123Berita – 06 April 2026 | Baby Andrew, putra bintang Instagram Erika Carlina, kembali mencuri perhatian publik pada upacara tradisional Tedak Siten di Yogyakarta. Pada kesempatan tersebut, sang anak kecil menampilkan tujuh kombinasi busana adat yang memadukan unsur Jawa dan Tionghoa, masing-masing sarat dengan simbolisme budaya yang kuat. Penampilan tersebut tidak sekadar soal estetika, melainkan menjadi wujud penghormatan terhadap warisan nenek moyang serta upaya melestarikan nilai-nilai kebersamaan antar‑budaya.
Acara Tedak Siten, yang biasanya dirayakan pada hari pertama tahun baru Jawa, merupakan ritual simbolis menapaki batu‑batu kecil (siten) sebagai harapan memperoleh keberuntungan dan kesejahteraan selama setahun ke depan. Kehadiran baby Andrew dalam balutan busana adat menambah kehangatan acara, sekaligus mengundang diskusi mengenai makna tiap elemen pakaian yang dipilih.
- Gaya 1: Kebaya Bunga Teratai dengan Motif Kembang Sepatu – Kebaya berwarna merah marun dihiasi motif teratai, simbol kemurnian dalam budaya Tionghoa, dipadukan dengan bordir kembang sepatu yang melambangkan keindahan dan kesuburan dalam tradisi Jawa. Warna merah dipercaya mengusir energi negatif, sementara teratai menegaskan harapan akan pertumbuhan spiritual.
- Gaya 2: Blangkon Mini dengan Selendang Emas – Blangkon tradisional Jawa yang diperkecil menjadi topi bayi, diletakkan bersama selendang berwarna emas yang melambangkan kemakmuran. Pada budaya Tionghoa, emas melambangkan kekayaan dan kebahagiaan keluarga, sehingga kombinasi ini menyiratkan doa untuk kesejahteraan ekonomi keluarga.
- Gaya 3: Cheongsam Mini Berwarna Biru Laut – Cheongsam, pakaian tradisional Tionghoa, dipilih dalam warna biru laut yang melambangkan kedamaian dan ketenangan. Motif awan dan ombak pada kain menambah nuansa keberanian menaklukkan tantangan hidup, sekaligus menegaskan identitas Tionghoa di tengah keragaman.
- Gaya 4: Batik Kawung dengan Sash Merah – Batik kawung, motif melingkar yang melambangkan kebulatan hati dan persatuan, dipadukan dengan sash berwarna merah pekat. Sash tersebut berfungsi sebagai simbol ikatan kuat antara generasi lama dan baru, menegaskan harapan agar nilai‑nilai tradisional tetap terjaga.
- Gaya 5: Sepatu Bulu Merah dengan Ornamen Bintang – Sepatu kecil berlapis bulu merah menonjolkan kehangatan dan kebahagiaan. Ornamen bintang pada sisi sepatu melambangkan harapan agar bayi selalu diberkati dengan cahaya keberuntungan, sebuah motif yang umum dalam upacara Tionghoa.
- Gaya 6: Kaos Kaki Kain Tenun dengan Motif Naga – Kaos kaki terbuat dari tenun tradisional Jawa yang menampilkan motif naga Tionghoa. Naga dalam budaya Tionghoa adalah simbol kekuatan, kebijaksanaan, dan perlindungan. Memakai motif ini di kaki bayi diharapkan dapat menularkan energi positif dan perlindungan pada setiap langkah pertumbuhannya.
- Gaya 7: Kerudung Songket Mini dengan Manik-manik Emas – Kerudung songket berwarna krem dengan anyaman manik‑manik emas menambah kilau elegan pada penampilan. Songket, warisan budaya Indonesia, melambangkan kemakmuran, sementara manik‑manik emas menegaskan harapan akan masa depan yang bersinar.
Setiap gaya tidak hanya sekadar pilihan estetika, melainkan juga menyampaikan pesan mendalam. Warna merah, misalnya, konsisten muncul dalam lima dari tujuh penampilan, menandakan keinginan kuat orang tua untuk melindungi anaknya dari energi negatif serta mengundang rezeki melimpah. Begitu pula motif bunga teratai dan naga, yang masing‑masing melambangkan kemurnian spiritual dan kekuatan perlindungan.
Penggabungan elemen Jawa dan Tionghoa dalam satu tampilan menegaskan identitas multikultural Indonesia. Erika Carlina, yang dikenal aktif mempromosikan nilai‑nilai budaya lewat media sosial, menyatakan bahwa pilihan busana tersebut merupakan upaya menumbuhkan rasa bangga pada warisan budaya sejak dini. Ia berharap bahwa penampilan Andrew dapat menginspirasi orang tua lain untuk memperkenalkan simbol‑simbol tradisional kepada generasi muda.
Selain nilai simbolik, penampilan baby Andrew juga memperlihatkan tren fashion anak yang semakin mengedepankan keunikan budaya. Desainer lokal yang menggarap pakaian tersebut berhasil memadukan teknik tradisional seperti batik, songket, dan tenun dengan pola modern, menjadikan setiap potongan pakaian tidak hanya layak dipakai pada upacara adat, namun juga cocok untuk foto‑foto keluarga di era digital.
Reaksi publik pun tak kalah positif. Netizen memuji kreativitas dan keanggunan penampilan Andrew, sekaligus menyoroti pentingnya melestarikan budaya dalam kehidupan sehari‑hari. Beberapa komentar menekankan bahwa melalui busana, generasi muda dapat belajar menghargai keragaman sekaligus memperkuat rasa kebangsaan.
Dengan tujuh gaya yang penuh makna ini, baby Andrew tidak hanya menjadi pusat sorotan visual, tetapi juga simbol harapan akan kelangsungan tradisi di tengah arus modernisasi. Penampilannya di Tedak Siten menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat dihidupkan kembali lewat sentuhan kreatif, sekaligus menegaskan peran penting keluarga dalam menularkan nilai‑nilai luhur kepada anak‑anaknya.
Secara keseluruhan, tampilan busana adat Jawa‑Tionghoa baby Andrew mengajarkan bahwa fashion dapat menjadi media edukatif, mempererat hubungan lintas generasi, dan menumbuhkan kebanggaan akan identitas budaya Indonesia yang kaya. Dengan dukungan orang tua dan masyarakat, harapan akan kelestarian nilai‑nilai tradisional semakin kuat, menjadikan setiap langkah kecil Andrew sebagai jejak langkah besar bagi pelestarian warisan budaya bangsa.





