Waspada Penyakit Jantung Bawaan yang Dapat Menghambat Tumbuh Kembang Anak

Waspada Penyakit Jantung Bawaan yang Dapat Menghambat Tumbuh Kembang Anak
Waspada Penyakit Jantung Bawaan yang Dapat Menghambat Tumbuh Kembang Anak

123Berita – 09 April 2026 | Jakarta – Pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi indikator utama dalam menilai kesehatan secara menyeluruh. Banyak orang tua khawatir ketika berat badan si kecil sulit naik atau ketika percepatan pertumbuhan terasa lebih lambat dibandingkan teman sebaya. Salah satu penyebab yang kerap terlewatkan adalah penyakit jantung bawaan (PJB), kondisi kelainan struktural atau fungsional jantung yang sudah ada sejak dalam kandungan.

Dr. Putri Reno Indrisia, Sp.JP, FIHA, CCK, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di Bethsaida Hospital Gading Serpong, menjelaskan bahwa anak dengan PJB memerlukan lebih banyak kalori untuk mempertahankan fungsi jantung dan proses pernapasan. Beban kerja jantung yang meningkat menyebabkan tubuh mengonsumsi energi ekstra, sehingga berat badan sulit naik dan pertumbuhan dapat terhambat.

Bacaan Lainnya

Secara umum, penyakit jantung bawaan dibagi menjadi dua kelompok utama. Kelompok pertama adalah PJB non-sianotik, yang berarti kadar oksigen dalam darah masih memadai sehingga anak tidak menunjukkan warna kebiruan. Contoh umum meliputi kelainan sekat jantung seperti Atrial Septal Defect (ASD) dan Ventricular Septal Defect (VSD). Kelompok kedua adalah PJB sianotik, tipe yang lebih serius karena terjadi pencampuran darah kaya oksigen dengan darah rendah oksigen, mengakibatkan tubuh kekurangan oksigen. Ciri khasnya meliputi bibir, lidah, atau ujung jari yang tampak kebiruan, terutama saat anak menangis atau lelah. Contoh kondisi sianotik meliputi Tetralogy of Fallot (ToF) dan transposisi pembuluh darah besar.

Gejala PJB dapat muncul sejak masa bayi, namun ada pula yang baru terlihat ketika anak beranjak usia lebih tua. Berikut adalah gejala yang perlu diwaspadai:

  • Pada bayi: menyusu terputus‑putus, keringat berlebih saat menyusu, berat badan sulit naik, infeksi saluran pernapasan berulang termasuk pneumonia, serta bibir atau ujung jari kebiruan.
  • Pada anak yang lebih besar: mudah lelah saat bermain, pertumbuhan lebih lambat, nyeri dada atau jantung berdebar, ujung jari membulat (clubbing finger), dan kebiruan pada bibir saat kelelahan.

Deteksi dini menjadi kunci utama dalam penanganan PJB. Proses diagnostik biasanya dimulai dengan pemeriksaan fisik seperti auskultasi untuk mendengarkan bunyi jantung, serta pulse oximetry untuk mengukur saturasi oksigen. Selanjutnya, pemeriksaan elektrokardiogram (EKG), rontgen dada, dan echocardiography (USG jantung) menjadi standar utama untuk menilai struktur dan fungsi jantung secara detail. Jika diperlukan, pemeriksaan lanjutan seperti CT scan, MRI jantung, atau kateterisasi jantung dapat dilakukan untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.

Setelah diagnosis ditegakkan, penanganan disesuaikan dengan tingkat keparahan dan jenis kelainan. Pilihan terapi meliputi pemberian obat untuk mengurangi beban kerja jantung, prosedur intervensi non‑bedah seperti pemasangan balon atau stent, hingga operasi korektif untuk memperbaiki struktur jantung yang abnormal. Keberhasilan intervensi sangat bergantung pada deteksi awal serta kesiapan fasilitas medis yang mendukung.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menegaskan komitmen rumah sakit dalam menyediakan layanan jantung terintegrasi, mulai dari skrining dini hingga penanganan lanjutan dengan teknologi modern dan tim dokter berpengalaman. Menurutnya, kesadaran masyarakat tentang pentingnya memantau pertumbuhan anak dan mengenali tanda‑tanda awal PJB dapat mempercepat rujukan ke fasilitas kesehatan yang tepat.

Orang tua disarankan untuk rutin memantau pola makan, berat badan, serta tingkat energi anak. Jika terdapat gejala yang mencurigakan, konsultasi segera ke dokter anak atau spesialis jantung sangat dianjurkan. Pemeriksaan rutin pada usia dini dapat mengidentifikasi kelainan sebelum komplikasi serius muncul, sehingga intervensi dapat dilakukan pada tahap yang lebih menguntungkan bagi pertumbuhan optimal anak.

Secara keseluruhan, penyakit jantung bawaan bukan hanya masalah kardiovaskular semata, melainkan faktor yang berpotensi menghambat seluruh aspek tumbuh kembang anak. Dengan pemahaman yang tepat, deteksi dini, dan penanganan yang terkoordinasi, harapan untuk anak-anak yang mengalami PJB dapat meningkat secara signifikan, memungkinkan mereka tumbuh sehat dan beraktivitas maksimal.

Pos terkait