123Berita – 05 April 2026 | Yogyakarta menjadi saksi hadirnya sebuah kafe pop‑up yang sempat viral di Bali. Kafe tersebut, yang dikenal dengan interior Instagramable dan menu kreatif, kini membuka gerai sementara di salah satu lokasi strategis kota Gudeg. Keunikan konsep dan estetika visualnya langsung menarik perhatian warga Jogja, namun tak lama kemudian sorotan beralih pada harga menu andalannya, terutama croissant yang dibanderol Rp60.000 per buah.
Pop‑up ini merupakan bagian dari strategi ekspansi singkat yang diharapkan dapat memperkenalkan cita rasa Bali kepada pasar Jawa Tengah. Menurut penyelenggara, kafe ini menonjolkan bahan baku premium, teknik pembuatan tradisional, serta desain interior yang mengangkat nuansa tropis Bali. Seluruh elemen tersebut dikemas dalam ruang yang hanya beroperasi selama tiga minggu, menjadikannya objek kunjungan bagi pecinta kuliner dan fotografer media sosial.
Namun, ketika menu pertama kali dipublikasikan, harga croissant seukuran besar mengejutkan netizen. Rp60.000 untuk satu buah roti lapis mentega yang biasanya dijual antara Rp15.000‑Rp25.000 di kafe lokal menimbulkan perdebatan hangat di media sosial. Beberapa pengguna menilai harga tersebut tidak sebanding dengan porsi dan rasa, sementara yang lain mencoba memahami alasan di balik tarif premium.
Berbagai komentar mengemuka di platform seperti Twitter, Instagram, dan forum daring. Berikut rangkuman reaksi netizen yang paling menonjol:
- “Harga croissant Rp60 ribu setara UMR di Yogyakarta, tidak masuk akal!” – seorang pengguna Instagram.
- “Kalau memang bahan premium, setidaknya jelaskan detailnya, bukan sekadar hype.” – komentar di Twitter.
- “Saya tetap mau coba karena penasaran, tapi jangan harap rasanya luar biasa.” – posting di forum kuliner.
- “Kalo mau eksklusif, kenapa tidak pakai nama brand internasional?” – pertanyaan dari pengguna Facebook.
Para pengamat industri kuliner menilai fenomena ini mencerminkan tren pemasaran berbasis pengalaman (experience‑driven) yang semakin populer di Indonesia. Menurut salah satu konsultan, harga tinggi sering dipakai sebagai sinyal eksklusivitas, terutama pada konsep pop‑up yang menargetkan kalangan milenial dan Gen Z yang senang membagikan foto unik di media sosial.
Di sisi lain, perbandingan harga dengan Upah Minimum Regional (UMR) Yogyakarta menambah sensitifitas isu. Data terbaru menunjukkan UMR di Yogyakarta pada 2024 berada di kisaran Rp2,3 juta per bulan, atau sekitar Rp115.000 per hari kerja. Dengan demikian, satu croissant dapat menghabiskan hampir setengah hari upah harian seorang pekerja biasa, menjadikannya beban yang tidak ringan bagi konsumen rata‑rata.
Selain croissant, menu lain seperti latte art berbentuk patung mini, pancake dengan topping kelapa, dan salad buah eksotis juga mendapat sorotan. Namun, harga mereka masih berada di kisaran Rp30.000‑Rp45.000, yang meskipun lebih terjangkau, tetap dianggap premium dibandingkan standar kafe lokal.
Kafe pop‑up ini juga menyertakan program loyalty sederhana: setiap pembelian tiga menu premium, pelanggan berhak mendapatkan satu croissant gratis. Strategi ini dirancang untuk meningkatkan frekuensi kunjungan dan menciptakan efek viral lebih lanjut melalui testimoni pelanggan.
Sejumlah pakar ekonomi mikro menyoroti bahwa strategi penetapan harga yang agresif dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, harga tinggi dapat meningkatkan margin keuntungan dan memperkuat citra eksklusif. Di sisi lain, bila tidak disertai nilai tambah yang jelas, konsumen dapat beralih ke alternatif yang lebih terjangkau, mengakibatkan penurunan volume penjualan.
Pengelola kafe menanggapi kritik dengan menegaskan bahwa semua bahan baku dipilih secara selektif, mulai dari mentega impor, tepung berprotein tinggi, hingga isi croissant berupa selai buah eksotis dan krim kocok organik. Mereka menambahkan bahwa proses pembuatan memerlukan waktu lebih lama dan tenaga ahli yang terlatih, sehingga biaya produksi secara alami lebih tinggi.
Selama masa operasional, kafe tersebut mencatat rata‑rata kunjungan harian sekitar 150 orang, dengan porsi penjualan croissant mencapai 30‑40 unit per hari. Meskipun angka ini terbilang moderat, tingkat konversi pembeli menjadi pelanggan tetap diperkirakan cukup baik, mengingat program loyalty dan eksposur media yang intens.
Keberadaan kafe ini juga memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal. Vendor bahan baku, penyedia layanan kebersihan, dan tenaga kerja paruh waktu di sekitar lokasi gerai mendapatkan peluang kerja tambahan selama tiga minggu. Beberapa pelaku UMKM setempat melaporkan peningkatan penjualan akibat aliran pengunjung yang lebih tinggi.
Namun, tantangan utama tetap pada persepsi nilai. Untuk menyeimbangkan ekspektasi konsumen, beberapa pakar menyarankan agar kafe memperjelas rincian biaya produksi, misalnya dengan menampilkan label bahan atau menambahkan storytelling pada menu. Transparansi semacam itu dapat mengurangi skeptisisme dan meningkatkan kepercayaan pelanggan.
Secara keseluruhan, kehadiran kafe viral Bali di Yogyakarta menimbulkan dinamika menarik antara inovasi kuliner, strategi pemasaran, dan sensitivitas harga masyarakat. Sementara sebagian besar pengunjung mengapresiasi suasana unik dan peluang foto Instagramable, masih ada segmen yang merasa harga beberapa menu, khususnya croissant Rp60 ribu, terlalu tinggi dibandingkan standar lokal.
Keputusan apakah kafe akan memperpanjang masa operasinya atau meluncurkan cabang permanen di Jogja masih belum diumumkan. Namun, fenomena ini memberi pelajaran penting bagi pelaku industri makanan: menciptakan pengalaman yang memukau harus disertai dengan penetapan harga yang realistis dan komunikatif, terutama di pasar dengan daya beli yang beragam.
Dengan menyeimbangkan antara eksklusivitas dan nilai, kafe pop‑up ini berpotensi menjadi contoh sukses kolaborasi kuliner lintas daerah, sekaligus menginspirasi usaha lain untuk berinovasi tanpa mengabaikan sensitivitas ekonomi konsumen.





