123Berita – 10 April 2026 | Di tengah meningkatnya minat masyarakat Indonesia terhadap kuliner yang tidak hanya menonjolkan rasa, tetapi juga mengangkat nilai budaya, sebuah kelas memasak bertema masakan Palestina berhasil memikat perhatian para pecinta kuliner. Acara ini bukan sekadar pelatihan teknik memasak, melainkan sebuah pengalaman yang menggabungkan cerita sejarah, tradisi, dan rasa autentik yang memukau.
Lokasi kelas diadakan di sebuah studio kuliner di pusat kota Jakarta, dipandu oleh Chef Ahmad Rahman, seorang pakar masakan Timur Tengah yang telah menggeluti kuliner Palestina selama lebih dari satu dekade. Chef Rahman menyampaikan bahwa tujuan utama kelas ini adalah memberikan kesempatan bagi peserta untuk merasakan proses pembuatan makanan tradisional Palestina secara langsung, sekaligus memahami latar belakang budaya yang melatarbelakangi setiap hidangan.
Setiap sesi dimulai dengan pengenalan singkat tentang sejarah kuliner Palestina, mulai dari pengaruh perdagangan jalur laut Mediterranean hingga peran makanan dalam ritual keluarga dan perayaan keagamaan. Penjelasan tersebut diiringi dengan tampilan foto-foto lama, peta wilayah, serta anekdot pribadi Chef Rahman yang pernah belajar langsung dari keluarga di Gaza.
Berikut langkah-langkah utama yang diajarkan dalam kelas tersebut:
- Pemilihan Bahan Berkualitas: Peserta belajar memilih bahan-bahan segar seperti kacang chickpea, gandum durum, dan minyak zaitun extra virgin yang menjadi pondasi rasa otentik.
- Teknik Membuat Hummus dan Baba Ghanoush: Dari proses memanggang terong hingga menghaluskan chickpea, setiap detail ditekankan agar tekstur tetap lembut dan rasa tetap kaya.
- Persiapan Kebab Kofta dan Musakhan: Chef menjelaskan cara mencampur daging domba dengan rempah khas seperti za’atar dan sumac, serta teknik memanggang yang menjaga kelembutan daging.
- Penyajian Tradisional: Penggunaan piring tembikar, roti pita buatan tangan, serta tata letak makanan yang mencerminkan estetika Timur Tengah.
Selain teknik memasak, kelas ini menekankan pentingnya cerita di balik setiap hidangan. Misalnya, Musakhan—roti lapis yang diisi dengan ayam, bawang, dan sumac—dikatakan sebagai simbol solidaritas dan kebersamaan dalam budaya Palestina. Chef Rahman berbagi kisah tentang bagaimana keluarga-keluarga Palestina menghidangkan Musakhan pada acara perayaan Idul Fitri, menjadikan makanan tersebut sebagai media untuk menyatukan generasi.
Partisipasi dalam kelas tidak hanya terbatas pada pemula; bahkan koki amatir yang sudah berpengalaman menemukan nilai tambah dari perspektif budaya yang mendalam. Salah satu peserta, Lina Pratiwi, mengaku, “Saya sudah lama memasak hidangan Timur Tengah, namun kali ini saya memahami mengapa setiap rempah dipilih dan apa makna sosialnya. Rasanya seperti menelusuri sejarah lewat rasa.”
Selama tiga hari intensif, peserta juga diajak mencicipi hidangan penutup khas Palestina, seperti Knafeh—pencuci mulut manis berbahan keju dan sirup mawar—yang memunculkan sensasi rasa manis dan aroma bunga yang khas. Penutup tersebut menjadi simbol akhir perjalanan rasa yang berkesan.
Kelas ini juga mengadopsi pendekatan interaktif, dimana peserta dapat bertanya secara langsung tentang substitusi bahan lokal, teknik penyimpanan, serta cara menyesuaikan resep dengan selera Indonesia tanpa menghilangkan keautentikan. Chef Rahman menegaskan bahwa fleksibilitas dalam adaptasi bahan tetap dapat menjaga esensi rasa aslinya.
Seiring dengan meningkatnya minat kuliner etnis, inisiatif seperti kelas memasak Palestina ini menjadi jembatan penting antara budaya Indonesia dan dunia. Dengan menekankan cerita di balik setiap suapan, kelas tidak hanya menyajikan hidangan lezat, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan penghargaan terhadap warisan budaya lain.
Keberhasilan acara ini membuka peluang bagi penyelenggara kuliner lokal untuk memperluas tawaran kelas tematik, memperkaya palet rasa konsumen, serta memperkuat jaringan budaya melalui makanan. Diharapkan, lebih banyak program serupa akan muncul, menghubungkan komunitas kuliner Indonesia dengan tradisi kuliner global yang kaya.
Dengan kombinasi teknik memasak yang mendetail, narasi budaya yang kuat, dan suasana interaktif yang mendukung, kelas kuliner Palestina ini membuktikan bahwa menikmati makanan autentik bukan sekadar mencicipi rasa, melainkan juga meresapi cerita yang mengalir di dalamnya.