123Berita – 06 April 2026 | Studi terbaru Jenius 2026 yang dirilis oleh SMBC Indonesia mengungkap perbedaan signifikan dalam pola traveling tiga generasi utama: Gen X, Milenial (Gen Y), dan Gen Z. Penelitian yang mencakup ribuan responden ini menyoroti bagaimana faktor usia, teknologi, dan nilai-nilai pribadi memengaruhi keputusan destinasi, cara perencanaan, serta ekspektasi selama perjalanan.
Gen X (kelahiran 1965-1980) cenderung mengutamakan kenyamanan dan kepraktisan. Mereka lebih memilih paket wisata yang terorganisir, mengandalkan agen perjalanan tradisional, dan mengutamakan destinasi yang menawarkan fasilitas lengkap serta keamanan tinggi. Rata-rata, Gen X menghabiskan 45% dari total anggaran liburan untuk akomodasi, sementara sisa anggaran dialokasikan untuk transportasi dan aktivitas terstruktur.
Berbeda dengan Milenial (kelahiran 1981-1996) yang menonjolkan pengalaman otentik dan nilai sosial. Generasi ini lebih sering menggunakan aplikasi booking online, mengandalkan review pengguna, dan memilih destinasi yang menawarkan budaya lokal serta peluang berbagi di media sosial. Dalam studi, 68% Milenial menyatakan bahwa “insta‑worthy” menjadi pertimbangan utama dalam memilih tempat liburan. Pengeluaran mereka lebih merata antara akomodasi, kuliner, dan aktivitas lokal, dengan fokus pada pengalaman yang dapat diceritakan kembali.
Gen Z (kelahiran 1997-2012) menunjukkan pola paling dinamis. Mereka memanfaatkan platform digital seperti TikTok dan Instagram Reels untuk menemukan destinasi yang sedang tren, serta mengandalkan layanan berbagi transportasi dan akomodasi alternatif seperti homestay atau Airbnb. Lebih dari 75% responden Gen Z mengaku merencanakan perjalanan secara mandiri melalui aplikasi, dan hampir setengahnya lebih memilih destinasi yang menawarkan aktivitas petualangan atau teknologi interaktif, seperti augmented reality tour.
Berikut rangkuman perbandingan utama dalam bentuk tabel:
| Aspek | Gen X | Milenial | Gen Z |
|---|---|---|---|
| Prioritas utama | Kenyamanan & keamanan | Pengalaman otentik & shareable | Petualangan & teknologi |
| Metode pemesanan | Travel agent tradisional | Online travel agency & review | App‑based, influencer‑driven |
| Durasi rata‑rata | 7‑10 hari | 4‑7 hari | 3‑5 hari |
| Pengeluaran terbesar | Akomodasi | Kuliner & aktivitas | Transportasi & gadget |
| Faktor keputusan | Keamanan, fasilitas | Fotoable, budaya | Tren, kecepatan |
Temuan lain yang menarik adalah pergeseran dalam sikap terhadap keberlanjutan. Milenial dan Gen Z menunjukkan kepedulian yang lebih tinggi terhadap dampak lingkungan, dengan 62% dari mereka memilih akomodasi yang memiliki sertifikasi hijau. Sementara Gen X masih menilai keberlanjutan sebagai nilai tambah, bukan faktor utama.
Selain itu, penggunaan teknologi selama perjalanan juga berbeda. Gen X cenderung mengandalkan ponsel untuk navigasi dasar, sedangkan Milenial memanfaatkan aplikasi itinerary dan platform berbagi foto. Gen Z, di sisi lain, mengintegrasikan perangkat wearable, AR, serta layanan streaming musik untuk menciptakan pengalaman yang lebih imersif.
Penelitian Jenius 2026 menegaskan bahwa industri pariwisata perlu menyesuaikan penawaran mereka dengan karakteristik masing‑masyarakat generasi. Agen perjalanan tradisional dapat mengoptimalkan paket khusus untuk Gen X, sementara penyedia layanan digital harus fokus pada konten visual yang menarik bagi Milenial dan Gen Z. Pendekatan yang tersegmentasi tidak hanya meningkatkan kepuasan pelanggan, tetapi juga membuka peluang pendapatan baru bagi pelaku bisnis.
Kesimpulannya, perbedaan cara traveling antara Gen X, Milenial, dan Gen Z mencerminkan evolusi nilai, teknologi, dan ekspektasi konsumen. Memahami pola ini menjadi kunci bagi penyedia layanan wisata untuk merancang strategi yang relevan, meningkatkan daya saing, serta memenuhi kebutuhan perjalanan yang semakin beragam di era pasca‑pandemi.