123Berita – 09 April 2026 | Musim ketiga serial fenomenal HBO, Euphoria, kembali mengundang perdebatan hangat setelah debutnya yang disambut dengan antusiasme tinggi. Dibintangi oleh Zendaya sebagai Rue, Sydney Sweeney sebagai Cassie, dan Jacob Elordi sebagai Nate, serial ini kembali menelusuri liku‑liku gelap generasi Z dengan visual yang memukau, dialog yang tajam, dan narasi yang tidak jarang menyinggung tema-tema berat seperti kecanduan, seksualitas, dan trauma. Namun, reaksi kritis beragam; sebagian memuji keberanian artistik, sementara yang lain menganggap musim ini telah kehilangan kecepatan dan keunikan yang menjadikan Euphoria begitu ikonik pada musim‑musim sebelumnya.
Roger Ebert, meskipun tidak lagi menulis ulasan secara aktif, nama publikasinya tetap menjadi barometer kritik film dan televisi. Dalam ulasannya, ia menyoroti bagaimana Euphoria musim ketiga tampak “hilang” sejalan dengan karakternya. Menurut ia, serial ini kini berada dalam kebingungan naratif, dengan alur yang terasa melayang tanpa tujuan yang jelas. Meskipun visual tetap menawan, cerita tampak terpecah‑pecah, mengorbankan kedalaman karakter demi efek dramatis yang berlebihan.
BBC juga memberikan pandangan beragam. Di satu sisi, laporan mereka menyoroti kehadiran gemerlap para pemeran utama pada premier musim ketiga, menekankan penampilan karismatik Zendanda, Sydney Sweeney, dan Jacob Elordi yang berhasil memikat penonton. Di sisi lain, ulasan lain dari BBC menilai bahwa Euphoria kehilangan “edge” zeitgeist‑nya, menurunkan rating menjadi dua bintang dari lima. Kritik utama berfokus pada rasa monoton yang muncul akibat plot yang terasa dipaksakan dan kurangnya inovasi dalam penyajian visual yang sebelumnya menjadi andalan serial.
IndieWire memberikan kritik yang lebih tajam dengan menyebutkan bahwa serial karya Sam Levinson ini “menjadi tua dan membosankan”. Menurut mereka, apa yang dulu menjadi kekuatan—yaitu eksplorasi psikologis yang menantang dan gaya sinematik yang berani—kini terasa usang. Penulis menilai bahwa penekanan pada gaya visual sudah berlebihan, sementara perkembangan karakter menjadi sekadar latar belakang bagi adegan-adegan berkilau.
Berbeda dengan kritik yang lebih keras, Vogue menyoroti sisi glamor di balik layar, melaporkan pesta after‑party di Chateau Marmont yang dihadiri para pemain utama. Momen ini menggambarkan bagaimana produksi Euphoria tetap menjadi fenomena budaya, menghubungkan dunia hiburan dengan fashion dan gaya hidup selebriti. Meskipun demikian, sorotan pada pesta tersebut tidak menutup mata atas isu-isu yang diangkat dalam serial, melainkan menambah dimensi lain pada persepsi publik.
Berikut rangkuman poin‑poin penting yang menonjol dalam ulasan‑ulasan kritis tersebut:
- Kekuatan visual: Sinematografi, pencahayaan, dan estetika tetap menjadi sorotan utama, memberikan pengalaman menonton yang memukau.
- Kebingungan naratif: Alur cerita terasa terpecah, dengan konflik yang tidak selalu terselesaikan secara memuaskan.
- Karakter yang terpinggirkan: Fokus pada efek visual mengorbankan kedalaman psikologis karakter, mengurangi empati penonton.
- Penurunan rating kritis: Dari dua bintang di BBC hingga dua setengah di IndieWire, penurunan skor menandakan penurunan kualitas yang dirasakan.
- Daya tarik budaya: Kehadiran para bintang dalam acara sosial dan fashion tetap menegaskan posisi Euphoria sebagai ikon budaya pop.
Meski mendapat kritik, Euphoria musim ketiga tetap berhasil mengumpulkan penonton yang setia dan menarik perhatian media internasional. Keberanian tim produksi dalam mengeksplorasi tema‑tema tabu tetap menjadi nilai jual utama, meskipun cara penyampaiannya kini dipertanyakan. Bagi penikmat serial yang mengutamakan estetika visual dan drama emosional, musim ini masih menawarkan momen‑momen yang menggugah. Namun, bagi mereka yang mengharapkan narasi yang lebih terstruktur dan pertumbuhan karakter yang konsisten, serial ini mungkin terasa mengecewakan.
Ke depan, harapan akan perubahan arah masih mengemuka. Apakah Sam Levinson dan tim kreatif akan kembali menyalakan kembali “semangat” Euphoria yang begitu memikat pada musim‑musim pertama, ataukah serial ini akan terus melangkah dalam gaya yang terkesan stagnan, masih menjadi pertanyaan yang menunggu jawabannya.
Kesimpulannya, Euphoria musim ketiga merupakan campuran antara keindahan visual yang menakjubkan dan kebingungan naratif yang mengurangi dampak emosional. Serial ini berhasil mempertahankan tempatnya dalam percakapan budaya, namun harus beradaptasi lebih cerdas untuk mengembalikan keunggulan yang menjadikannya fenomena global.





