123Berita – 25 April 2026 | Setelah menunggu lebih dari satu dekade, Ardi (50) akhirnya bersiap menunaikan ibadah haji pada tahun 2026. Penantian selama 13 tahun tidak mengikis semangatnya; sebaliknya, ia memanfaatkan waktu itu untuk merencanakan persiapan fisik yang matang demi menaklukkan tantangan perjalanan suci ke Tanah Suci. Dalam wawancara eksklusif, Ardi mengungkapkan bahwa keputusan untuk memulai program kebugaran intensif muncul setelah ia menyadari bahwa usia setengah abad menuntut kondisi tubuh yang lebih kuat, terutama mengingat rute peziarah yang melibatkan berjalan kaki jauh, naik gunung, dan menempuh antrian panjang di Masjidil Haram.
Program latihan Ardi dirancang bersama pelatih kebugaran berpengalaman, yang menekankan kombinasi kardio, kekuatan otot, serta fleksibilitas. Setiap minggu, ia menjalani sesi lari sejauh 8-10 kilometer, diikuti dengan latihan beban ringan untuk memperkuat otot kaki dan punggung. Selain itu, yoga dan stretching menjadi bagian rutin untuk meningkatkan kelenturan sendi, mengurangi risiko cedera, dan membantu menenangkan pikiran. Berikut rangkaian latihan yang diikuti Ardi selama tiga bulan terakhir:
- Senin & Kamis: Lari interval 5 km + latihan beban tubuh (squat, deadlift ringan, plank).
- Selasa: Yoga 60 menit fokus pada pernapasan dan fleksibilitas pinggul.
- Rabu: Jalan cepat 12 km di taman kota, dipadukan dengan latihan kardio mesin treadmill.
- Jumat: Latihan kebugaran kelompok (senam aerobik) untuk meningkatkan stamina sosial.
- Sabtu: Istirahat aktif – berenang atau bersepeda santai.
- Minggu: Evaluasi progres, pijat terapeutik, serta refleksi spiritual.
Tak hanya fisik, Ardi juga menyiapkan diri secara mental dan spiritual. Ia rutin mengikuti kajian tafsir Al‑Qur’an, memperdalam pemahaman tentang rukun haji, serta melakukan ibadah sunnah seperti shalat tahajud dan puasa sunnah Senin‑Kamis. Keluarga menjadi pilar penting dalam proses ini; istri dan dua anaknya memberikan dukungan moral, membantu menyiapkan menu makanan bergizi, serta mengatur jadwal agar tidak mengganggu kewajiban rumah tangga.
Selain latihan, Ardi memperhatikan pola makan yang seimbang. Menu harian mencakup protein tinggi (ikan, ayam, tempe), karbohidrat kompleks (beras merah, ubi), serta sayuran segar. Suplemen vitamin D dan omega‑3 ditambahkan untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh, mengingat paparan sinar matahari di Tanah Suci yang intens. Ia juga menghindari makanan berlemak berlebih dan gula berlebih, mengingat pentingnya menjaga berat badan ideal agar tidak terbebani selama melaksanakan tawaf dan sa’i.
Persiapan haji bukan sekadar tantangan fisik, melainkan juga proses introspeksi diri. Ardi menyatakan bahwa selama 13 tahun menunggu, ia belajar bersabar, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan rasa syukur yang mendalam. “Setiap langkah latihan mengajarkan saya tentang disiplin, dan setiap doa mengingatkan saya pada tujuan utama—mendekatkan diri kepada Allah,” ujarnya dengan mata berkaca‑kaca.
Dengan jadwal keberangkatan yang direncanakan pada musim haji tahun 2026, Ardi menargetkan kondisi kebugaran optimal pada bulan Ramadan 2025. Ia berharap dapat menyelesaikan semua ritual haji tanpa kelelahan berlebih, sehingga dapat melaksanakan ibadah dengan khusyuk dan penuh keikhlasan. Sebagai penutup, Ardi mengajak para calon jamaah haji untuk tidak menunda persiapan, mengingat pentingnya kesehatan tubuh sebagai sarana utama dalam menunaikan panggilan suci.
Kesimpulannya, perjalanan 13 tahun menanti Ardi berbuah manis melalui dedikasi pada persiapan haji 2026 yang meliputi latihan fisik terstruktur, pola makan seimbang, dukungan keluarga, serta pembinaan spiritual yang konsisten. Dengan tekad kuat dan persiapan matang, ia siap menapaki setiap langkah di Tanah Suci, menjadikan momen ibadah sebagai puncak kebahagiaan dan keberkahan dalam hidupnya.





