123Berita – 07 April 2026 | Purbaya Pede, analis terkemuka di sektor keuangan, menyatakan keyakinannya bahwa perekonomian Indonesia dapat mendekati tingkat pertumbuhan 6 persen pada tahun 2026. Pernyataan ini muncul di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang berpotensi menimbulkan tekanan pada arus perdagangan dan harga komoditas.
Purbaya menguraikan tiga skenario utama yang dapat memengaruhi realisasi target pertumbuhan tersebut:
- Skenario Optimis: Dalam kondisi ini, konflik internasional tidak meluas, harga energi stabil, dan permintaan global terhadap komoditas tetap tinggi. Pemerintah berhasil mengeksekusi proyek infrastruktur besar, seperti jalur kereta cepat dan pelabuhan baru, yang meningkatkan produktivitas. Inflasi tetap terkendali di bawah 4 persen, memungkinkan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga yang mendukung investasi.
- Skenario Moderat: Konflik tetap terbatas tetapi menimbulkan fluktuasi harga minyak dan gas. Pemerintah mengadopsi kebijakan penyesuaian fiskal untuk menutupi defisit, sementara Bank Indonesia menyesuaikan suku bunga secara hati-hati. Pertumbuhan ekonomi masih berada di kisaran 5,5‑5,8 persen, sedikit di bawah target 6 persen namun tetap menunjukkan momentum positif.
- Skenario Pesimis: Eskalasi konflik mengganggu rantai pasokan, harga energi melonjak, dan nilai tukar rupiah tertekan. Inflasi naik di atas 5 persen, memaksa Bank Indonesia meningkatkan suku bunga yang pada gilirannya menurunkan investasi dan konsumsi. Dalam skenario ini, pertumbuhan dapat turun menjadi 4,5‑5 persen, menimbulkan tekanan pada pencapaian target.
Faktor-faktor penopang yang disebutkan Purbaya mencakup peningkatan produktivitas sektor manufaktur, digitalisasi layanan publik, serta kebijakan insentif pajak bagi perusahaan yang berinvestasi di wilayah kurang berkembang. Ia juga menyoroti peran penting sektor pariwisata yang kembali bangkit pasca‑pandemi, memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa dan penciptaan lapangan kerja.
Selain faktor-faktor struktural, Purbaya menekankan pentingnya stabilitas politik dan kebijakan moneter yang konsisten. Menurutnya, koordinasi yang baik antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menjadi kunci untuk mengantisipasi gejolak eksternal. “Jika pemerintah dapat menjaga defisit anggaran pada level yang wajar dan tetap fleksibel dalam menyesuaikan kebijakan fiskal, ekonomi Indonesia memiliki ruang bernapas yang cukup untuk mencapai pertumbuhan mendekati 6 persen,” ujarnya.
Analisis Purbaya juga mencakup proyeksi data makroekonomi yang relevan. Ia memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) akan tumbuh rata-rata 5,9 persen pada 2024‑2025, dengan kontribusi utama dari sektor industri (30 persen), layanan (45 persen), dan pertanian (25 persen). Tingkat pengangguran diprediksi turun menjadi 5,2 persen pada akhir 2025, menandakan pasar kerja yang masih menyerap tenaga kerja baru.
Namun, Purbaya mengingatkan bahwa skenario paling menguntungkan memerlukan disiplin dalam pengelolaan utang publik. Rasio utang terhadap PDB sebaiknya tidak melebihi 45 persen, agar beban pembayaran bunga tidak menggerogoti anggaran pembangunan. Ia menambahkan bahwa reformasi birokrasi, terutama dalam percepatan perizinan, tetap menjadi prioritas untuk meningkatkan iklim investasi.
Dalam konteks kebijakan moneter, Purbaya memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) akan berada pada kisaran 4,5‑5,0 persen pada akhir 2025, asalkan inflasi tidak melampaui target. Kebijakan ini diharapkan dapat menstimulasi kredit produktif tanpa menimbulkan tekanan inflasi yang signifikan.
Secara keseluruhan, Purbaya menilai bahwa meskipun tantangan eksternal tidak dapat diabaikan, kombinasi kebijakan fiskal yang pro‑aktif, reformasi struktural, serta stabilitas politik memberikan peluang yang cukup besar bagi Indonesia untuk mencapai pertumbuhan hampir 6 persen pada 2026. Ia menekankan bahwa realisasi target tersebut sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengelola risiko eksternal dan mengeksekusi agenda reformasi secara konsisten.
Dengan memperhatikan berbagai skenario yang telah dipaparkan, para pelaku pasar, investor, serta pembuat kebijakan diharapkan dapat menyesuaikan strategi mereka guna memaksimalkan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Keberhasilan dalam mengatasi hambatan eksternal serta memperkuat fondasi domestik akan menjadi penentu utama pencapaian target pertumbuhan yang ambisius ini.





