123Berita – 07 Mei 2026 | Dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan publik internasional, mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengungkap fakta bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu selama bertahun‑tahun berulang‑ulang berupaya mempengaruhi kebijakan luar negeri Amerika dengan cara menekan Washington untuk melakukan serangan militer ke Iran. Ungkapan “Netanyahu hasut AS” menjadi sorotan utama dalam wawancara eksklusif yang disampaikan Obama, menyoroti dinamika geopolitik yang selama ini tersembunyi di balik keputusan politik Amerika.
Obama menegaskan bahwa sejak masa kepresidenannya (2009‑2017), ia menerima sejumlah pertemuan dan diskusi informal dengan perwakilan Israel, termasuk Netanyahu, yang secara konsisten menekankan ancaman nuklir Iran sebagai bahaya eksistensial bagi keamanan regional. Menurut Obama, meski ia menghargai pandangan sekutu tradisional, ia selalu menolak gagasan serangan militer langsung, lebih memilih jalur diplomatik dan sanksi ekonomi sebagai sarana menekan Tehran.
“Saya selalu mendengarkan apa yang dikatakan Netanyahu, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan saya dan tim kebijakan luar negeri. Saya menolak setiap usulan yang mengarah pada penggunaan kekuatan militer tanpa dasar yang kuat,” ujar Obama dalam pernyataannya. Ia menambahkan bahwa upaya Netanyahu untuk “hasut” Amerika Serikat tidak pernah berhasil mengubah arah kebijakan inti pemerintahannya, yang pada saat itu lebih mengedepankan perjanjian multilateral seperti Kesepakatan Nuklir Iran (JCPOA).
Namun, dinamika berubah drastis ketika Donald Trump mengambil alih kepresidenan pada tahun 2017. Obama menilai bahwa Trump lebih rentan terhadap tekanan politik internal dan eksternal, termasuk dari kelompok lobi pro‑Israel. “Kebijakan Trump menunjukkan pola yang berbeda. Tekanan dari Netanyahu dan kelompok pendukungnya tampak berpengaruh, dan pada akhirnya Trump memutuskan untuk menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Iran,” jelas Obama.
Penarikan AS dari JCPOA pada Mei 2018 menandai puncak keberhasilan taktik “hasut” yang dilakukan oleh Netanyahu. Langkah tersebut memicu kembali ketegangan di Timur Tengah, meningkatkan risiko konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran. Sejumlah analis politik menilai bahwa keputusan ini lebih dipengaruhi oleh pertimbangan domestik Trump dan dukungan kuat dari lobi Israel daripada evaluasi strategis yang mendalam.
Sejak penarikan tersebut, hubungan antara Amerika Serikat dan Iran mengalami penurunan signifikan. Kedua negara terlibat dalam serangkaian insiden militer, termasuk penembakan drone, penangkapan kapal, dan serangan rudal balistik. Konflik ini menambah beban ekonomi dan politik bagi kedua negara, serta memperburuk situasi keamanan bagi negara-negara tetangga.
Obama menegaskan pentingnya kembali ke jalur diplomatik. “Kita harus mengakui bahwa penggunaan kekuatan militer bukanlah solusi jangka panjang. Dialog, inspeksi, dan sanksi yang terkoordinasi lebih efektif dalam menahan program nuklir Iran tanpa menimbulkan eskalasi lebih lanjut,” tuturnya. Ia mengingatkan bahwa kebijakan luar negeri yang stabil membutuhkan konsistensi, bukan dipengaruhi oleh tekanan sesaat dari pihak manapun.
Reaksi internasional terhadap pengakuan Obama beragam. Beberapa kalangan mengapresiasi keterbukaan mantan pemimpin dunia dalam mengungkap dinamika politik di balik layar, sementara yang lain menilai pernyataan tersebut dapat memperparah ketegangan yang sudah ada. Di Israel, Netanyahu menolak tuduhan tersebut, menyatakan bahwa kebijakan Israel selalu berlandaskan pada keamanan nasional dan tidak pernah memaksa negara lain untuk bertindak.
Di sisi lain, analis keamanan menyoroti bahwa hubungan erat antara Israel dan Amerika Serikat tetap menjadi faktor utama dalam perumusan kebijakan Timur Tengah. Meski ada perbedaan pendekatan antara administrasi Obama dan Trump, kepentingan strategis bersama tetap mempengaruhi keputusan besar, termasuk sikap terhadap Iran.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan mendalam tentang sejauh mana lobi luar negeri dapat memengaruhi keputusan negara adidaya. Obama menutup dengan mengingatkan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam proses pengambilan kebijakan, khususnya yang berpotensi menimbulkan konflik berskala internasional.
Dengan menyoroti peran “Netanyahu hasut AS” dalam konteks politik Amerika, Obama berharap dunia dapat belajar dari kesalahan masa lalu dan lebih mengedepankan dialog serta kerja sama multilateral dalam menyelesaikan isu-isu sensitif di kawasan Timur Tengah.





