Calon Haji Lansia dari Jawa Tengah Dirawat di Sumut Setelah Mendarat di Kualanamu

Calon Haji Lansia dari Jawa Tengah Dirawat di Sumut Setelah Mendarat di Kualanamu
Calon Haji Lansia dari Jawa Tengah Dirawat di Sumut Setelah Mendarat di Kualanamu

123Berita – 25 April 2026 | Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sumatera Utara mengonfirmasi bahwa dua calon haji lansia asal Jawa Tengah telah tiba di Bandara Internasional Kualanamu, Medan, dan langsung mendapatkan penanganan medis di rumah sakit setempat. Kedatangan mereka menimbulkan perhatian khusus mengingat usia lanjut para jamaah haji seringkali memerlukan pemeriksaan kesehatan yang ketat sebelum melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci.

Para calon haji yang bersangkutan merupakan pasangan suami istri berusia 73 dan 71 tahun. Keduanya sebelumnya telah melewati serangkaian pemeriksaan medis di kantor Kementerian Haji Jawa Tengah dan dinyatakan layak melakukan ibadah haji pada tahun 2024. Namun, kondisi mereka menurun drastis saat berada di pesawat, sehingga keputusan untuk menghentikan perjalanan ke Arab Saudi diambil demi keselamatan mereka.

Bacaan Lainnya

Proses penanganan medis di Sumut melibatkan tim dokter spesialis penyakit dalam, kardiologi, serta perawat yang berpengalaman dalam penanganan lansia. Selama masa observasi, kedua calon haji tersebut menjalani serangkaian tes, termasuk elektrokardiogram (EKG), tes darah lengkap, serta pemeriksaan fungsi paru-paru. Hasil sementara menunjukkan adanya gangguan irama jantung dan penurunan fungsi pernapasan, yang memerlukan perawatan lanjutan.

Selain aspek medis, pihak Kemenhaj juga mengkoordinasikan kebutuhan logistik bagi kedua calon haji. Tim administrasi memastikan bahwa dokumen keimigrasian, tiket kembali, serta akomodasi selama perawatan tetap terkelola dengan baik. “Kami tidak ingin mereka merasa terbebani, terutama di usia lanjut. Semua kebutuhan mereka kami urus secara terpusat,” tambah Dr. Hadi.

Kejadian ini menjadi sorotan penting terkait kebijakan kesehatan bagi jamaah haji lansia. Sejak tahun 2020, Kemenhaj telah menerapkan standar kesehatan yang lebih ketat, termasuk tes COVID-19, pemeriksaan tekanan darah, dan evaluasi fungsi organ vital. Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi risiko komplikasi medis selama pelaksanaan ibadah haji, mengingat perjalanan yang menuntut fisik dan stamina tinggi.

Para ahli kesehatan menilai bahwa penanganan cepat seperti yang dilakukan di Sumut merupakan contoh praktik terbaik dalam mengelola risiko kesehatan pada jamaah haji. “Kesiapsiagaan medis di bandara dan rumah sakit terdekat sangat krusial, terutama bagi calon haji yang berusia di atas 70 tahun,” kata Prof. Dr. Siti Nurhaliza, pakar kedokteran publik Universitas Indonesia.

Sementara itu, Kementerian Agama melalui Direktorat Jaminan Kualitas Haji menegaskan bahwa proses penundaan atau pembatalan haji bagi calon haji yang mengalami kondisi kesehatan kritis akan tetap dipertimbangkan secara individual. “Tidak ada yang dipaksa untuk melanjutkan ibadah bila kesehatan tidak memungkinkan. Kami menghormati keputusan medis demi keselamatan mereka,” ujar Kepala Direktorat Jaminan Kualitas Haji, Dr. Ahmad Rizal.

Kasus dua calon haji lansia ini juga memicu diskusi publik mengenai kesiapan infrastruktur medis di daerah tujuan haji. Sumatera Utara, sebagai salah satu provinsi yang menjadi titik transit utama, telah meningkatkan kapasitas unit gawat darurat (UGD) di beberapa rumah sakit rujukan, termasuk RSUP Dr. Tahir Tengku Mansur Medan. Peningkatan fasilitas ini diharapkan dapat menampung kebutuhan medis jamaah haji dari seluruh Indonesia.

Dengan latar belakang tersebut, Kemenhaj berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama dengan otoritas kesehatan daerah, memastikan adanya tim medis standby di setiap bandara internasional, serta meningkatkan pelatihan bagi petugas kesehatan terkait penanganan jamaah haji lansia. “Kesehatan adalah prioritas utama. Kami akan terus memantau dan menyesuaikan kebijakan agar setiap jamaah dapat melaksanakan ibadah haji dengan aman dan nyaman,” tutup Dr. Hadi.

Ke depan, kedua calon haji lansia tersebut akan terus dipantau kondisinya. Jika kondisi membaik, kemungkinan mereka dapat melanjutkan rencana ibadah haji pada musim berikutnya. Namun, keputusan akhir akan tetap bergantung pada rekomendasi tim medis dan pertimbangan pribadi keluarga.

Pos terkait