Kecewa Pramono Anung: Persija vs Persib dibatalkan di Jakarta, Fans Terkapar

Kecewa Pramono Anung: Persija vs Persib dibatalkan di Jakarta, Fans Terkapar
Kecewa Pramono Anung: Persija vs Persib dibatalkan di Jakarta, Fans Terkapar

123Berita – 07 Mei 2026 | Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan kekecewaan yang mendalam setelah keputusan resmi menyatakan bahwa laga big match antara Persija Jakarta dan Persib Bandung tidak akan digelar di ibukota. Penundaan dan perubahan lokasi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang penataan agenda kompetisi sepak bola di tingkat nasional.

Keputusan pembatalan atau pemindahan laga tersebut dikabarkan berakar dari permasalahan teknis terkait jadwal kompetisi Liga 1 serta persiapan stadion yang belum sepenuhnya selesai. Meskipun demikian, Pramono menilai bahwa pihak penyelenggara seharusnya memberikan solusi yang lebih matang, mengingat besarnya antisipasi publik dan potensi dampak ekonomi lokal.

Bacaan Lainnya

Berbagai pihak, termasuk fan club Persija (Jakmania) dan Persib (Bobotoh), menyatakan kekecewaan serupa. Mereka telah menyiapkan tiket, perjalanan, serta akomodasi sejak bulan lalu. “Kami sudah mengatur logistik, memesan hotel, dan menyiapkan chant khusus. Sekarang semuanya sia‑sia,” kata salah satu anggota Bobotoh yang tidak ingin disebutkan namanya demi keamanan.

Selain kerugian emosional, dampak ekonomi juga tidak dapat diabaikan. Menurut analisis sederhana, setiap pertandingan Persija vs Persib biasanya menyumbang pendapatan lebih dari satu miliar rupiah bagi sektor pariwisata, transportasi, dan kuliner di sekitar Stadion Utama Gelora Bung Karno. Dengan pembatalan, para pedagang, penyedia layanan transportasi, dan pemilik warung makan kehilangan peluang pendapatan yang signifikan.

  • Kerugian tiket masuk yang sudah terjual.
  • Penurunan penjualan merchandise resmi klub.
  • Penurunan pendapatan bagi pemilik warung makanan dan minuman di sekitar stadion.
  • Kerugian bagi agen travel yang telah memesan paket tur untuk suporter luar kota.

Pramono menambahkan bahwa pemerintah provinsi siap berkolaborasi dengan PT Liga Indonesia Baru (LIB) untuk mencari solusi jangka pendek dan jangka panjang. Ia mengusulkan agar jadwal pertandingan serupa di masa mendatang diatur lebih fleksibel, dengan memperhatikan kesiapan infrastruktur serta kepentingan para pemangku kepentingan, termasuk suporter.

Dalam konteks kebijakan, Gubernur menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan penyelenggara liga. “Kami tidak dapat hanya menunggu keputusan sepihak. Diperlukan forum koordinasi yang melibatkan semua pihak, termasuk klub, sponsor, dan asosiasi pemain,” ujarnya.

Sejumlah pakar olahraga menilai bahwa kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi manajemen liga. Mereka mengingatkan bahwa transparansi dan perencanaan matang menjadi kunci utama dalam menyelenggarakan pertandingan kelas dunia, terutama ketika melibatkan klub-klub besar dengan basis suporter yang sangat loyal.

Meski kecewa, Pramono juga menyampaikan harapan bahwa Persija dan Persib tetap dapat menjadwalkan pertemuan di masa depan, baik di Jakarta ataupun kota lain yang siap menyambut. “Sepak bola adalah bahasa persatuan. Kami tetap berkomitmen mendukung perkembangan kompetisi ini demi kebanggaan kota dan bangsa,” tegasnya.

Para suporter pun tidak tinggal diam. Di media sosial, hashtag #PersijaVsPersibBatal menjadi trending topic selama beberapa jam setelah pengumuman resmi. Banyak yang menuntut kejelasan dan keadilan, sekaligus mengingatkan pentingnya kepuasan penonton sebagai faktor utama keberlangsungan liga.

Secara keseluruhan, insiden pembatalan atau pemindahan pertandingan ini mencerminkan tantangan logistik yang masih harus dihadapi oleh penyelenggara Liga 1. Dari segi keamanan, transportasi, hingga kesiapan stadion, semua elemen harus terkoordinasi secara optimal untuk menghindari kekecewaan serupa di masa mendatang.

Kesimpulannya, kekecewaan Pramono Anung mencerminkan rasa frustrasi yang dirasakan banyak pihak, mulai dari pemerintah, klub, hingga suporter. Diharapkan ke depannya, perencanaan yang lebih matang dan komunikasi yang terbuka dapat mencegah terulangnya situasi yang sama, sehingga pertandingan-pertandingan besar seperti Persija vs Persib dapat kembali menyatu dalam sorakan gemuruh di stadion Jakarta.

Pos terkait