123Berita – 29 April 2026 | Alexander Andries Maramis, yang lebih dikenal dengan AA Maramis, lahir pada 7 Juni 1904 di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Keluarganya berasal dari kalangan bangsawan Minahasa‑Batak, yang memberikan ia akses pendidikan yang lebih baik pada masa kolonial Belanda. Sejak muda, Maramis menunjukkan ketertarikan pada dunia ilmu pengetahuan dan politik, dua bidang yang kelak akan menjadi landasan kontribusinya bagi kemerdekaan Indonesia.
Setelah menamatkan pendidikan dasar di sekolah pribumi, Maramis melanjutkan studi ke Hollandsche Indische School voor de rechten (HIS) di Batavia. Kesempatan belajar di Belanda pada awal 1920‑an membuka wawasan internasionalnya. Di sana, ia menempuh pendidikan di Universiteit Leiden, mengambil jurusan hukum sekaligus mengasah pengetahuan ekonomi. Pengalaman akademik di luar negeri tidak hanya memperluas jaringan, tetapi juga menumbuhkan rasa nasionalisme yang kuat, memotivasi Maramis untuk bergabung dengan organisasi pergerakan seperti Perhimpunan Indonesia.
Pada tahun 1945, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, AA Maramis telah menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha‑Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Ia aktif dalam perdebatan konstitusi, khususnya mengenai urusan keuangan negara. Keahlian hukumnya dan pemahaman ekonomi menjadi aset penting dalam merumuskan dasar‑dasar fiskal bagi bangsa yang baru lahir. Tak lama setelah proklamasi, Maramis diangkat menjadi Menteri Keuangan pertama Republik Indonesia dalam kabinet Presiden Soekarno, menandai babak baru dalam sejarah keuangan nasional.
Sebagai Menteri Keuangan pertama, Maramis dihadapkan pada tantangan luar biasa. Pemerintahan baru harus mengumpulkan dana untuk mempertahankan kemerdekaan, sekaligus menstabilkan ekonomi yang hancur pasca‑pendudukan Jepang. Maramis menyiapkan anggaran darurat, memobilisasi sumber daya alam, serta mengatur sistem perpajakan yang belum pernah ada sebelumnya. Kebijakannya menekankan pada keadilan sosial, dengan tujuan agar beban fiskal tidak memberatkan rakyat miskin.
Salah satu pencapaian paling monumental Maramis adalah peluncuran uang pertama Republik Indonesia, yang dikenal sebagai Oeang Republik Indonesia (ORI). Pada bulan Agustus 1946, di bawah arahan langsung Maramis, pemerintah mencetak mata uang kertas berdenominasi 1, 5, 10, 20, 50, dan 100 rupiah. Desain ORI menampilkan simbol‑simbol kebudayaan Indonesia, seperti padi dan kapas, serta gambar Presiden Soekarno. Proses pencetakan melibatkan kerja sama dengan percetakan Belanda dan Amerika, menandai upaya diplomatik Maramis dalam memastikan keabsahan mata uang di mata dunia internasional.
Selain mengelola keuangan domestik, AA Maramis juga berperan sebagai diplomat. Pada akhir 1947, ia ditugaskan sebagai Menteri Luar Negeri yang juga memegang jabatan Menteri Keuangan dalam delegasi ke United Nations. Di sana, Maramis berhasil menyuarakan kebutuhan finansial Indonesia kepada komunitas internasional, memperoleh bantuan ekonomi dan menggalang dukungan politik bagi pengakuan kedaulatan Indonesia. Keahlian diplomatiknya memperkuat posisi Indonesia di panggung global pada masa-masa awal kemerdekaan.
Setelah menjabat sebagai Menteri Keuangan, Maramis melanjutkan karier publiknya sebagai Duta Besar Indonesia di beberapa negara, termasuk Belgia dan Amerika Serikat. Ia juga menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dan anggota Dewan Pertimbangan Nasional (DPN). Atas jasa‑jasanya, pemerintah Republik Indonesia mengangkatnya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1961, sebuah penghargaan yang menegaskan peran sentralnya dalam pembentukan fondasi ekonomi dan politik negara.
Warisan AA Maramis tetap terasa hingga kini. Kebijakan fiskal yang berlandaskan keadilan sosial menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Uang ORI yang dirancangnya menjadi simbol kedaulatan ekonomi pertama, menandai berakhirnya ketergantungan pada mata uang kolonial. Selain itu, sikapnya yang tegas dalam diplomasi ekonomi memberikan contoh penting tentang bagaimana negara baru dapat memperjuangkan kepentingan finansialnya di arena internasional.
Kesimpulannya, AA Maramis bukan sekadar Menteri Keuangan pertama, melainkan arsitek keuangan nasional yang membangun fondasi ekonomi Indonesia melalui kebijakan inovatif, penciptaan mata uang pertama, dan diplomasi yang efektif. Perjuangannya tetap menjadi referensi utama bagi pembuat kebijakan, sejarawan, dan seluruh rakyat Indonesia yang menghargai nilai‑nilai kemerdekaan dan kemandirian ekonomi.





