123Berita – 10 April 2026 | Nurhayati Subakat, sosok perempuan visioner asal Bandung, telah menorehkan jejak panjang dalam industri kecantikan Indonesia. Selama empat dekade, ia mengembangkan Paranggi (sebelumnya Paragon Corp) dari sebuah usaha kecil menjadi grup perusahaan kosmetik yang dikenal secara nasional dan memiliki jaringan distribusi yang luas. Kepiawaiannya dalam membaca pasar, mengelola sumber daya manusia, serta komitmen pada kualitas produk menjadikan nama Paragon identik dengan kepercayaan konsumen.
Awal mula perjalanan bisnis Nurhayati dimulai pada awal 1980-an ketika ia memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan kantoran demi merintis usaha sendiri. Dengan modal terbatas dan dukungan keluarga, ia membuka sebuah toko kecil yang menjual bahan baku kosmetik. Berbekal pengetahuan tentang formula kecantikan serta jaringan distributor lokal, ia perlahan memperluas portofolio produknya, menargetkan segmen pasar menengah ke atas yang belum banyak terlayani.
Keberhasilan awal tersebut memicu langkah strategis berikutnya: pendirian Paranggi pada tahun 1983. Pada masa itu, industri kosmetik Indonesia masih didominasi oleh produk impor, sehingga kebutuhan akan merek lokal yang menekankan kualitas menjadi peluang emas. Nurhayati menegaskan prinsip “Made in Indonesia” dengan menekankan penggunaan bahan baku lokal yang terstandarisasi, sekaligus menjamin standar produksi yang ketat.
Selama 40 tahun perjalanan, Paranggi mengalami beberapa fase penting yang menandai pertumbuhan eksponensialnya:
- 1985-1990: Peluncuran rangkaian produk perawatan kulit pertama, yang berhasil menembus pasar ritel utama di Jawa Barat.
- 1992: Ekspansi ke pasar nasional melalui kemitraan dengan jaringan supermarket besar, meningkatkan visibilitas merek secara signifikan.
- 1997: Pencapaian sertifikasi ISO 9001, menegaskan komitmen pada kualitas dan proses produksi yang terkontrol.
- 2005: Diversifikasi produk dengan memasukkan lini makeup, menyesuaikan tren konsumen yang semakin mengutamakan estetika.
- 2012: Pengembangan fasilitas produksi di Cikarang, meningkatkan kapasitas produksi hingga 3 kali lipat.
- 2018: Peluncuran brand sub‑line ramah lingkungan, menanggapi meningkatnya kesadaran akan sustainability di kalangan konsumen muda.
Strategi diversifikasi produk dan ekspansi geografis yang konsisten membuat Paranggi tidak hanya menguasai pasar domestik, tetapi juga menembus pasar ekspor ke beberapa negara Asia Tenggara. Pada 2020, laporan internal perusahaan mencatat penjualan tahunan mencapai lebih dari Rp 3 triliun, dengan kontribusi signifikan dari segmen perawatan kulit premium.
Di balik kesuksesan tersebut, Nurhayati tetap memegang nilai-nilai kepemimpinan yang inklusif. Ia dikenal memberikan peluang karir bagi perempuan di lingkungan kerja, serta mengimplementasikan program pelatihan internal yang berfokus pada inovasi produk dan manajemen kualitas. Kebijakan ini tidak hanya meningkatkan loyalitas karyawan, tetapi juga memupuk budaya perusahaan yang adaptif terhadap perubahan pasar.
Selain prestasi bisnis, Nurhayati aktif dalam kegiatan sosial, khususnya program pendidikan bagi anak perempuan di daerah pedesaan. Melalui yayasan yang didirikannya, ribuan anak mendapat beasiswa serta akses ke pelatihan keterampilan dasar, menegaskan komitmennya terhadap pemberdayaan perempuan di luar ranah korporat.
Menilik ke depan, Nurhayati menargetkan Paranggi untuk terus berinovasi dalam bidang teknologi kosmetik, termasuk pengembangan produk berbasis bioteknologi dan e‑commerce yang terintegrasi. Ia menekankan pentingnya adaptasi digital serta kolaborasi dengan start‑up teknologi untuk menjaga relevansi merek di era konsumen digital.
Kesimpulannya, perjalanan 40 tahun Nurhayati Subakat bersama Paranggi mencerminkan kombinasi antara visi jangka panjang, eksekusi yang disiplin, dan kepedulian sosial yang kuat. Dari toko kecil di Bandung hingga menjadi grup kosmetik berkelas internasional, kisahnya menjadi inspirasi bagi generasi pengusaha perempuan Indonesia yang bercita‑cita mengubah lanskap industri nasional.





