123Berita – 13 April 2026 | Bandar Gaza semakin terpuruk dalam krisis kemanusiaan setelah terungkapnya pelanggaran gencatan senjata yang disepakati antara Hamas dan Israel. Data terbaru menunjukkan pasokan tepung di Jalur Gaza hanya mencapai 200 ton per hari, jauh di bawah kebutuhan minimum sebesar 450 ton harian yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok penduduk. Kekurangan ini menempatkan lebih dari dua juta jiwa di ambang kelaparan massal, sekaligus memicu tuduhan internasional bahwa Israel secara sengaja mengatur krisis pangan sebagai taktik perang.
Gencatan senjata yang ditandatangani pada akhir Mei lalu seharusnya menjamin aliran bantuan kemanusiaan, termasuk bahan pangan, ke wilayah yang telah lama terkepung. Namun, laporan dari organisasi bantuan dan saksi mata di lapangan mengindikasikan bahwa Israel telah menurunkan intensitas serangan udara namun tetap menahan akses logistik penting. Penutupan jalur darat utama, pembatasan penerbangan bantuan, serta penundaan pengiriman barang kritis menambah beban pada sistem distribusi yang sudah rapuh.
| Kebutuhan Harian | Pasokan Aktual | Defisit |
|---|---|---|
| 450 ton | 200 ton | 250 ton |
Situasi ini memperparah tekanan pada pasar informal yang kini menjadi satu-satunya alternatif bagi warga Gaza. Harga tepung melambung hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan periode sebelum konflik, menjadikan roti hampir tidak terjangkau bagi keluarga berpendapatan rendah. Para pedagang melaporkan kelangkaan bahan baku, sementara para ibu rumah tangga terpaksa mengurangi porsi atau beralih ke bahan pengganti yang kurang bernutrisi.
Pihak Israel membela tindakannya dengan mengklaim bahwa blokade tersebut diperlukan untuk mencegah penyelundupan senjata ke tangan Hamas. Namun, kritikus menilai alasan tersebut sebagai kedok bagi kebijakan yang memicu kelaparan. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dalam pernyataannya menegaskan bahwa penggunaan kelaparan sebagai senjata perang merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional. Guterres menuntut agar Israel segera membuka semua jalur bantuan kemanusiaan dan menghentikan segala bentuk pembatasan yang dapat memperburuk krisis pangan.
Organisasi non‑pemerintah (NGO) yang beroperasi di Gaza, termasuk Palang Merah Internasional dan Médecins Sans Frontières, mengingatkan bahwa kegagalan memenuhi kebutuhan dasar makanan dapat memicu gelombang penyakit menular, memperparah beban layanan kesehatan yang sudah tertekan. Mereka memperkirakan bahwa dalam dua minggu ke depan, tingkat malnutrisi akut dapat meningkat hingga 30 persen jika pasokan tepung tidak dipulihkan.
Di tengah tekanan internasional, pemerintah Israel tetap menolak tuduhan manipulasi pangan. Menteri Pertahanan Israel menegaskan bahwa semua bantuan yang masuk telah melalui inspeksi ketat untuk mencegah penyalahgunaan. Namun, data lapangan menunjukkan bahwa proses pemeriksaan tersebut memakan waktu berhari‑hari, mengakibatkan penundaan kritis dalam distribusi. Sementara itu, Hamas menuduh Israel melakukan “rekayasa kelaparan” sebagai upaya memaksa penduduk Gaza menyerah tanpa pertempuran lebih lanjut.
Ketegangan politik ini menambah kompleksitas penyelesaian konflik. Sementara negara‑negara Barat cenderung menyeimbangkan antara mendukung keamanan Israel dan menyoroti pelanggaran hak asasi manusia, negara-negara Arab dan Turki secara vokal menuntut gencatan senjata yang sesungguhnya dan penyaluran bantuan tanpa hambatan. Pada Sidang Majelis Umum PBB pekan ini, resolusi yang menuntut pembukaan jalur bantuan penuh dihadapkan pada veto, memperpanjang kebuntuan diplomatik.
Dengan situasi yang terus memburuk, para analis kebijakan memperingatkan bahwa kelaparan massal dapat berujung pada kerusuhan sosial di dalam Gaza, meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas. Oleh karena itu, komunitas internasional diimbau untuk mengambil langkah konkret: mengamankan jalur logistik, meningkatkan volume bantuan makanan, dan menegakkan mekanisme pengawasan independen yang transparan.
Secara keseluruhan, kegagalan memenuhi kebutuhan dasar seperti tepung menandai titik kritis dalam krisis kemanusiaan Gaza. Tanpa intervensi yang cepat dan efektif, potensi kelaparan massal tidak hanya mengancam kesehatan jutaan warga, tetapi juga dapat memperpanjang siklus penderitaan yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.