123Berita – 04 April 2026 | Pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Lebanon (UNIFIL) menyelenggarakan upacara penghormatan terakhir bagi tiga anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang gugur saat menjalankan misi perdamaian di wilayah selatan Lebanon. Upacara yang dilaksanakan pada hari Senin, 1 April 2024, menandai momen duka sekaligus penghargaan atas pengorbanan prajurit Indonesia dalam upaya menegakkan keamanan regional.
Ketiga prajurit TNI, yaitu Sersan Anton Prasetyo (Korps Infanteri), Sersan Riza Maulana (Korps Lintas Udara), dan Sersan Yudi Haryanto (Korps Marinir), tewas akibat serangan artileri yang dilancarkan oleh pasukan Israel pada tanggal 28 Maret 2024. Serangan tersebut menimpa pos penjagaan UNIFIL yang dikelola oleh TNI di daerah perbatasan selatan Lebanon, tepatnya di wilayah Bekaa. Penembakan itu menewaskan tidak hanya tiga prajurit TNI, tetapi juga beberapa anggota pasukan penjaga lainnya, termasuk personel dari militer Lebanon.
Upacara penghormatan dihadiri oleh perwakilan UNIFIL, pejabat Kedutaan Besar Indonesia di Beirut, serta perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri. Juru bicara UNIFIL, Col. Jean-Michel Soudan, menyampaikan rasa hormat mendalam dan menegaskan komitmen misi perdamaian untuk terus melindungi warga sipil di wilayah konflik. “Kami berduka atas kehilangan tiga sahabat kami yang berjuang demi keamanan bersama. Mereka adalah contoh keberanian dan dedikasi yang tak tergantikan,” ujar Soudan.
Dalam sambutannya, Duta Besar Indonesia untuk Lebanon, Ibu Siti Nurhaliza, menyoroti pentingnya peran TNI dalam misi perdamaian internasional. Ia menambahkan bahwa kematian para prajurit tidak akan sia-sia, melainkan menjadi inspirasi bagi generasi penerus untuk terus berbakti pada negara dan dunia. “Kami menghargai pengorbanan mereka sebagai wujud solidaritas Indonesia dalam menjaga perdamaian global. Kami berjanji akan terus mendukung pasukan kami di medan internasional,” tuturnya.
Serangan Israel yang menewaskan tiga prajurit TNI itu terjadi di tengah ketegangan yang meningkat setelah serangkaian insiden tembak-menembak di perbatasan Lebanon-Israel. UNIFIL, yang dibentuk pada tahun 1978, memiliki mandat untuk mengawasi gencatan senjata, membantu pengembalian pengungsi, serta menegakkan zona penyangga aman. Kejadian ini menambah daftar korban jiwa di antara pasukan penjaga damai, termasuk tentara Amerika Serikat, Prancis, Italia, dan negara anggota lainnya.
Berbagai organisasi hak asasi manusia menilai bahwa serangan artileri yang menargetkan pos UNIFIL melanggar hukum humaniter internasional, yang melarang serangan terhadap personel non-kombatan. Namun, pihak Israel belum memberikan keterangan resmi terkait insiden tersebut, menyebutkan bahwa serangan itu merupakan respons terhadap aktivitas militan di wilayah yang sama.
Setelah upacara, jenazah tiga prajurit TNI dikirim kembali ke Indonesia melalui jalur diplomatik, dan proses pemakaman nasional direncanakan akan dilaksanakan di Taman Makam Pahlawan, Jakarta, pada akhir pekan mendatang. Pemerintah Indonesia telah menyiapkan penghormatan militer serta upacara kenegaraan untuk mengenang jasa-jasanya.
Kasus ini menimbulkan pertanyaan besar tentang keamanan pasukan perdamaian di zona konflik yang terus bergejolak. Pakar keamanan internasional, Dr. Ahmad Fauzi, mengingatkan pentingnya penegakan aturan perjanjian gencatan senjata secara ketat, serta perlunya dialog multilateral yang melibatkan semua pihak terkait untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia menyampaikan rasa duka yang mendalam melalui media sosial. Ribuan warga mengirimkan pesan dukungan kepada keluarga korban, menekankan rasa hormat dan kebanggaan atas pengabdian mereka. Sebuah grup dukungan online bahkan menggalang dana untuk membantu keluarga prajurit yang ditinggalkan.
Ke depan, UNUNIFIL berjanji akan meninjau prosedur keamanan pos penjagaan dan meningkatkan koordinasi dengan semua pihak yang terlibat, termasuk otoritas Lebanon dan Israel, untuk menghindari tragedi serupa. Sementara itu, pemerintah Indonesia menegaskan komitmen untuk tetap berpartisipasi dalam misi perdamaian PBB, mengingat peran strategis TNI dalam memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang bertanggung jawab secara global.
Penghormatan yang diberikan UNIFIL kepada tiga prajurit TNI bukan hanya sekadar ritual, melainkan simbol solidaritas internasional dalam menghadapi ancaman kekerasan. Kasus ini juga mengingatkan dunia akan risiko tinggi yang dihadapi pasukan perdamaian, serta pentingnya upaya diplomatik untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua pihak.