123Berita – 05 April 2026 | Pasar tradisional di berbagai kota Indonesia kini bergemuruh dengan keluhan pedagang yang menyesalkan lonjakan harga plastik hingga setengahnya. Kenaikan yang terjadi dalam hitungan minggu terakhir menambah beban biaya operasional bagi ribuan pedagang kecil yang mengandalkan plastik sebagai bahan pembungkus utama produk mereka, mulai dari sayur, buah, hingga barang kebutuhan sehari-hari.
Data yang dihimpun oleh sejumlah lembaga survei pasar menunjukkan bahwa rata-rata harga kantong plastik belanja naik antara 40 hingga 55 persen sejak awal bulan ini. Di beberapa wilayah, harga kantong ukuran standar (sekitar 10×15 cm) melonjak dari Rp200 menjadi lebih dari Rp300, sementara kantong ukuran besar yang biasa dipakai untuk mengemas barang grosir mengalami kenaikan lebih dari setengah harga sebelumnya.
Para pedagang pasar, yang umumnya beroperasi dengan margin keuntungan tipis, langsung merasakan dampak negatifnya. “Kami terpaksa menambah harga jual barang, padahal konsumen sudah merasakan tekanan inflasi dari barang makanan,” ujar Ibu Siti, pedagang sayur di Pasar Tanah Abang, Jakarta. “Jika kami terus menaikkan harga, pelanggan akan beralih ke toko swalayan yang menawarkan paket promo. Tapi kami tidak bisa mengabaikan biaya plastik yang kini lebih mahal.”
Keluhan serupa terdengar dari pasar tradisional di Surabaya, Bandung, dan Medan. Di Surabaya, pedagang ikan melaporkan bahwa penggunaan kantong plastik berukuran kecil yang biasanya diberikan secara gratis kepada pembeli kini harus dibebankan biaya tambahan. “Pembeli menolak jika harus bayar ekstra untuk kantong,” kata Budi, penjual ikan di Pasar Pabean. “Akibatnya, penjualan menurun sekitar 10 persen dalam dua minggu terakhir.”
Beberapa faktor menjadi penyebab utama kenaikan harga plastik ini. Pertama, naiknya harga bahan baku minyak bumi yang menjadi komponen utama pembuatan plastik. Harga minyak mentah dunia mengalami fluktuasi tajam akibat ketegangan geopolitik dan kebijakan produksi OPEC+. Kedua, gangguan rantai pasok logistik, termasuk keterbatasan kontainer dan kenaikan tarif angkutan, memperlambat distribusi bahan baku ke pabrik-pabrik pengolahan plastik di dalam negeri. Ketiga, kebijakan pemerintah yang memperketat penggunaan plastik sekali pakai mendorong produsen beralih ke material yang lebih mahal atau mengimplementasikan proses daur ulang yang belum sepenuhnya efisien.
Berikut ini rangkuman dampak utama yang dirasakan oleh pedagang pasar:
- Peningkatan biaya operasional: Setiap transaksi kini harus menutupi biaya kantong plastik yang lebih tinggi.
- Penurunan volume penjualan: Konsumen menolak membayar tambahan, sehingga pedagang harus menurunkan harga barang atau menawarkan alternatif pembungkus.
- Tekanan pada margin keuntungan: Banyak pedagang yang mengandalkan margin tipis tidak mampu menyesuaikan harga jual tanpa mengorbankan keuntungan.
- Perubahan perilaku konsumen: Meningkatnya kesadaran lingkungan mendorong sebagian konsumen untuk membawa tas sendiri, namun belum cukup untuk menutupi kebutuhan plastik tradisional.
Pemerintah pusat dan daerah mulai merespons situasi ini dengan mengadakan dialog bersama asosiasi pedagang, produsen plastik, dan lembaga regulasi. Kementerian Perdagangan menyatakan akan memantau harga bahan baku secara intensif dan mempertimbangkan subsidi sementara bagi produsen kecil yang terdampak. Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan pentingnya transisi menuju alternatif ramah lingkungan, namun mengakui bahwa perubahan harus dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan guncangan ekonomi pada sektor informal.
Para ahli ekonomi menilai bahwa lonjakan harga plastik dapat menambah tekanan inflasi terutama pada kategori pangan dan kebutuhan rumah tangga. “Jika harga plastik terus naik, efek domino akan terasa pada harga barang yang dibungkus dengan plastik, yang pada gilirannya meningkatkan Indeks Harga Konsumen (IHK),” ujar Dr. Andi Prasetyo, dosen Ekonomi di Universitas Indonesia. “Kebijakan penstabilan harga harus melibatkan koordinasi lintas sektor, termasuk pengendalian harga minyak mentah dan dukungan logistik bagi produsen dalam negeri.”
Di tengah situasi ini, beberapa inovasi mulai muncul di pasar. Pedagang di beberapa kota besar mulai menawarkan layanan pembungkusan ulang dengan menggunakan bahan biodegradable atau kantong kain yang dapat dipakai ulang. Meskipun biaya awalnya lebih tinggi, inisiatif ini mendapat sambutan positif dari konsumen yang semakin peduli pada isu lingkungan.
Ke depan, para pelaku pasar diharapkan dapat menyesuaikan strategi penjualan dengan mengoptimalkan penggunaan bahan alternatif, memperkuat negosiasi dengan pemasok plastik, serta mengedukasi konsumen mengenai pentingnya kontribusi bersama dalam mengurangi penggunaan plastik berbahaya. Pemerintah, di sisi lain, perlu mempercepat regulasi yang mendukung produksi plastik lokal dengan biaya kompetitif, sekaligus memperluas program daur ulang yang dapat menurunkan permintaan akan plastik baru.
Secara keseluruhan, kenaikan harga plastik hingga 50 persen menimbulkan tantangan signifikan bagi pedagang pasar tradisional di Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada biaya operasional, tetapi juga pada daya beli konsumen dan stabilitas harga barang kebutuhan pokok. Solusi jangka pendek meliputi bantuan subsidi dan kebijakan penstabilan harga, sementara solusi jangka panjang menuntut adopsi material ramah lingkungan serta perbaikan rantai pasok nasional.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, produsen, dan pelaku pasar, diharapkan tekanan harga dapat meredam, sehingga pedagang pasar tidak lagi terpaksa menjerit di tengah kenaikan yang melambung.





