123Berita – 05 April 2026 | Seorang senior berusia 91 tahun menjadi sorotan publik setelah berhasil menuntaskan game horor populer Resident Evil Requiem tanpa menggunakan panduan. Yang Binglin, yang dikenal sebagai “Kakek Gamer”, tidak hanya mengalahkan tantangan digital yang menakutkan, tetapi juga mengukir sejarah dengan mencatat namanya dalam Guinness World Records sebagai streamer game pria tertua.
Keberhasilan tersebut pertama kali muncul di media sosial ketika sebuah klip gameplay menunjukkan sosok berambut putih dengan kacamata tebal menavigasi labirin monster, memecahkan teka-teki, dan melawan bos akhir tanpa bantuan walkthrough. Penonton yang menyaksikan langsung terkesima oleh ketelitian gerakan jari-jari yang masih lincah, meski usianya sudah melampaui batas rata‑rata harapan manusia pada masa senja.
Yang Binglin, yang tinggal di Yogyakarta, mengaku pertama kali mengenal dunia video game pada era 1970‑an melalui konsol Atari. Sejak itu, ia menghabiskan waktu luang menelusuri berbagai genre, dari platform klasik hingga judul modern. Pada usia 88 tahun, ia memutuskan untuk memulai streaming secara reguler di platform populer, menjadikan dirinya sebagai figur unik di antara generasi milenial dan Gen‑Z yang biasanya mendominasi ruang virtual tersebut.
Rekor Guinness World Records yang dipegangnya mencatat bahwa ia adalah streamer game pria tertua di dunia. Pengakuan ini diperoleh setelah proses verifikasi yang melibatkan bukti identitas, rekaman streaming, serta konfirmasi dari platform yang bersangkutan. Pencapaian tersebut menambah kredibilitas profilnya, menjadikannya inspirasi bagi banyak orang yang menganggap usia sebagai penghalang dalam mengejar hobi baru.
Resident Evil Requiem, sebuah spin‑off yang menantang pemain dengan atmosfer gelap, musuh tak terduga, dan teka‑teki kompleks, biasanya dianggap sulit bahkan bagi pemain berpengalaman. Namun, Yang berhasil melewati setiap level tanpa mengandalkan panduan atau tutorial daring. Ia menyebutkan dalam wawancara singkat bahwa fokusnya adalah pada “pengalaman nostalgia” serta “menikmati setiap detik ketegangan” yang ditawarkan permainan tersebut.
Reaksi netizen pun beragam, mulai dari rasa kagum hingga komentar yang menggelitik. Banyak yang memuji ketekunan dan semangat juangnya, sementara yang lain mengaitkan prestasinya dengan nilai edukatif—bahwa belajar tidak mengenal batas usia. Tagar #KakekGamer dan #91YearOldGamer menjadi tren di Twitter Indonesia, menandakan besarnya dampak sosial yang tercipta.
Dari sisi industri game, pencapaian ini memberi sinyal bahwa demografik pemain semakin meluas. Para pengembang mulai mempertimbangkan inklusivitas usia dalam desain game, memperkenalkan tingkat kesulitan yang dapat diakses serta opsi bantuan yang tidak mengurangi esensi tantangan. Selain itu, platform streaming kini melihat peluang untuk menampilkan konten lintas generasi, memperkaya ekosistem digital dengan sudut pandang yang lebih beragam.
Tak hanya itu, keberhasilan Yang Binglin juga memicu perbincangan mengenai peran media dalam menyoroti kisah inspiratif. Beberapa analis media menilai bahwa cerita semacam ini meningkatkan rasa empati masyarakat terhadap lansia, sekaligus mematahkan stereotip negatif yang kerap melekat pada kelompok usia tersebut.
Secara finansial, popularitas yang melambung membuka peluang sponsor dan kolaborasi bagi sang kakek gamer. Beberapa merek perlengkapan gaming mengirimkan perangkat terbaru sebagai bentuk dukungan, sementara beberapa kanal YouTube mengundangnya sebagai bintang tamu dalam sesi gaming bersama. Ini menandakan bahwa nilai komersial dapat tumbuh seiring dengan nilai sosial yang dibawanya.
Ke depan, Yang berencana untuk mencoba judul-judul lain yang menantang, termasuk game aksi‑petualangan dan simulasi strategi. Ia menegaskan bahwa tujuan utamanya tetap sederhana: menikmati proses bermain dan berbagi kebahagiaan dengan penonton. Sementara itu, Guinness World Records berjanji akan memantau pencapaian selanjutnya, mengingat potensi rekor baru yang mungkin terpecahkan oleh pemain senior lainnya.
Kesimpulannya, kisah 91‑tahun‑usia Yang Binglin menegaskan bahwa semangat belajar dan bersaing tidak mengenal usia. Keberhasilan menaklukkan Resident Evil Requiem tanpa panduan sekaligus memecahkan rekor dunia menginspirasi banyak kalangan, sekaligus membuka diskusi mengenai inklusivitas dalam dunia game dan media digital. Dengan dukungan komunitas, sponsor, dan institusi pencatat rekor, perjalanan sang kakek gamer masih panjang dan penuh tantangan baru yang siap ia hadapi.





