Kemdikbudristek Dorong PLTS Gantikan Diesel, Upaya Efisiensi Energi Nasional

Kemdikbudristek Dorong PLTS Gantikan Diesel, Upaya Efisiensi Energi Nasional
Kemdikbudristek Dorong PLTS Gantikan Diesel, Upaya Efisiensi Energi Nasional

123Berita – 06 April 2026 | Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) menempatkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai agenda prioritas dalam upaya mengurangi ketergantungan pada pembangkit listrik berbahan bakar diesel. Dalam rapat koordinasi yang dihadiri oleh para pejabat kementerian, Brian, Kepala Direktorat Pengembangan Energi Terbarukan, menegaskan bahwa PLTS dapat menjadi solusi jangka pendek sekaligus jangka panjang karena biaya operasionalnya yang jauh lebih rendah serta tidak memerlukan impor bahan bakar.

Selama ini, banyak daerah terpencil di Indonesia masih mengandalkan generator diesel untuk memenuhi kebutuhan listrik. Biaya bahan bakar yang terus naik serta fluktuasi nilai tukar membuat tarif listrik di wilayah tersebut menjadi tidak terjangkau. Selain itu, penggunaan diesel berkontribusi signifikan terhadap emisi karbon dioksida, memperparah tantangan perubahan iklim yang dihadapi negara.

Bacaan Lainnya

Brian menjelaskan bahwa PLTS menawarkan tiga keunggulan utama: pertama, sumber energi yang melimpah dan gratis; kedua, biaya pemeliharaan yang minimal; ketiga, tidak menghasilkan polusi udara. “Dengan memanfaatkan sinar matahari, kita dapat menurunkan biaya listrik hingga 50 persen dibandingkan dengan diesel,” ujarnya.

Berbagai studi internal kementerian menunjukkan bahwa investasi awal untuk instalasi PLTS memang lebih tinggi, namun masa pakai panel surya yang dapat mencapai 25 tahun serta penurunan harga modul surya secara global membuat total biaya kepemilikan (TCO) menjadi lebih kompetitif. Berikut rangkuman perbandingan biaya antara PLTS dan diesel:

  • Biaya investasi per kW: PLTS Rp12 juta vs diesel Rp8 juta
  • Biaya operasional tahunan per kW: PLTS Rp0,5 juta vs diesel Rp3,5 juta
  • Emisi CO2 tahunan per kW: PLTS 0 kg vs diesel 2.6 ton

Kemdikbudristek berencana mengalokasikan dana khusus melalui program Dana Bergulir Energi Terbarukan (DBET) untuk mendukung pemasangan PLTS di sekolah, pusat pelatihan, dan fasilitas publik lainnya. Program ini akan menargetkan pemasangan sebanyak 1.500 megawatt (MW) PLTS dalam lima tahun ke depan, dengan fokus pada wilayah-wilayah yang masih mengandalkan diesel.

Selain dukungan finansial, kementerian juga menggalang kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan swasta untuk melakukan riset dan pengembangan teknologi penyimpanan energi berbasis baterai. Penyimpanan energi menjadi kunci agar PLTS dapat beroperasi secara optimal pada malam hari atau saat cuaca mendung, sehingga ketergantungan pada diesel dapat dihilangkan sepenuhnya.

Beberapa daerah yang sudah menjadi pilot project antara lain Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Papua, dan Kabupaten Sumbawa. Di Sumba Barat, instalasi PLTS 10 MW berhasil menurunkan konsumsi diesel sebesar 70 persen dalam satu tahun pertama operasinya. Di Papua, sekolah-sekolah yang sebelumnya mengandalkan generator diesel kini dapat belajar dengan pencahayaan yang stabil dan ramah lingkungan.

Para ahli energi menilai langkah Kemdikbudristek ini sejalan dengan kebijakan nasional yang tercantum dalam Rencana Usaha Pemerintah (RUP) 2025, yang menargetkan 23 persen bauran energi terbarukan dalam total konsumsi energi nasional. Implementasi PLTS di sektor pendidikan tidak hanya mengurangi beban biaya, tetapi juga menjadi sarana edukatif bagi generasi muda untuk memahami pentingnya energi bersih.

Namun, tantangan tetap ada. Ketersediaan lahan yang memadai, kebutuhan infrastruktur jaringan listrik yang dapat menampung produksi energi surya, serta pelatihan teknisi lokal menjadi faktor kritis yang harus diatasi. Untuk itu, Kemdikbudristek berkomitmen mengintegrasikan kurikulum teknik energi terbarukan ke dalam program studi vokasi serta menyediakan beasiswa bagi mahasiswa yang ingin menekuni bidang tersebut.

Secara keseluruhan, dorongan Kemdikbudristek untuk memperluas penggunaan PLTS diharapkan dapat menurunkan biaya listrik, mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar diesel, dan mempercepat transisi Indonesia menuju energi bersih. Dengan sinergi antara pemerintah, dunia akademik, dan industri, target ambisius energi terbarukan dapat tercapai dalam dekade mendatang.

Pos terkait