123Berita – 09 April 2026 | Sejumlah video pendek yang diunggah ke platform media sosial menampilkan tiga pria asal Makassar mengkonsumsi oli mesin dalam jumlah yang cukup signifikan. Mereka mengklaim bahwa tindakan tersebut dapat menambah stamina, menghilangkan rasa pegal, serta menyembuhkan berbagai keluhan tubuh lainnya. Video‑video tersebut dengan cepat menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen, memicu gelombang komentar, kritik, dan peringatan dari kalangan medis.
Dalam klip pertama, seorang pria berusia sekitar 30‑an meneguk oli dari botol berwarna kuning terang sambil mengucapkan, “Ini bikin badan kuat, pegal‑pegal hilang semua.” Rekaman selanjutnya menampilkan dua orang lainnya yang melakukan hal serupa, sambil menyebutkan bahwa oli tersebut dapat meningkatkan energi dan memperbaiki kondisi otot setelah beraktivitas berat. Meskipun aksi tersebut tampak mengundang tawa, banyak pengguna internet yang menyatakan keprihatinan atas potensi bahaya kesehatan yang mungkin timbul.
Para ahli kesehatan menegaskan bahwa oli mesin bukanlah bahan yang layak dikonsumsi manusia. Oli motor, baik yang berbasis mineral maupun sintetik, mengandung zat kimia beracun seperti hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), logam berat, serta bahan aditif yang dirancang khusus untuk pelumasan mesin. Konsumsi zat‑zat tersebut dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan, keracunan hati, gangguan ginjal, bahkan kerusakan sistem saraf pusat bila terakumulasi dalam jangka panjang.
“Mengonsumsi oli motor sama saja dengan menelan bahan kimia berbahaya yang tidak pernah dirancang untuk masuk ke tubuh manusia,” ujar Dr. Siti Nuraini, dokter spesialis penyakit dalam di RSUD Makassar. “Gejala awal yang mungkin muncul meliputi mual, muntah, diare, hingga nyeri perut. Jika zat‑zat tersebut terserap ke dalam aliran darah, konsekuensinya bisa lebih serius, termasuk kerusakan organ vital.”
Selain risiko kesehatan, fenomena ini juga menimbulkan pertanyaan tentang motivasi di balik aksi tersebut. Beberapa netizen berspekulasi bahwa para pelaku mungkin terpengaruh oleh mitos tradisional atau rekomendasi tidak berdasar yang tersebar di forum‑forum online. Ada pula yang menduga aksi ini merupakan bagian dari tren “challenge” yang kerap muncul di media sosial, di mana peserta berusaha menarik perhatian dengan melakukan tindakan ekstrim.
Untuk mencegah penyebaran informasi menyesatkan, Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Pengendalian Penyakit Menular dan Tidak Menular mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka menekankan pentingnya memverifikasi sumber informasi sebelum mempraktikkan sesuatu yang belum terbukti secara ilmiah. Berikut poin‑poin utama yang disarankan publik:
- Jangan mengonsumsi produk yang tidak ditujukan untuk konsumsi manusia, termasuk oli, bahan bakar, atau pelumas lainnya.
- Jika mengalami pegal linu atau kelelahan, konsultasikan dengan tenaga medis profesional untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
- Hindari menyebarkan klaim kesehatan yang tidak memiliki dasar ilmiah, terutama di platform publik.
- Gunakan sumber informasi yang kredibel, seperti situs resmi lembaga kesehatan atau publikasi jurnal medis.
Pihak kepolisian setempat juga menerima sejumlah laporan terkait potensi penjualan atau distribusi oli yang dipromosikan sebagai “obat stamina”. Sampai saat ini, belum ada bukti kuat bahwa ada pihak yang secara komersial memasarkan oli tersebut sebagai suplemen kesehatan. Namun, aparat tetap mengawasi perkembangan situasi untuk mencegah praktek penipuan atau penyebaran produk berbahaya.
Di sisi lain, fenomena viral ini mencerminkan dinamika budaya konsumsi informasi di era digital. Kecepatan penyebaran video pendek, ditambah dengan algoritma yang memprioritaskan konten provokatif, membuat klaim‑klaim yang tidak berdasar dapat menjangkau ribuan, bahkan jutaan penonton dalam waktu singkat. Hal ini menuntut peran aktif dari semua pihak—media, platform digital, serta masyarakat—untuk meningkatkan literasi digital dan kesehatan.
Para pengamat media sosial menilai bahwa tren seperti ini bukan hal baru. “Kita sering melihat tantangan berbahaya yang melibatkan konsumsi benda‑benda tidak layak, mulai dari meminum air berwarna atau menelan benda asing,” kata Budi Santoso, analis media digital. “Yang membedakan kali ini adalah klaim kesehatan yang lebih spesifik, yang berpotensi menimbulkan kerugian lebih serius bagi individu yang mencoba meniru aksi tersebut.”
Secara keseluruhan, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa tidak semua informasi yang beredar di dunia maya dapat dipercaya. Kewaspadaan, edukasi, dan verifikasi fakta menjadi kunci utama untuk melindungi diri dari bahaya yang tidak terlihat.
Dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan, diharapkan masyarakat dapat menolak godaan tren yang mengedepankan sensasi di atas keselamatan. Pemerintah, lembaga kesehatan, serta platform media sosial diharapkan terus berkolaborasi untuk menyaring dan menanggapi konten berbahaya secara cepat, sehingga fenomena serupa tidak lagi mengancam kesehatan publik.