123Berita – 05 April 2026 | Tim Ratoh Jaroe dari SMA Negeri 4 Semarang (SMAPA) menorehkan prestasi gemilang dengan mewakili Indonesia dalam Thailand International Folklore Festival yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand. Keberangkatan tim ini tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, melainkan sebuah misi budaya yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal serta menegaskan peran generasi muda dalam diplomasi budaya.
Festival seni folklor internasional tersebut mempertemukan lebih dari dua puluh negara peserta, masing-masing menampilkan tarian tradisional, musik, dan kostum khas. Indonesia, melalui SMAN 4 Semarang, menampilkan rangkaian pertunjukan yang memadukan keunikan seni Jawa Tengah dengan sentuhan modern, menjadikan penonton asing terpukau oleh keindahan dan keragaman budaya Nusantara.
Tim Ratoh Jaroe terdiri atas 30 siswa-siswi yang dipilih melalui proses audisi ketat di tingkat provinsi. Para peserta menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan, meliputi pembelajaran koreografi tradisional, pemahaman makna filosofi setiap gerakan, serta penyusunan kostum yang autentik. Pelatih utama, Bapak Hadi Prasetyo, guru seni budaya di SMAN 4 Semarang, menegaskan pentingnya keseriusan dan disiplin dalam menyiapkan pertunjukan yang akan dipertontonkan di panggung internasional.
“Kami ingin menampilkan bukan hanya keindahan visual, tetapi juga pesan kebersamaan, toleransi, dan semangat gotong royong yang menjadi inti budaya Indonesia,” ujar salah satu anggota tim, Rina Sari, yang berperan sebagai penari utama. Rina menambahkan bahwa persiapan fisik dan mental menjadi kunci utama, mengingat standar kompetisi internasional yang sangat tinggi.
Pada hari pembukaan festival, tim SMAN 4 Semarang menampilkan tiga nomor utama: “Tari Gambang Sula”, sebuah tarian tradisional Jawa Tengah yang menggambarkan keseharian petani; “Wayang Kulit Modern”, adaptasi wayang kulit klasik yang dipadukan dengan teknologi pencahayaan LED; serta “Karnaval Kostum Batik”, parade kostum batik berwarna cerah yang menonjolkan motif-motif khas Solo dan Yogyakarta. Setiap nomor disertai musik tradisional yang diaransemen ulang oleh grup musik sekolah, menciptakan suasana yang hidup dan dinamis.
- Nomor 1: Tari Gambang Sula – menonjolkan gerakan halus dan sinkronisasi kelompok.
- Nomor 2: Wayang Kulit Modern – menggabungkan cerita epik Ramayana dengan visual futuristik.
- Nomor 3: Karnaval Kostum Batik – parade warna-warni dengan kostum yang dirancang oleh siswa-siswi jurusan desain.
Penampilan tim SMAN 4 Semarang memperoleh sambutan hangat dari juri internasional. Juri menilai bahwa keaslian gerakan, kesesuaian kostum, serta energi panggung layak mendapat pujian tertinggi. Dalam sesi penjurian, mereka menerima nilai rata-rata 9,2 dari skala 10, menempatkan Indonesia pada posisi teratas di antara peserta lain.
Selain kompetisi, tim juga berkesempatan melakukan pertukaran budaya dengan delegasi dari Thailand, Malaysia, Jepang, dan Kenya. Workshop bersama para seniman lokal Thailand memperkaya wawasan mereka mengenai teknik tari tradisional Thai yang mengandalkan gerakan kaki yang cepat dan ritme musik gamelan Thai. Dialog antar budaya ini memperkuat jaringan kerjasama seni lintas negara, membuka peluang kolaborasi di masa depan.
Pencapaian ini tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah serta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, memberikan apresiasi publik melalui media sosial, menyoroti peran penting sekolah dalam menumbuhkan rasa nasionalisme dan kebanggaan budaya pada generasi muda. Pemerintah provinsi juga menyiapkan beasiswa seni bagi siswa-siswa berprestasi sebagai bentuk penghargaan dan motivasi lanjutan.
Keberhasilan SMAN 4 Semarang ini memberikan dampak positif bagi citra pendidikan di Indonesia. Sekolah menengah menengah umum (SMAN) yang biasanya dikenal dengan prestasi akademik kini semakin diakui sebagai pusat pengembangan bakat seni. Hal ini diharapkan dapat mendorong kebijakan pendidikan yang lebih inklusif, mengintegrasikan seni budaya dalam kurikulum formal secara lebih intensif.
Di akhir festival, tim Ratoh Jaroe kembali ke Indonesia dengan membawa pulang medali perak serta piagam penghargaan dari panitia internasional. Mereka juga mengumpulkan materi dokumentasi visual yang akan dipresentasikan di sekolah, sebagai bahan edukasi dan inspirasi bagi siswa-siswa berikutnya.
Prestasi ini menegaskan bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, melainkan aset strategis yang dapat memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional. Dengan semangat yang terus menyala, generasi muda Indonesia siap menjadi duta budaya yang menginspirasi dunia.





