123Berita – 06 April 2026 | Tim peneliti internasional yang dipimpin oleh ilmuwan geofisika telah mengungkap keberadaan sebuah reservoir air raksasa yang terletak sekitar 700 kilometer di bawah permukaan Bumi, tepatnya di dalam mantel atas. Volume air yang diperkirakan tersimpan di dalam celah‑celah batuan ini setara dengan tiga kali total volume air di semua lautan dunia, menjadikannya penemuan terbesar dalam sejarah ilmu kebumian terkait cairan bawah permukaan.
Penelitian ini memanfaatkan teknik seismik refleksi yang sangat sensitif, di mana gelombang gempa bumi dipantulkan kembali dari lapisan‑lapisan dalam bumi. Dengan menganalisis pola‑pola pantulan tersebut, para ilmuwan dapat menyusun gambaran tiga dimensi dari struktur geologi pada kedalaman yang sebelumnya tidak dapat diakses secara langsung. Hasil pemetaan menunjukkan adanya zona‑zona berpori yang mengandung cairan dalam jumlah sangat besar, terperangkap di antara mineral‑mineral mantel.
Berikut adalah poin‑poin penting yang diungkapkan oleh studi tersebut:
- Reservoir berada pada kedalaman sekitar 700 km, jauh di bawah kerak bumi (yang rata‑rata hanya berketebalan 30‑50 km) dan berada di dalam mantel atas.
- Volume air diperkirakan mencapai sekitar 2,5 x 1021 liter, yaitu tiga kali lipat volume total air laut di permukaan.
- Cairan tersebut berada dalam keadaan terperangkap pada tekanan dan suhu ekstrem, namun tetap berada dalam fase cair karena kondisi mineral tertentu yang menurunkan titik beku air.
- Temuan ini menantang teori klasik yang menyatakan bahwa mayoritas air Bumi berasal dari bahan‑bahan volatil yang terbawa pada fase pembentukan planet.
- Penelitian membuka kemungkinan baru tentang peran mantel dalam siklus air jangka panjang, termasuk potensi kontribusi pada proses tektonik dan vulkanik.
Penemuan ini pertama kali dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terkemuka dan segera menarik perhatian komunitas ilmiah global. Salah satu peneliti utama, Dr. Elena Morozova, menjelaskan bahwa “keberadaan air dalam jumlah sebesar ini di dalam mantel bukan hanya mengubah gambaran kita tentang distribusi cairan di Bumi, tetapi juga memaksa kita untuk meninjau kembali model‑model evolusi planet sejak masa awal pembentukan.”
Secara historis, keberadaan air di dalam mantel telah menjadi topik perdebatan. Beberapa studi sebelumnya mengindikasikan adanya “hidrat mineral” yang menyimpan air dalam struktur kristalnya, namun volume yang diperkirakan sangat kecil dibandingkan dengan air permukaan. Penelitian terbaru ini menggunakan data seismik dengan resolusi tinggi, yang memungkinkan identifikasi zona‑zona berpori yang sebelumnya tidak terdeteksi.
Implikasi ilmiah dari temuan ini sangat luas. Pertama, keberadaan air dalam jumlah besar di dalam mantel dapat mempengaruhi sifat viskositas batuan, yang pada gilirannya memengaruhi pergerakan lempeng tektonik. Kedua, air ini dapat menjadi sumber utama bagi proses magmatik, karena pelepasan air dapat menurunkan titik leleh batuan, memicu aktivitas vulkanik. Ketiga, reservoir ini dapat menjadi “bank air” planet yang belum dimanfaatkan, meskipun teknologi untuk mengekstraknya masih berada di tahap konseptual.
Selain itu, penemuan ini menimbulkan pertanyaan tentang siklus hidrologi global yang lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami. Jika air dapat beredar antara permukaan, kerak, dan mantel dalam skala waktu geologis, maka model‑model iklim dan perubahan iklim masa depan mungkin perlu memperhitungkan “reservoir tersembunyi” ini.
Berbagai institusi penelitian di seluruh dunia, termasuk lembaga‑lembaga di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia, telah menyatakan minat untuk melanjutkan studi lanjutan. Fokus selanjutnya adalah memetakan distribusi geografis reservoir, menentukan komposisi kimia air, serta menilai interaksi antara air mantel dan proses geodinamik lainnya.
Secara praktis, meskipun penemuan ini membuka peluang bagi pemahaman baru, belum ada rencana konkret untuk mengekstrak air tersebut. Tekanan dan suhu pada kedalaman 700 km mencapai ratusan ribu atmosfer dan ribuan derajat Celsius, menjadikan eksplorasi secara fisik hampir tidak mungkin dengan teknologi saat ini. Namun, pengetahuan tentang keberadaan air dalam jumlah besar di dalam mantel dapat membantu ilmuwan merancang model simulasi yang lebih akurat untuk memprediksi perilaku bumi di masa depan.
Kesimpulannya, penemuan reservoir air sebesar tiga kali volume semua lautan dunia di dalam mantel atas Bumi menandai tonggak penting dalam ilmu kebumian. Temuan ini tidak hanya menantang paradigma lama tentang asal‑usul air planet, tetapi juga membuka jalur penelitian baru yang dapat memperkaya pemahaman kita tentang dinamika internal Bumi, siklus hidrologi, dan potensi sumber daya yang belum terjamah. Dengan penelitian lanjutan, komunitas ilmiah berharap dapat mengungkap lebih banyak misteri yang tersembunyi di kedalaman planet kita.





