123Berita – 04 April 2026 | Gunung berapi Dukono yang terletak di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, kembali menunjukkan aktivitasnya yang tinggi pada Jumat malam, 3 April 2024. Pada pukul 22.18 waktu setempat (WIT), gunung tersebut meletus dengan dahsyat, mengirimkan kolom abu vulkanik mencapai ketinggian sekitar tiga ribu meter ke atmosfer. Letusan ini menandai salah satu episode erupsi paling signifikan dalam beberapa bulan terakhir, menimbulkan kepanikan di kalangan penduduk setempat dan menimbulkan perhatian khusus dari badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika (BMKG) serta instansi penanggulangan bencana nasional.
BMKG segera mengeluarkan peringatan dini level tiga (siaga) untuk wilayah sekitarnya, menekankan potensi bahaya bagi kesehatan pernapasan serta risiko kerusakan pada infrastruktur. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga mengirim tim ahli ke lokasi untuk melakukan pemantauan intensif, termasuk pengukuran tinggi kolom abu menggunakan radar cuaca dan satelit. Hasil pengukuran sementara mengkonfirmasi bahwa kolom abu mencapai ketinggian 3.000 meter, melampaui ambang batas yang biasanya memicu pembatasan penerbangan di wilayah tersebut.
- Waktu letusan: 22.18 WIB (WIT), 3 April 2024
- Ketinggian kolom abu: ~3.000 meter
- Wilayah terdampak: Kabupaten Halmahera Utara, khususnya desa-desa di lereng selatan dan timur gunung
- Peringatan BMKG: Level tiga (siaga)
Akibat awan abu yang tebal, otoritas penerbangan Indonesia (Direktorat Jenderal Perhubungan Udara) menerbitkan pembatasan ruang udara di zona sekitar 30 kilometer radius dari puncak gunung. Beberapa maskapai penerbangan domestik yang mengoperasikan rute menuju Bandara Tobelo dan Bandara Langgur sementara menunda atau membatalkan jadwalnya. Selain itu, tim SAR dan pemadam kebakaran gunung berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengevakuasi warga yang tinggal di zona berisiko tinggi.
Sejak awal 2024, Gunung Dukono telah mengalami serangkaian peningkatan aktivitas, termasuk semburan uap, gempa mikro, dan pengeluaran abu ringan secara periodik. Namun, erupsi malam ini tergolong lebih kuat dibandingkan kejadian sebelumnya, baik dari segi volume material yang dikeluarkan maupun ketinggian kolom abu. Pakar vulkanologi menilai bahwa peningkatan tekanan magma di dalam ruang magma Dukono menjadi faktor pemicu utama, dipicu oleh pergerakan lempeng tektonik di wilayah Maluku yang terus berubah.
Dalam menanggapi situasi, pemerintah Kabupaten Halmahera Utara melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mendirikan posko darurat di pusat kecamatan Tobelo, serta mengaktifkan jalur evakuasi darurat menuju tempat penampungan sementara di sekolah-sekolah yang belum terpengaruh. Hingga saat penulisan berita ini, sekitar 1.200 warga telah dipindahkan ke lokasi aman, sementara tim medis setempat memberikan bantuan kesehatan terutama untuk kasus iritasi pernapasan akibat inhalasi abu.
Para petugas kesehatan mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker respirator, menghindari aktivitas luar ruangan, serta menutup semua ventilasi rumah bila memungkinkan. Di samping itu, mereka menekankan pentingnya menjaga kebersihan peralatan rumah tangga dan kendaraan yang terkena abu, karena partikel halus dapat menempel lama dan menimbulkan masalah kesehatan jangka panjang.
Sejarah mencatat bahwa Gunung Dukono merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia, dengan catatan erupsi hampir setiap tahun sejak dekade 1990-an. Letusan sebelumnya yang paling signifikan terjadi pada tahun 2014, ketika kolom abu mencapai lebih dari 4.000 meter dan menyebabkan gangguan penerbangan internasional. Pengalaman tersebut menjadi acuan bagi otoritas dalam merancang prosedur evakuasi dan mitigasi risiko pada erupsi kali ini.
Ke depannya, BMKG dan PVMBG berjanji akan terus memantau aktivitas vulkanik Dukono secara real-time, termasuk penggunaan sensor seismik, GPS, dan citra satelit. Jika situasi semakin memburuk, peringatan level empat (waspada) dapat dikeluarkan, yang akan memicu langkah-langkah tambahan seperti penutupan total wilayah zona bahaya dan penambahan unit evakuasi.
Secara keseluruhan, letusan Gunung Dukono malam ini menegaskan kembali pentingnya kesiapsiagaan daerah rawan bencana vulkanik. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga ilmiah, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan, ekonomi, dan infrastruktur. Dengan langkah-langkah mitigasi yang tepat serta komunikasi yang transparan, diharapkan ancaman lebih lanjut dapat dikelola secara efektif.