123Berita – 09 April 2026 | Ketika nama Chris Pratt pertama kali muncul di layar lebar, banyak penonton mengenalnya sebagai sosok tampan yang selalu mengusung peran heroik atau komedi ringan. Namun, sebelum menjadi bintang blockbuster seperti Guardians of the Galaxy dan Jurassic World, Pratt menapaki kariernya lewat serangkaian peran pendukung yang sering kali menempatkannya dalam posisi “pacar brengsek” – karakter yang tampak romantis di permukaan, namun memiliki sikap egois atau manipulatif di baliknya.
Kenangan akan peran-peran tersebut masih segar dalam ingatan sang aktor. Dalam sebuah wawancara pribadi, Pratt mengungkapkan bagaimana ia dulu sering kali dipanggil “the boyfriend villain” oleh kru produksi karena sering mendapatkan skrip yang menuntut ia menjadi pasangan yang tidak menyenangkan bagi tokoh utama perempuan. Ia mengakui, meski peran tersebut terasa menantang, mereka memberi pengalaman berharga dalam memahami dinamika karakter yang kompleks.
Salah satu contoh paling terkenal adalah film Bride Wars (2009), di mana Pratt memerankan Graham, sosok pria yang berusaha memikat dua sahabat sekaligus menjadi sumber konflik utama. Karakter ini menonjolkan sifat ambisius dan tak terlalu memikirkan perasaan pasangan, sehingga menempatkannya dalam kategori “pacar brengsek”. Pratt mengingat proses syuting yang penuh tawa, namun juga menambah wawasan tentang bagaimana penonton menanggapi karakter semacam itu.
Berbeda dengan peran-peran romantis tradisional, peran sebagai pacar brengsek menuntut aktor untuk menyeimbangkan antara daya tarik visual dan sisi antagonis yang halus. Pratt mengaku harus mengasah kemampuan membaca naskah secara mendalam, mengidentifikasi motivasi tersembunyi, dan menampilkan ekspresi yang dapat menimbulkan empati sekaligus kebencian penonton. “Saya belajar bahwa setiap karakter, sekecil apa pun, punya alasan di balik tindakannya,” katanya.
Berbagai film lain pada masa awal kariernya juga menegaskan julukan tersebut. Di Taking Way Back Home (2005), ia berperan sebagai John, sosok yang terkesan manis namun memiliki agenda pribadi yang menyulitkan protagonis perempuan. Di Wanted (2008), meski tidak memegang peran utama, kehadirannya sebagai seorang teman yang manipulatif menambah lapisan karakter yang ambigu.
Pengalaman ini ternyata tidak hanya sekadar menambah portofolio, melainkan juga menjadi batu loncatan bagi Pratt untuk menapaki peran yang lebih beragam. Setelah menghabiskan hampir satu dekade bergulat dengan peran-peran yang cenderung menempatkannya sebagai “pacar brengsek”, ia mulai mendapat kesempatan untuk beralih ke karakter yang lebih heroik. Transformasi ini terlihat jelas ketika ia mendapatkan peran Andy dalam film komedi Parkinson (2010) dan kemudian Star-Lord dalam Guardians of the Galaxy (2014).
Perubahan arah karier ini tidak lepas dari pelajaran yang ia dapatkan dari peran-peran awalnya. Menurut Pratt, kemampuan untuk menampilkan sisi gelap sekaligus memikat penonton menjadi modal penting ketika ia memerankan pahlawan yang memiliki selera humor sarkastik. “Karakter Star-Lord memang tidak sempurna, dia punya ego dan kebodohan, tapi di balik itu ada hati yang baik. Itu mirip dengan apa yang saya pelajari dari peran-peran pacar brengsek,” jelasnya.
Selain meningkatkan keterampilan akting, peran-peran tersebut juga memberi Pratt kesempatan untuk berinteraksi dengan sejumlah aktris dan sutradara ternama. Ia sempat bekerja sama dengan Anne Hathaway di Bride Wars, Kristen Stewart di Adventureland, serta sutradara Michael Bay di Transformers. Hubungan profesional ini membuka jaringan luas dalam industri hiburan Hollywood, yang pada gilirannya memperluas peluang bagi Pratt.
Seiring berjalannya waktu, julukan “pacar brengsek” mulai berkurang, namun kenangan akan masa-masa tersebut tetap menjadi bagian penting dalam narasi kariernya. Pratt kerap menyebutnya sebagai “fase pembentukan” yang tak ternilai harganya. Ia menambahkan, meski kini menjadi bintang internasional, ia tidak melupakan peran-peran kecil yang pernah menantangnya untuk menjadi lebih baik.
Dalam retrospeksi, Pratt menegaskan bahwa setiap peran, sekecil apa pun, memiliki nilai edukatif. Pengalaman sebagai pacar brengsek mengajarkannya tentang kompleksitas manusia, pentingnya empati, serta cara menyeimbangkan karakter yang kontradiktif. Semua pelajaran itu berperan dalam membentuk kepribadian dan gaya aktingnya yang kini dikenal oleh jutaan penonton di seluruh dunia.
Kesimpulannya, perjalanan karier Chris Pratt dari peran-peran “pacar brengsek” hingga menjadi ikon film aksi dan komedi bukanlah sekadar kebetulan. Itu adalah hasil kerja keras, pembelajaran mendalam tentang karakter, serta kemampuan beradaptasi dengan peran yang beragam. Kenangan masa lalu tersebut tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitasnya sebagai aktor, sekaligus inspirasi bagi para pemain muda yang tengah menapaki dunia perfilman.





