Hector Souto Soroti Kekerasan di AFF Futsal 2026, Serukan Wasit Lebih Tegas

123Berita – 10 April 2026 | Pelatih asal Brasil, Hector Souto, yang kini memimpin tim futsal Indonesia, mengungkapkan keprihatinannya atas intensitas pertandingan dalam Piala AFF Futsal 2026. Menurutnya, turnamen tersebut telah berubah menjadi arena yang terlalu keras, bahkan menimbulkan perbandingan tak terpuji dengan olahraga kontak seperti rugbi.

Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di Jakarta, Souta menegaskan pentingnya penegakan aturan yang konsisten oleh para wasit. Ia menambahkan bahwa futsal, sebagai cabang sepak bola dengan lapangan lebih kecil dan tempo permainan yang cepat, memerlukan pengawasan yang tepat agar tetap mengedepankan teknik dan taktik, bukan kekerasan fisik.

Bacaan Lainnya

“Kami menghargai semangat kompetisi, namun bila permainan mulai beralih menjadi adu fisik yang berlebihan, hal itu justru merusak esensi futsal,” ujar Souta. “Wasit harus dapat mengontrol agresi pemain, memberi peringatan yang jelas, dan menegakkan hukuman bila diperlukan. Futsal bukan rugbi, dan kami tidak ingin melihatnya diperlakukan seperti itu.”

Penilaian Souta tidak lepas dari beberapa insiden yang terjadi selama fase grup turnamen. Beberapa pertandingan menampilkan tabrakan keras, tendangan keras ke tubuh lawan, serta perilaku yang dianggap melanggar sportivitas. Meskipun tidak ada cedera serius yang dilaporkan, kekhawatiran atas potensi bahaya jangka panjang menjadi sorotan utama.

Berikut beberapa poin penting yang disampaikan oleh pelatih tersebut:

  • Pengawasan Wasit: Wasit harus lebih tegas dalam menegakkan aturan fouls dan melakukan peringatan dini kepada pemain yang menunjukkan tanda-tanda agresi berlebih.
  • Pendidikan Pemain: Tim nasional futsal Indonesia dan negara peserta lainnya perlu diberikan edukasi mengenai batasan fisik yang dapat diterima dalam futsal.
  • Peninjauan Aturan: Komite penyelenggara AFF Futsal 2026 diminta untuk meninjau kembali regulasi disiplin agar selaras dengan karakteristik permainan futsal.

Souta juga menekankan bahwa kekerasan dalam futsal dapat berakibat pada penurunan kualitas pertandingan. “Jika pemain terlalu fokus pada aspek fisik, mereka akan mengabaikan kreativitas, kontrol bola, dan pergerakan yang menjadi inti futsal,” tambahnya. “Kami ingin penonton menikmati permainan yang mengutamakan kecepatan, kecerdikan, dan kolaborasi tim, bukan sekadar pertarungan fisik.”

Selain itu, pelatih asal Brasil ini menyoroti peran penting federasi futsal masing-masing negara dalam menyiapkan pemain dengan mental yang tepat. “Sikap disiplin harus ditanamkan sejak usia dini, baik di tingkat klub maupun akademi,” ujarnya. “Jika para pemain memahami pentingnya kontrol diri, mereka akan lebih menghormati lawan dan wasit di lapangan.”

Respons dari penyelenggara AFF Futsal 2026 belum secara resmi muncul, namun pihak turnamen sebelumnya pernah menegaskan komitmen mereka untuk memastikan pertandingan berlangsung adil dan aman. Sebagai langkah selanjutnya, mereka diharapkan dapat melakukan evaluasi atas masukan dari pelatih-pelatih terkemuka seperti Hector Souta.

Komunitas futsal Indonesia menyambut baik kritik konstruktif tersebut. Beberapa pemain senior menambahkan bahwa mereka juga merasakan adanya tekanan fisik yang berlebihan pada beberapa laga. “Kita semua ingin kompetisi yang bersih dan menarik,” kata salah satu kapten tim futsal Indonesia. “Jika wasit dapat menegakkan aturan dengan tegas, hal itu akan meningkatkan kepercayaan pemain untuk bermain dengan lebih lepas tanpa takut mendapat tindakan keras yang tidak proporsional.”

Dengan menyoroti isu ini, Hector Souta berharap agar AFF Futsal 2026 dapat menjadi contoh turnamen yang mengedepankan sportivitas, teknik, dan kecepatan, sekaligus memastikan keamanan semua pemain yang terlibat. Ia menutup pernyataannya dengan harapan agar penyelenggara dan seluruh pemangku kepentingan dapat bekerja sama menciptakan lingkungan kompetisi yang lebih baik di masa depan.

Kesimpulannya, kritik Hector Souta menyoroti perlunya penegakan aturan yang lebih ketat, edukasi pemain tentang batas fisik dalam futsal, serta revisi regulasi disiplin. Jika semua pihak dapat mengimplementasikan saran tersebut, diharapkan AFF Futsal 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, melainkan juga contoh terbaik dalam menyeimbangkan intensitas pertandingan dengan semangat sportivitas yang sejati.

Pos terkait