123Berita – 07 Mei 2026 | Washington kembali menonjolkan tekanan diplomatik pada Beijing dalam rangka mengatasi kebuntuan di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi nadi aliran minyak dunia. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, mengajukan permintaan resmi kepada China untuk menggunakan pengaruhnya dalam merayu Iran membuka selat tersebut, yang telah mengalami gangguan operasional sejak beberapa minggu lalu.
Situasi di Selat Hormuz sejak akhir pekan lalu menimbulkan kepanikan di pasar energi global. Sebagian kapal tanker melaporkan kesulitan menavigasi karena ancaman serangan dan penempatan kapal militer Iran yang meningkatkan risiko keamanan. Akibatnya, aliran minyak mentah yang biasanya mencapai lebih dari 20 juta barel per hari mengalami penurunan signifikan, memicu lonjakan harga minyak mentah di bursa internasional.
Rubio menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak dapat menyelesaikan masalah ini secara unilateral. “Iran memiliki jaringan diplomatik yang luas, terutama dengan China, yang menjadi mitra ekonomi utama Tehran. Kami mengharapkan China untuk turun tangan, menggunakan semua instrumen diplomatik dan ekonomi demi membuka kembali Selat Hormuz,” kata Rubio dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih.
Sementara itu, mantan Presiden Donald Trump yang saat ini masih memegang pengaruh kuat di dalam partai Republik, menyatakan kesediaannya untuk “mengangkat tangan” demi menurunkan ketegangan. Pernyataan Trump tersebut tidak mengandung komitmen militer langsung, melainkan menekankan pada kemungkinan penggunaan tekanan ekonomi tambahan, termasuk sanksi baru terhadap Iran dan China jika mereka tidak menunjukkan itikad baik.
Berbagai analis menilai bahwa permintaan AS kepada China bukan sekadar seruan politik, melainkan strategi jangka panjang untuk menyeimbangkan kekuatan di kawasan Timur Tengah. China, sebagai konsumen energi terbesar di dunia, memiliki kepentingan kuat untuk menjaga kelancaran aliran minyak melalui Selat Hormuz. Selain itu, hubungan perdagangan antara China dan Iran, terutama dalam bidang energi dan infrastruktur, memberikan Beijing posisi tawar yang signifikan.
Berikut ini beberapa faktor utama yang menjadi pertimbangan Washington dalam menekan China:
- Ketergantungan global pada minyak Timur Tengah: Selat Hormuz menghubungkan Laut Arab dengan Samudra Hindia, menjadi rute utama bagi lebih dari setengah produksi minyak dunia.
- Stabilitas pasar energi: Gangguan di selat tersebut berpotensi menimbulkan volatilitas harga yang merugikan ekonomi global, termasuk negara‑negara berkembang yang sangat bergantung pada impor energi.
- Pengaruh geopolitik China: Beijing telah memperluas hubungan strategis dengan Iran melalui proyek‑proyek infrastruktur Belt and Road Initiative, serta investasi di sektor energi.
Di sisi lain, Iran menolak segala bentuk tekanan eksternal yang dianggap mengintervensi kedaulatan nasionalnya. Pemerintah Tehran menegaskan bahwa mereka tetap berhak mempertahankan keamanan selat demi melindungi kepentingan negara, sambil menuntut penghentian sanksi ekonomi yang dianggap tidak adil.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang efektivitas diplomasi multilateral dalam menangani krisis energi. Jika China memilih untuk tidak mengintervensi, Washington dapat mempertimbangkan langkah-langkah alternatif, termasuk memperkuat kehadiran militer di kawasan atau menggalang koalisi dengan sekutu‑sekutu regional seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Berikut skenario yang mungkin terjadi jika tekanan terhadap China meningkat:
- China menanggapi dengan aksi diplomatik: Beijing dapat mengirim delegasi khusus ke Tehran untuk memediasi pembicaraan, sekaligus menegosiasikan mekanisme pengawasan bersama atas lalu lintas kapal.
- China menolak intervensi: Washington mungkin meningkatkan sanksi ekonomi terhadap entitas China yang terlibat dalam perdagangan minyak Iran, sekaligus memperkuat aliansi militer dengan negara‑negara Teluk.
- Resolusi melalui lembaga internasional: Kedua pihak dapat mengajukan agenda ke Perserikatan Bangsa‑Bangsa untuk menegakkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, meski proses ini memakan waktu.
Penting untuk dicatat bahwa dinamika ini tidak hanya memengaruhi pasar energi, tetapi juga memperluas dimensi geopolitik antara kekuatan Barat dan Timur. Amerika Serikat berupaya menegaskan kembali peranannya sebagai penjaga kebebasan navigasi laut, sementara China berusaha mengukuhkan posisinya sebagai pemain utama dalam diplomasi energi global.
Para pengamat ekonomi memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup atau beroperasi secara terbatas, konsekuensi ekonomi dapat meluas hingga ke sektor‑sektor lain, termasuk transportasi, manufaktur, dan konsumen akhir. Kenaikan harga minyak mentah diproyeksikan dapat menambah beban inflasi di negara‑negara berkembang, memperlambat pertumbuhan ekonomi global yang sudah tertekan oleh faktor‑faktor lain seperti gangguan rantai pasokan.
Sejauh ini, respons China masih bersifat hati‑hati. Pihak berwenang di Beijing menegaskan komitmen mereka terhadap stabilitas pasar energi dunia, namun belum mengumumkan langkah konkret terkait permintaan AS. Pengamat politik menilai bahwa Beijing mungkin akan menunggu perkembangan situasi di lapangan sebelum mengambil tindakan yang dapat memengaruhi hubungannya dengan Iran serta kepentingan ekonomi domestik.
Kesimpulannya, tekanan yang diberikan Amerika Serikat kepada China untuk turun tangan membuka Selat Hormuz mencerminkan keprihatinan mendalam terhadap potensi krisis energi global. Sementara Trump mengindikasikan kesiapan untuk meningkatkan tekanan, keputusan akhir akan bergantung pada respons China, Iran, serta dinamika geopolitik yang terus berubah di Timur Tengah.





