123Berita – 07 Mei 2026 | Petenis muda Indonesia, Janice Tjen, harus rela menelan kegagalan pada debutnya di ajang bergengsi Internazionali BNL D’Italia 2026 atau WTA 1000 Roma. Dalam laga pertama, ia berhadapan dengan pemain asal Amerika Serikat, Peyton Stearns, yang berhasil menumpasnya dengan skor 6-2, 6-3. Kekalahan ini menjadi catatan penting karena menandai penampilan pertama Janice Tjen di turnamen level 1000, sekaligus menambah beban ekspektasi pada generasi baru tenis putri tanah air.
Turnamen WTA 1000 Roma, yang berlangsung di tanah bersejarah Italia, selalu menjadi panggung bagi para pemain top dunia untuk menguji kemampuan mereka menjelang Grand Slam musim panas. Bagi Janice Tjen, partisipasinya merupakan langkah strategis untuk mengakumulasi poin ranking serta memperoleh pengalaman melawan lawan kelas dunia. Sayangnya, lawan pertamanya, Peyton Stearns, menunjukkan konsistensi servis dan variasi pukulan yang membuat Janice Tjen kesulitan mengatur ritme permainan.
Berikut adalah rangkuman statistik utama pertandingan tersebut:
- Jumlah ace: Janice Tjen 1, Peyton Stearns 3
- Unforced errors: Janice Tjen 18, Peyton Stearns 9
- First serve percentage: Janice Tjen 58%, Peyton Stearns 66%
- Break points won: Janice Tjen 0/3, Peyton Stearns 2/4
Statistik di atas mengindikasikan bahwa Janice Tjen masih perlu meningkatkan ketajaman servis serta mengurangi jumlah kesalahan tidak dipaksakan. Sementara itu, Peyton Stearns memanfaatkan peluang dengan baik, terutama pada fase return servis, yang akhirnya memberikan tekanan konstan pada Janice Tjen.
Reaksi Janice Tjen setelah pertandingan terkesan tenang namun tetap kritis. Ia mengaku bahwa “Saya masih belajar menyesuaikan diri dengan kecepatan dan intensitas turnamen WTA 1000. Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga untuk perbaikan teknik dan mental.” Pernyataan tersebut mencerminkan sikap profesional serta kesiapan mental untuk bangkit kembali.
Dari perspektif tim pelatih, fokus utama kini adalah memperbaiki aspek-aspek teknis yang masih lemah, seperti footwork di lapangan tanah liat dan variasi spin pada forehand. Pelatih utama Janice Tjen, Rudi Hartono, menambahkan, “Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh, termasuk meninjau video pertandingan, untuk mengidentifikasi titik-titik kritis yang harus diperbaiki. Tujuannya agar Janice dapat bersaing lebih kompetitif pada turnamen selanjutnya, terutama di Grand Slam.”
Secara lebih luas, kegagalan Janice Tjen di Roma menimbulkan perbincangan di kalangan penggemar tenis Indonesia. Banyak yang menilai bahwa walaupun hasilnya belum memuaskan, kehadiran pemain muda Indonesia di ajang WTA 1000 merupakan langkah progresif bagi perkembangan tenis nasional. Hal ini sekaligus membuka peluang bagi sponsor dan federasi untuk meningkatkan dukungan pada generasi penerus.
Selain itu, keberadaan Janice Tjen di Roma memberikan inspirasi bagi pemain muda lain di tanah air. Meskipun belum meraih kemenangan, keberanian untuk melangkah ke level tertinggi menjadi contoh nyata bahwa dengan kerja keras dan dukungan yang tepat, pemain Indonesia dapat menembus kompetisi internasional.
Ke depan, Janice Tjen dijadwalkan akan berpartisipasi dalam serangkaian turnamen persiapan menjelang Wimbledon dan US Open. Jadwal tersebut meliputi turnamen WTA 250 di Prancis, serta beberapa kejuaraan ITF di Asia. Setiap kompetisi menjadi arena latihan untuk memperbaiki performa, khususnya dalam menghadapi pemain-pemain dengan gaya permainan beragam.
Kesimpulannya, meskipun Janice Tjen harus mengakui kekalahan di babak pertama WTA 1000 Roma, pengalaman ini menjadi batu loncatan penting dalam kariernya. Dengan evaluasi yang tepat, peningkatan teknis, serta dukungan berkelanjutan dari federasi dan sponsor, ia berpotensi menjadi salah satu aset utama tenis Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.



