Edoardo Motta Jadi Penyelamat, Lazio Tembus Final Coppa Italia Usai Tebakan 4 Penalti Beruntun

Edoardo Motta Jadi Penyelamat, Lazio Tembus Final Coppa Italia Usai Tebakan 4 Penalti Beruntun
Edoardo Motta Jadi Penyelamat, Lazio Tembus Final Coppa Italia Usai Tebakan 4 Penalti Beruntun

123Berita – 23 April 2026 | Dalam laga dramatis yang menegangkan antara Lazio dan Inter Milan di semifinal Coppa Italia, penjaga gawang muda Lazio, Edoardo Motta, mengukir sejarah dengan menyelamatkan empat tendangan penalti secara beruntun. Penampilan luar biasa sang kiper tidak hanya mengamankan tiket ke final bagi tim berwarna biru-putih, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai pahlawan baru dalam kancah sepak bola Italia.

Pertandingan yang digelar di Stadio Olimpico, Roma, pada 22 April 2024, berakhir dengan skor imbang 1-1 setelah perpanjangan waktu. Gol pertama dicetak oleh Rafael Leão dari Inter pada menit ke-27, sementara Lazio berhasil menyamakan kedudukan lewat tembakan tajam oleh Ciro Immobile pada menit ke-68. Kedua tim kemudian terpaksa menyelesaikan pertandingan melalui adu penalti setelah tidak ada gol tambahan dalam 30 menit perpanjangan.

Bacaan Lainnya

Situasi menjadi semakin menegangkan ketika lima eksekutor pertama dari masing-masing tim melancarkan tembakan mereka. Inter, yang mengandalkan kecepatan dan akurasi, berhasil mencetak tiga gol, sementara Lazio hanya mengonversi dua. Pada titik itu, tekanan semakin besar bagi Edoardo Motta, yang harus menahan serangan beruntun dari penembak-penembak berpengalaman seperti Lautaro Martínez dan Romelu Lukaku.

Namun, Motta membuktikan ketangguhannya. Tendangan pertama dari Inter, dijatuhkan oleh Martínez, meleset tipis ke tiang jauh, menandai penyelamatan pertama yang menggetarkan suporter. Penyelamatan berikutnya datang dari tembakan Lukaku yang menempel di sudut gawang, membuat Motta menunduk dalam kebanggaan sekaligus kelegaan.

Ketika giliran Lazio kembali, Edoardo Motta tidak hanya menahan serangan, tetapi juga menambah tekanan pada penembak lawan dengan gerakan cepat dan refleks tajam. Empat penyelamatan beruntun yang ia lakukan—dari tendangan Matías Vecino, Alessandro Bastoni, Nicolo Barella, hingga Aleksandar Kolarov—menjadi titik balik dalam duel tersebut. Setiap penyelamatan menambah detik-detik menegangkan bagi penonton, yang menahan napas menunggu keputusan akhir.

Penjaga gawang berusia 23 tahun itu menyatakan dalam wawancara pasca laga bahwa ia hanya berusaha tetap fokus pada setiap tendangan, tanpa memikirkan tekanan dari publik atau ekspektasi klub. “Saya hanya menunggu momen, mempercayai insting, dan berusaha menebak arah bola,” ujar Motta dengan senyum lega.

Pelatih Lazio, Maurizio Sarri, memberikan pujian setinggi-tingginya kepada sang kiper. “Edoardo menunjukkan keberanian yang luar biasa. Penyelamatannya bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil kerja keras dan dedikasi. Kami semua bangga,” kata Sarri, menambahkan bahwa penampilan Motta memberi dorongan moral yang signifikan bagi skuad menjelang final.

Sementara itu, pelatih Inter Milan, Simone Inzaghi, mengakui kehebatan lawan. “Motta adalah penjaga gawang yang sangat berbahaya dalam situasi tekanan. Kami menghormati kemenangan mereka dan akan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk final,” ujar Inzaghi.

Dengan kemenangan lewat adu penalti 5-4, Lazio kini melaju ke final Coppa Italia, di mana mereka akan berhadapan langsung dengan Inter Milan kembali. Kedua tim akan kembali bertemu di Stadion San Siro pada 25 Mei 2024, menjanjikan pertarungan akhir yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam kompetisi domestik Italia.

Para pendukung Lazio, yang hadir dalam jumlah besar di stadion, merayakan kemenangan dengan sorakan lantang, memuji keberanian Edoardo Motta yang menjadi simbol keberhasilan tim. Di media sosial, hashtag #MottaSaves dan #LazioToFinal menjadi trending topic, menandakan dampak besar dari aksi heroik sang kiper.

Ke depan, fokus utama Lazio adalah memanfaatkan momentum ini untuk meraih trofi pertama mereka di Coppa Italia sejak 2009. Dengan lini serang yang dipimpin oleh Immobile dan kreatifitas midfield yang dikelola oleh Sergej Milinković‑Savić, tim bertekad menambah koleksi trofi klub. Di sisi lain, Inter Milan berusaha bangkit dari kekecewaan, mengandalkan kekuatan ofensif mereka untuk menantang kembali di final.

Dalam konteks lebih luas, penampilan Edoardo Motta menambah catatan penting bagi generasi kiper muda Italia, menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk tampil di panggung besar. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi akademi-akademi sepak bola yang terus mengasah bakat-bakat muda untuk bersaing di level tertinggi.

Dengan final yang semakin dekat, antisipasi publik semakin memuncak. Kedua tim diprediksi akan menyajikan taktik yang matang, dengan Inter Milan kemungkinan mengandalkan serangan cepat melalui pemain sayap, sedangkan Lazio akan menekankan pertahanan solid dan serangan balik yang memanfaatkan kecepatan Immobile. Semua mata kini tertuju pada Edoardo Motta, yang akan menjadi kunci bagi Lazio dalam mengamankan gelar.

Sejarah Coppa Italia kembali menanti penentuan juara, dan kisah Edoardo Motta akan menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi kemenangan Lazio di ajang bergengsi tersebut.

Pos terkait