serta produk perawatan pribadi. Karena sifatnya yang tidak terikat secara kimiawi pada polimer, phthalates dapat lepas dan masuk ke dalam makanan atau cairan yang bersentuhan langsung dengan plastik.
Secara biologis, phthalates berperan sebagai pengganggu hormon (endocrine disruptor). Mereka dapat meniru atau memblokir hormon alami, mengganggu proses regulasi hormon yang penting selama kehamilan, seperti progesteron dan estrogen. Gangguan ini dapat mempengaruhi pertumbuhan plasenta, aliran darah ke janin, serta perkembangan sistem saraf dan organ vital, yang pada akhirnya meningkatkan kemungkinan kelahiran prematur.
Dr. Hartanto menyatakan, “Temuan ini menegaskan bahwa paparan bahan kimia sehari‑hari tidak dapat dianggap remeh, terutama pada populasi yang paling rentan seperti ibu hamil dan janin. Kebijakan kesehatan publik harus segera menanggapi bukti ilmiah ini dengan tindakan yang tegas.”
Para peneliti menyerukan penetapan regulasi yang lebih ketat terhadap penggunaan phthalates dalam produk konsumen, terutama yang berpotensi bersentuhan langsung dengan makanan atau kulit anak-anak. Mereka mengusulkan pembatasan maksimum konsentrasi phthalates dalam kemasan makanan, serta larangan penggunaan senyawa ini pada mainan dan peralatan bayi.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan, telah menyatakan komitmen untuk meninjau kembali standar keamanan bahan kimia dalam produk plastik. Menteri Kesehatan, dr. Budi Santoso, mengatakan, “Kami akan berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta lembaga terkait untuk memperketat standar produksi, sekaligus meningkatkan edukasi publik tentang bahaya phthalates.”
Sementara itu, organisasi non‑pemerintah seperti Lembaga Perlindungan Anak (LPA) mendorong konsumen untuk memilih produk yang bersertifikat bebas phthalates, serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Tips praktis yang disarankan meliputi mengganti botol plastik dengan wadah kaca, menghindari pemanasan makanan dalam wadah plastik, serta memeriksa label produk yang mencantumkan “phthalate‑free”.
Kesimpulannya, penelitian ini menyoroti hubungan kuat antara paparan phthalates pada plastik dan peningkatan kasus kelahiran prematur serta kematian neonatal secara global. Penemuan tersebut memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi pembuat kebijakan untuk memperketat regulasi bahan kimia berbahaya, sekaligus meningkatkan kesadaran publik tentang langkah‑langkah pencegahan yang dapat diambil sehari‑hari. Upaya kolaboratif antara pemerintah, industri, peneliti, dan masyarakat menjadi kunci untuk melindungi generasi masa depan dari ancaman tersembunyi di dalam produk plastik yang kita gunakan setiap hari.